
Setelah sholat subuh berjamaah, kami lanjut menuju ke rumah untuk meletakkan sarung dan sajadah serta mukenah emak.
Warti dan Warta juga menitipkan peralatan sholatnya, lalu memberikan roti bakar buatan mamanya.
Setelah itu bapak mengajak untuk senam pemanasan diawali dengan bismillah lalu merentangkan kedua tangan sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Kemudian lanjut dengan beberapa gerakan senam untuk melemaskan otot tangan dan kaki.
Kami mengikuti gerakan bapak, kemudian berlanjut berlari kecil. Bapak jauh berada di depan diikuti Warta juga emak, sedangkan aku berada di belakang Warti berjaga-jaga jika dia tidak kuat.
Yaaaahhh memang dia sama sekali tidak kuat berlari, dia hanya mampu berjalan cepat dengan posisi badan yang membungkuk. Aku langsung menghampirinya, menoel pundaknya sambil menegapkan badan agar dia mengikuti petunjukku.
Ku lihat Warti mengikutiku dan tidak berjalan sambil membungkuk lagi. Akupun tersenyum lalu menunjuk mulutku dengan satu tanganku menaikkan tangan dengan menunjuk hidung dan menurunkan tangan dengan menunjuk mulut sambil menghembuskan udara lewat mulut.
Alhamdulillah Warti mengikuti lagi instruksiku, meskipun terlihat seperti kesusahan dan akhirnya menggunakan mulut untuk bernafas.
Sesekali Warti berhenti dan saat akan terbatuk, aku melarangnya. "Jangan dibatukkan, tolong ditahan, atur nafas, jangan panik. Ayo kamu bisa War, ambil nafas dari hidung keluarkan dari mulut. Jika haus ini ada air minum tadi aku bawa air putih hangat biar nafas kamu plong. "
Setelah merasa sedikit tenang, Warti bertanya kenapa harus air putih hangat karena dia tidak suka dengan air putih apalagi hangat.
Akupun tersenyum lalu berkata "Emak bilang air putih hangat itu bagus untuk tubuh, bisa menggelontor lemak juga jadi bagus buat anak perempuan biar gak tambun perutnya."
Reflek Warti pun menyentuh perutnya lalu segera minum air putih hangat dari botol langsung 3 tegukan.
"Pintar, anak baik ayo lanjut lagi atau kita balik duluan? Nanti kan ada ujian kamu sudah siap?"
"Balik saja ya mas, Warti dah capek, besok lagi, takut tenaganya habis jadi gak bisa ngerjakan soal-soal ulangan."
__ADS_1
"Oke siyyaapp tuan putri, mari kita kembali."
Warti pun tersipu malu lalu memukulku pelan
"Ah mas Irwan bisa aja."
Kami berdua kembali ke rumah duluan, setelah sampai di rumah aku menyuruh Warti untuk menyelonjorkan kakinya ketika duduk. Setelah itu aku menawarkan minum lagi padanya. Lalu menghabiskan minum sisanya.
Tak berapa lama bapak dan Warta datang, sedangkan emak mungkin masih berbelanja di pasar.
Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan air putih yang masih hangat.
Tiap pagi memang di rumah selalu ada air putih hangat, karena kami masih memakai air sumur yang di rebus untuk minuman sehari-hari.
Hampir sama dengan Warti, Warta pun bertanya mengapa airnya hangat apa tidak ada yang dingin? Apa boleh minta dibuatkan teh hangat saja kan lebih enak?
"Uhh gak enak om, rasanya malah bikin hauuuss."
"Justru itu tandanya di rongga mulut kamu banyak lendirnya jadi ketika diberi air putih hangat rasanya seperti itu, nanti kalau sudah bersih akan terbiasa, dan perut jemblung kamu juga bisa kempes. Coba lihat perut om, dulu ada roti sobek disini, sekarang tinggal 2 hahahaha."
Kami pun tertawa bersama.
"Waaaahh keren perutnya om, beneran dulu bisa kotak-kotak? Warta mau om, ajarin ya om, biar Warta tambah keren."
"Aturan pertamanya kurangi minum air dingin, air dalam kulkas, air es. Sanggup?"
"Entahlah om, itu kesukaanku semua. Semoga aku bisa ya om"
__ADS_1
"Besok olahraga lagi nggak War?"
"Iya dong om, kan Warta pingin punya perut roti sobek. Nanti Warta janji target terpenuhi dalam 1 bulan"
"Bagus bagus, kamu gimana Warti? Masih kuat? Apa sudah kapok?"
"Enggak kapok om, Warti juga besok mau olahraga lagi, semoga ada peningkatan."
"Aamiin" ucap kami serentak
Memang si kembar ini berbeda, yang satu lemah gemulai dan satunya tegas percaya diri. Dan mereka sepertinya anak-anak yang baik nggak seperti aku dulu waktu masih seusia mereka, sukanya bantah semaunya.
Ahh aku jadi malu sendiri mengingat diriku dulu yang sering sekali dipanggil geblek. Ya memang gak salah mereka memanggilku begitu, dulu aku bodoh dan masa bodo yang penting hepi, gak perduli salah atau tidak, kelewatan emang pede nya.
Semoga hari esok akan lebih baik lagi dari hari ini.
Itulah target ku. Mudahkanlah ya Robb. Aamiin.
.
.
...****************...
Maaf semuanya, lama belum update karena masih dalam mode halal bi halal. Saya ucapkan dengan penuh kerelaan hati untuk memohon maaf sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang tidak sesuai dengan pembaca yang budiman. Mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faidzin yaa.
Selamat merayakan Idul Fitri 1444H πππ
__ADS_1