
"Assalamu'alaikum... hemmmm wangi banget baunya, ini pasti opor ayam π€€"
Aku langsung bergegas masuk menuju ke dapur, tak lupa mengganti sepatu dengan sendal yang ada di rak.
Aku juga melemparkan tas sekolahku di kamar dan bruk, tas itu masuk sempurna ke dalam kardus dengan sempurna.
"Nais shut π keren kan lemparanku ahahahaha"
Grubyakk.. bruk.. klontang..
"Waduhh π± kok malah jatuh semua π€¦"
Tengok kiri dan kanan π "Untung gak ada yang lihat, fyuhh aman."
Namun ternyata di belakang Irwan ada bapak yang baru keluar dari ruang mushola.
"Nais shut apanya klo malah bikin berantakan Wan?" ucap bapak sambil menjewer pelan telinga Irwan.
"Aaaa.. ahahahaha maaf pak"
"Sudah sana beresin terus ganti baju lalu sholat dzuhur, setelah itu baru bantuin emak di dapur.
Laparnya ditunda dulu ya, rapihkan dulu kamar kamu, nanti sore akan ada banyak tamu. Masa iya anak bapak yang paling ganteng dan paling pintar punya kamar berantakan??"
"Tumben pak? Hari apa ini?"
"Hari Senin kan? Kamu yg sekolah kenapa masih tanya ke bapak hari apa? Sudah sana beres-beres"
"Iya juga sihh hari Senin, tapi maksudnya itu..."
"Sudah jangan dipikir lagi, sebentar lagi masuk waktu dzuhur. Kita berjamaah di rumah saja, kasihan emak masih harus siapkan masakan untuk nanti sore. Irwan mau bantuin kan?"
__ADS_1
"Ohh ya sudah tentu pasti dong pak, apa sih yang enggak buat bapak sama emak π. Irwan pasti menomor satu kan permintaan bapak dan emak πππ."
"Salah.."
"Laaaaahhh?? π€"
"Emak dulu yang dinomer satu kan, baru kemudian bapak. Nanti jika kamu sudah beristri baru nomer satu kan istrimu baru emak dan bapak. Ingat-ingat itu ya nak."
"Stop!! jangan dijawab lagi, sana buruan beresin."
"Sendiko dawuh paduka raja, kisanak laksanakan dengan baik titah paduka raja" ucapku menirukan adegan tutur tinular sambil mengatupkan kedua tanganku lalu berjalan mundur pelan-pelan.
Bapak yang melihatku hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Aku lalu mengganti baju seragam sekolahku dengan baju rumah, ku gantung baju seragam terpisah antara atasan dengan bawahan.
Gantungan baju yang sudah tidak segagah saat pertama kali. Apalah daya, mungkin gantungan baju itu sudah berumur jadi geraknya seperti aki-aki yang sedang berjalan dengan banyak sekali goyangan dengan bergetar.
Aku bergegas merapihkan dan menata ulang rak lemari kardus ku.
Tujuh tumpukan dan semua isi di dalamnya seperti bebas bertebaran sesuka hatinya. Aihh ini salah aku juga yang pake lempar tas segala. Padahal perut dah langsung lapar hanya dengan mencium aroma masakan emak.
Setelah merapihkan dan menata ulang kembali serta memastikan kondisi kamar sudah rapih dan bersih. Aku bergegas menuju dapur. Ku ucapkan salam lagi ke emak lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.
Sama seperti bapak, emak juga meminta aku untuk segera berwudlu karena bapak sudah menunggu di mushola, sedangkan emak sendiri juga tampak sudah berwudlu.
Setelah selesai sholat dzuhur berjamaah, kami segera menuju dapur.
Aku pun tak ketinggalan dan sudah pasti tau apa tugas ku jika di dapur.
Ku cuci bersih semua perabot masak-masakan emak, lalu mengisi kendi air minum dan menatanya di meja makan. Tak lupa piring juga sendok dan gelas-gelasnya.
__ADS_1
Setelah itu aku mengambil wakul dan mengisinya dengan nasi yang sudah matang. Yaa sudah pasti wakul yang ku ambil karena emak masak nasi di dandang besar. Kalau ceting yang diambil pasti nggak muat.
Ku lihat bapak masuk ke dapur dari arah kolah sambil membawa kayu juga ranting kering, lalu menambahkan mereka ke dalam tungku.
Sementara tangan kanan emak masih sibuk mengaduk-aduk masakan agar bumbu tercampur dan meresap sempurna di dalam daging ayam. Dan tangan kiri mengaduk-aduk usus ayam yang sudah dibumbui. Mashaallah luar biasa hebat emakku ini. Semua tangan bekerja di 2 masakan yang berbeda. Namun di sela-sela itu juga masih sempat melanjutkan memarut kelapa.
Saat aku ingin menggantikan emak memarut kelapa, emak malah memintaku membantu mengaduk-aduk usus ayam biar gak gosong.
Dengan patuh aku mengaduk-aduk usus itu, membolak-balik seperti apa yang emak lakukan tadi.
Hanya sebentar aku berdiri disisi tungku rasanya seluruh keringatku berlomba-lomba untuk keluar. Sungguh panas sekali rasanya, emak kok kuat ya, padahal ada kompor gas yang tinggal klik tapi lebih memilih masak di tungku kayu bakar.
Baru juga sebentar, emak sudah datang sambil membawa lap. Lalu mengangkat wajan berisi usus ayam dan menyimpannya di badukan khusus tempat perabot masakan yang sudah matang.
Lalu mengangkat lagi panci berisi air, diletakkan di tungku bekas wajan usus ayam tadi dan memintaku untuk menambahkan air di panci 3 gayung air katanya.
Saat mengambil air, kulihat bapak memeras parutan kelapa untuk diambil santannya. Aku pun menawarkan air juga ke bapak, dan bapak hanya minta 2 gayung saja.
Setelah semua selesai di masak dan disimpan di badukan, bapak menarik keluar kayu yang masih tersisa di tungku, lalu menaburkan sedikit demi sedikit air agar bara di kayu padam.
Kami bergegas mencuci tangan, untuk makan siang bersama.
Alhamdulillah akhirnya lidah dan perut ini terobati dengan obat yang luar biasa nikmat dari hasil tangan emak yang selalu pandai memanjakan kami dengan semua masakannya.
"Alhamdulillaaaahhh, makasih ya mak. Usus ayamnya muantap."
"Iya, emak juga terimakasih sudah dibantu tadi"
"Emak kok tumben hari ini masak banyak? Bapak bilang kalau nanti sore akan ada banyak tamu. Ada acara apa sih mak?" tanyaku yang sudah sangat penasaran
"Ada deh pokoknya"
__ADS_1