
"Assalamu'alaikum maaakkk, paaakkk", ucapku saat sudah sampai di depan rumah
Akupun langsung menuju ke dapur, meletakkan kresek hitam berisi rujak manis dan es cao tadi di atas meja makan
Aku menuju rak piring, mengambil dua piring beserta tiga sendok, menata semuanya di meja makan, lalu mengambil tiga rantang untuk tempat es cao
Es cao yang dijual mbok siti khusus buat keluargaku itu ukurannya lebih besar, jadi harus pakai rantang biar muat
Setelah siap semua tertata di meja makan, akupun menuju ke kamar bapak dan emak, ku ketuk pintu kamar mereka
Tok.. Tok... Tok...
"Maaakkk... Bapaaaakk..., rujaknya sudah siap, ayo makan", ucapku di depan pintu
cekreeeekkk...
pintu pun terbuka, tampaklah wajah emak yang sudah sumringah lalu dibelakangnya ada bapak yang tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku paham kalau bapak sangat sayang dengan emak, bapakku orangnya sabar dan tidak pernah marah, meskipun aku nakal dan membuat ulah, bapak selalu sabar dan selalu mendengar semua cerita ku juga cerita dari emak, dan anehnya bapak selalu tau siapa dari kami berdua yang berbohong
Nanti kalau aku sudah besar, aku akan berusaha seperti bapak, yang sabar dan ramah, menghadapi segala sesuatu tanpa masalah, mirip slogan pegadaian aja π€ͺ, tapi itu fakta gaes, seperti itulah bapakku
Kami pun makan rujak bersama di dapur, aku sepiring berdua dengan bapak, dari dulu juga selalu begitu. Aku selalu minta makan di piring bapak dan sering kali minta disuapi oleh bapak
__ADS_1
Setelah makan, aku membersihkan peralatan makan kami semua tadi dibantu oleh bapak, sementara emak menuju ke samping rumah mengambil semua pakaian yang sudah kering lalu bapak menggelar tikar di depan tipi jadul hitam putih yang sekarang tipi itu sudah hanya sebagai hiasan saja, lalu bapak menyalakan radio memilih siaran musik dangdut bang haji roma
kami bertiga pun duduk bersama di tikar sambil melipat baju-baju, sementara emak mengambil setrika untuk menggosok pakaian seragam sekolahku, juga baju batik dan sarung bapak yang biasa dipakai ke mushola atau pas ke kondangan
Pakaian kami tidak banyak, hingga sebentar saja semua pakaian sudah terlipat dan tergosok rapih. Tugasku menaruh semua pakaian tadi ke lemari pakaian, sementara emak dan bapak rebahan disana sambil mendengarkan musik di radio
Akupun mengambil beberapa buku el ka es (LKS) untuk dikerjakan bersama bapak
Waktu bersama kami adalah waktu saat kami mengerjakan el ka es, nah sekarang percaya kan kalau aku ini pintar, meskipun nama panggilan aku itu geblek tapi itu adalah nama panggilan kesayangan dari emak dan bapak buat aku, terkadang aku lupa dengan nama irwan gunturan π
"Pak, minggu depan geblek ulangan akhir semester, jadi semua el ka es ini harus dikerjakan semua. Bantuin geblek ya pak, biar anak bapak ini tambah pinter dan bisa naik ke kelas 6", ucapku sambil memelas
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, akupun bergegas mandi dan menunaikan kewajibanku, aku bersama bapak dan emak berjalan ke mushola untuk sholat maghrib berjamaah disana
Setelah berjamaah, kami pulang dan di depan rumah sudah ada bulek santi yang duduk di teras menyangga kepalanya dengan kedua telapak tangan di atas paha, matanya terpejam dengan mulut manyun
Akupun langsung berlari menuju bulek santi, karena ingat dengan kata sandi yang disimpan di hape nya
"Buleeeeeeekkkk..., hape mu ketinggalan tadi", ucapku keras sambil berlari menuju bulek santi
"Alhamdulillah... Beneran itu wan? Hape bulek ketinggalan disini?", tanya bulek sambil menggoyang-goyangkan tubuhku dan mencengkeram kuat kedua lengan ku
__ADS_1
"Iya bulek, hape bulek tadi sempat bunyi.. Klinong klinong gitu, pas bulek dah berangkat sama sandi, yuk masuk rumah dulu ", jawabku sambil membuka kan pintu rumah
Bulek santi mengikuti ku lalu duduk di ruang tamu, sementara aku langsung menuju bupet...
(Lho kok gak ada??) Tanyaku dalam hati, (mati akuu π±)
Akupun panik dan mencoba mencari-cari di sela-sela lemari, bahkan ku intip di kolong lemari juga tidak ada, kemana hape nya bulek sari???
Aku coba mengingat tadi kubawa kemana saja hape itu, sambil berjalan muter-muter kek setrika an emak tadi siang
"Gebleeeeek... tolong buatkan teh anget buat bulek mu yaa", terdengar suara emak di ruang tamu
"iyaaaaa...", jawabku lalu bergegas menuju dapur dan membuatkan teh anget tiga gelas
Entah sudah berapa sendok gula yang ku masukkan ke dalam gelas, aku masih bingung memikirkan hape bulek santi, karena tadi aku sempat menaruh di atas bupet dekat radio, tapi sekarang sudah tidak ada
(Geblek.. Geblek.. teledor banget sih kamu, bisa-bisanya hape bulek santi kamu hilangkan) runtukku pada diriku sendiri
(sudahlah, nanti minta maaf saja, memang ini geblek yang salah) monologku lagi
akupun membawa nampan berisi teh anget menuju ke ruang tamu, tanpa sadar keringat di kepalaku sudah sebesar biji jagung, takut dimarahin bulek, karena pasti hape nya sangat berharga dan sialnya geblek yang lupa dan sekarang hilang beneran hape nya
__ADS_1