
Setelah mengenang masa lalu dan sholat sunnah 2 rakaat, aku menyalami tangan bapak dan duduk di samping beliau sambil mendengarkan lagi alunan merdu suara bapak yang sedang mengaji.
Suara bapak saat sedang mengaji selalu mengisi pagi hari kami, sampai terdengar bedug tanda masuk saat waktunya adzan subuh, bapak pun menghentikan bacaannya.
Terlihat emak datang sudah mengenakan mukenah nya, dan di tangannya terdapat sajadah berwarna merah yang sedikit pudar saking lamanya sajadah tersebut menemani emak. Emak bilang sajadah dan mukenah ini hadiah dari bapak saat bapak pertama kali melamar emak. Ucap emak ketika aku bertanya mengapa emak tidak menggantinya dengan sajadah baru, padahal ada banyak stok sajadah baru pemberian dari para tetangga yang sudah umroh dan atau naik haji.
Kami bertiga berjalan beriringan menuju ke masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di sana.
"Mas Irwan.." sapa warti tetanggaku saat kita berpapasan di depan gerbang sekolah, umurnya 2 tahun di bawahku, kami sering bertemu saat hendak menuju masjid. Warti memiliki saudara kembar bernama Warta, ya saudara kembarnya laki-laki tidak identik dengannya yang perempuan. Aku jarang bertemu Warta saat sholat subuh, Warti bilang saudaranya pemalas karena sulit sekali jika diajak sholat berjamaah di masjid. Waktu itu emak sempat menasihati Warti untuk tidak menjelek-jelekkan saudara kembarnya karena itu tidak baik.
Di perjalanan Warti sering bertanya ini itu dan aku menjawab semua pertanyaannya jika aku tahu, namun jika tidak bisa menjawab aku hanya mengendikkan kedua bahu ku. Terkadang Warti main ke rumah sambil membawa buku pe-er nya untuk bertanya, emak bilang seandainya dulu emak nggak keguguran pasti aku memiliki adik seusia dengan Warti, karena adik aku waktu itu berusia 3 bulan dalam kandungan emak, jadi sudah nampak wujud tubuhnya yang lengkap. Emak selalu senang saat Warti main ke rumah dan aku juga ikut-ikutan menganggap Warti seperti adik perempuan ku.
Saat tiba di masjid, kami berpisah, emak bersama Warti menuju sebelah kiri masjid, sedangkan aku dan bapak berjalan masuk ke masjid. Aku dan bapak menggelar sajadah kami di shof pertama di belakang imam.
__ADS_1
.
.
**************** POV Warti ****************
(Alhamdulillah bisa bertemu bang Irwan lagi) ucapku dalam hati.
Hai aku Warti, usiaku 8 tahun dan sekarang aku duduk di kelas 3 SD. Aku jadi semangat untuk bangun pagi-pagi dan mengikuti sholat subuh di masjid karena ingin bertemu mas Irwan.
Aku sedikit tak suka saat melihat mas Irwan sering menggoda bu Ida, tapi apalah aku yang harus berusaha sendiri agar mas Irwan bisa melihat dan memperhatikan aku.
Alhamdulillah waktu itu aku ikut membantu emak ke masjid untuk menyiapkan makan sahur saat di bulan ramadhan tahun lalu. Pada saat itu aku melihat mas Irwan, laki-laki yang paling harum bau badannya. Waktu itu aku bener-bener dibuat penasaran, kok bisa sih anak tengil di sekolah yang sering diejek gak pernah mandi malah paling harum saat di masjid, dan lagi memang tidak banyak anak laki-laki yang datang ke masjid untuk sholat subuh berjamaah. Saat itulah aku mulai jatuh hati pada mas Irwan, aku berusaha bangun pagi-pagi ke masjid dan berharap bisa bertemu dan berjalan berdua bersama mas Irwan.
__ADS_1
Awalnya aku takut jika harus berjalan sendirian ke masjid di pagi yang masih gelap. Namun demi keinginan aku agar bisa bertemu dengan mas Irwan aku sering membangunkan Warta saudara kembarku agar aku memiliki teman saat berjalan menuju masjid, tapi Warta tak pernah mau, bahkan untuk membuka matanya saja dia enggan. Akhirnya aku harus berangkat sendiri ke masjid.
Seperti biasa, keluarga mas Irwan selalu harum, emaknya mas Irwan juga ramah dan perhatian denganku. Beliau pernah bilang, seandainya adik mas Irwan tidak meninggal dalam kandungan mungkin sekarang mas Irwan memiliki adik perempuan yang cantik seusia aku. "Inna lillahi wa inna illaihi roji'un, maaf ya emak, kalo gitu emak anggap saja aku anak perempuan emak, aku akan sering bermain ke rumah emak" bak gayung bersambut aku tanpa berpikir panjang langsung menghibur emaknya mas Irwan seperti itu.
"Warti adalah Warti, bukan anak emak yang sudah meninggal, tapi tak apa jika Warti mau sering berkunjung ke rumah emak, pasti nanti emak akan senang. Ayuk kita bergegas, kamu sudah wudlu belum nak?" ucap emaknya mas Irwan yang sempat membuatku sedih karena beliau tak mau menganggap aku sebagai putrinya yang sudah meninggal.
Aku menggeleng-gelengkan kepala "Belum mak, Warti belum hafal urutan wudlu yang benar" ucapku jujur sambil menundukkan kepala karena malu.
"Tak apa, sini emak bantu ajarin cara berwudlu nya" ucap emaknya mas Irwan dengan senyum yang menyejukkan hati.
Emaknya mas Irwan selalu telaten mengajariku, sampai aku hafal dan bisa sendiri.
**************** POV Off ****************
__ADS_1
.
.