Kata Sandi

Kata Sandi
14


__ADS_3

Setelah sholat subuh berjamaah, dzikir dan berdoa, aku dan bapak pergi menuju ke luar masjid dengan membawa sajadah yang sudah terlipat rapih dan ditaruh menggantung di punggung leherku, sedangkan bapak sajadahnya menggantung di lengan tangan kirinya.


Setelah mengenakan sendal, kami menuju ke gerbang masjid. Disana sudah nampak emak dan warti menunggu sambil berbincang-bincang.


(Warti... anak itu makin lama makin cantik, semoga saudara kembarnya mau diajak sholat subuh berjamaah) batinku saat melihat Warti yang tersenyum dan melambaikan tangannya saat melihatku.


"Mas Irwan, kata emak nanti kamu ikut bapak antar bulek santi ya? Padahal aku mau minta diajarin em te ka (matematika)" ucap Warti saat aku sudah sampai di gerbang, sementara aku sedang menyalami emak mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Irwan nggak usah ikut ya, kasihan itu Warti nggak ada yang ngajarin em te ka nya, lagian motor bapak mana muat kalo Irwan duduk di depan, kan Irwan sudah besar." Ucap emak memberi dukungan penuh pada Warti.


Aku hanya melihat ke arah bapak, meminta saran padanya dengan kode mata dan sedikit menaikkan dagu ku. Seakan tahu apa yang aku ucapkan, bapak pun menjawab "Ya sudah, Irwan di rumah saja belajar yang rajin ya, kan besok mau ada ulangan. Dikerjakan semua soal-soal yang ada di el ka es (LKS) di kertas, nanti dikoreksi bapak setelah bapak pulang. Oke?"


"Alhamdulillah, oke pak, makasih ya pak." Ucap Warti senang, padahal yang diajak bicara aku tapi yang menjawab malah Warti πŸ€¦β€β™‚οΈ haisss sudahlah tidak apa-apa, aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.

__ADS_1


Warti lalu segera berpamitan hendak membantu ibunya terlebih dahulu, nanti jam 7 Warti ke rumahku lagi sambil membawa buku-bukunya.


"Assalamu'alaikum " ucap kami bersama saat sudah tiba di depan rumah, lalu emak membukakan pintu dan kemudian menjawabkan salam kami semua tadi, "Wa'alaikumsalam".


Nampak aneh memang, tapi itu s5udah jadi kebiasaan bagi kami jika hendak memasuki rumah, bukan hanya rumah sendiri namun rumah? atau di tempat-tempat lain juga.


Mengapa?? Bapak pernah bilang jika kita hidup di dunia ini tidak sendiri, ada makhluk Allah yang lainnya juga yang tak kasat mata, jadi sebaik-baiknya seorang muslim hendaknya mengucapkan salam ketika hendak memasuki suatu tempat.


Aku dan bapak lalu meletakkan sajadah dan sarung di mushola, sedangkan emak yang sudah masuk dahulu tadi sudah meletakkan sajadah yang terlipat bersama mukenahnya di mushola langsung menuju ke dapur.


Aku mengambil sapu yang tergantung di pinggir kayu, lalu menyapu rumah dari belakang sampai ke depan. Setelah menyapu rumah, terlihat bulek Santi datang dengan motornya masuk ke halaman depan rumahku, lalu dia memarkirkan motornya di sana dan meletakkan helm di atas jok (tempat duduk) motor.


"Assalamu'alaikum Irwan"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam wr wb bulek, masuk dulu kita sarapan dulu ya" Jawabku sambil tak lupa mencium punggung tangannya.


"Iya, bulek nanti teh nya jangan terlalu manis seperti kemarin ya." Ucap bulek Santi sambil mencubit kedua pipiku.


"Siyyaapp baginda." Jawabku


Aku mengajak bulek Santi masuk ke dapur, disana sudah ada bapak yang sedang menyeruput kopi kapal uap nya. Dan emak sedang memindahkan nasi di dalam dandang ke canting, wadah untuk tempat nasi.


"Ayo sarapan dulu San, biar ndak masuk angin nanti, tapi cuci tangan dulu sana, sama Geblek juga" ajak emak ketika melihat bulek Santi muncul di dapur


"Nggeh mbak"


.

__ADS_1


.


Pagi ini kita sarapan nasi pecel lauk tempe goreng dan ikan asin, lalu minumnya teh hangat manis dan kopi kapal uap khusus buat bapak.


__ADS_2