
Tanganku mulai berkeringat... deg deg deg... rasanya kakiku lemas dan aku takut, tak terasa bulir-bulir air pun mulai menggenang di pelupuk mata.
Aku merasakan tangan hangat bapak menyentuh pundakku lalu tampak wajah beliau yang tersenyum lalu menganggukkan kepala, sambil mengucapkan basmallah, "Bismillah Irwan, anak islam harus kuat dan berani" senyum beliau yang otomatis meluruhkan semua bulir-bulir air mataku, emak memeluk ku dari samping sambil berbisik "nanti Irwan dapat hadiah seperti Asep, tuh" (sambil menunjuk Asep yang sudah membawa tas dan kotak sepatu)
Aku pun teringat saat awal masuk sekolah, semua anak memakai seragam, tas, dan sepatu baru. Hanya beberapa anak saja yang tampak mengenakan seragam lama, bekas saudara-saudara mereka, seperti aku. Pakaian seragam yang ku pakai adalah pemberian dari saudara sepupu aku yang tinggal di kota, begitu juga dengan tas dan sepatu, karena bapak masih belum punya sawah sendiri, dan kami hanya cukup untuk bisa makan sehari-hari dengan lauk tempe goreng.
(Alhamdulillah nanti Irwan punya tas dan sepatu baru, semoga nanti sunatnya nggak sakit.. aamiin) do'aku dalam hati dan memantapkan diri agar berani di sunat.
Aku berjalan beriringan dengan bapak dan emak, kami bergandengan tangan, sesekali bapak meremas pelan tangan kananku sambil berucap "Bismillah ya"
__ADS_1
Aku pun menganggukkan kepala dan mengikuti ucapannya "iya, bismillah"
Aku memasuki ruangan, ku lihat ada anak sebayaku yang juga masuk ruangan itu bersama bapak mereka, sedangkan para emak-emak hanya mengantar sampai di depan pintu. Saat sampai di depan pintu, aku menyalami emak, mencium punggung tangan emak sambil meneteskan air mata, emak pun lalu memelukku dan duduk berjongkok hingga sepadan dengan tinggi badanku.
"Irwan anak emak yang paling hebat dan berani di sunat, benar?" ucap emak sambil melihat jauh ke dalam mataku, berharap agar aku mendapat keberanian yang hakiki.
Aku lalu mengusap jejak air mata ku dan menganggukkan kepala, menyatakan kepada emak jika aku pasti berani. Kami pun berpelukan kembali sejenak.
Bapak memelukku sambil memegang kedua tangan ku yang di dekapkan di atas dadaku, lalu berbisik "Bismillahirohmanirahiim" aku juga mengikuti ucapannya.
__ADS_1
"Anak bagus, anak ganteng, anak cakep nanti harus berani ya, nggak usah takut, nanti ada sakit sedikit seperti digigit semut tapi ditahan ya, harus kuat ya?" ucap perawat itu, dan memang ada terasa sakit seperti yang diucapkannya, saat aku mulai bertanya dalam hati (aduh apa itu tadi kok beneran seperti digigit semut rang-rang) Aku juga mengerutkan kedua alisku. Namun perawat cantik itu berkata lagi, dia menanyakan siapa namaku, umur berapa sekarang, sudah sekolah apa belum, sekolah dimana. Tak sadar akupun bercerita dan menjawab semua pertanyaan dari perawat cantik itu, setelah menjawab semuanya terdengar suara berat seorang laki-laki yang bukan suara bapakku,
"Alhamdulillah sudah selesai pak, mas Irwan anak hebat ya, sunatnya sudah selesai. Ini nanti ada obat diminum sehari 3 kali setelah makan" ucap seorang laki-laki yang memakai baju dokter dengan warna hijau muda dengan penutup rambut yang berwarna sama, yang mirip gambar seorang dokter...
(Lo? kok dokter? kok sudah?) Aku pun mengernyitkan kedua alisku lagi, dan tanpa diminta pun mereka tersenyum, lalu perawat cantik itu menjelaskan jika sunatnya sudah selesai dan sudah berhasil, dia bilang aku anak yang hebat karena tidak takut dan tidak menangis saat di sunat.
Saking tidak percayanya, aku kemudian berusaha untuk bangun dan dibantu bapak, aku bangun dan turun dari tempat tidur tadi. Memang ada rasa kebas di area bagian bawahku. Aku pun melihat ke bawah namun karena tertutup sarung sehingga tak terlihat bagaimana kondisinya, spontan akupun bertanya kepada bapak, "Pak, apa burungku sudah hilang? Nanti kalo mau pipis gimana?" tanyaku polos sambil melihat ke bawah lagi.
Bapak, perawat cantik dan dokter langsung tertawa mendengar pertanyaanku. Lalu pak dokter menjelaskan dengan gambar, yang pasti burungnya masih aman dan nanti makin cantik karena sudah dipotong rapih. Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala, berpamitan dan berterima kasih dengan pak dokter juga mbak perawat cantik yang kemudian memberikan tas serta kotak sepatu dengan sepatu yang seukuran dengan ukuran kakiku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, makasih pak dokter dan mbak perawat" ucap kami sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Begitulah ceritanya, kenangan yang tak pernah ku lupakan. Tepat di hari ulang tahunku yang ke 7, aku disunat dan mendapat banyak hadiah, bahkan ada yang memberi baju seragam sekolah yang baru. Aku berjanji setelah ini sholatku sudah jadi tanggung jawab ku. Dosa dan pahala ku sudah harus aku pikul sendiri, seperti apa yang sudah bapak ajarkan.