Kata Sandi

Kata Sandi
9


__ADS_3

Setelah makan dan kenyang, bulek santi pamit pulang dan memastikan besok apakah bapak bisa mengantar bulek santi ke tempat kerjanya om sandi di desa sebelah.


Bulek santi ingin berangkat agak pagi biar bisa segera bertemu dengan pacarnya dan memberi kabar, karena sekarang hape bulek santi jadi beneran hilang karena kecerobohanku.


Kami mengantar bulek santi sampai di depan rumah dan memastikan kendaraan bulek melaju dengan aman sampai tak terlihat lagi punggungnya.


"Dadaaahhh bulek, hati-hati di jalan, salam buat mbahTi dan mbahKung yaaaa" teriakku sambil melambai-lambaikan tangan


Bulek santi masih tinggal bersama mbahTi dan mbahKung di kecamatan sebelah, jaraknya tidak jauh, hanya memerlukan waktu 30 menit perjalanan dengan sepeda motor. Kami masih berada di satu desa namun beda kecamatan.

__ADS_1


Langit pun mulai gelap dan semburan cahaya warna jingga pun mulai memudar, sayup-sayup terdengar bacaan mengaji anak-anak, dan akupun bergegas masuk ke dalam rumahku.ah untuk mengambil peci dan mengenakan sarung, tak lupa aku mengambil buku mengaji iqro' jilid 6, setelah itu aku pamitan mencium punggung tangan emak dan bapak dengan takzim.


"Berangkat ngaji dulu ya pak, emak" ucapku setelah mencium tangan mereka


Sampai di masjid sudah banyak santri-santri yang datang dan duduk bersila dengan meja kayu yang memang sudah disediakan di masjid untuk keperluan mengaji. Tak terasa adzan isya' berkumandang, kami semua para santri juga ustad dan ustazah mengikuti sholat isya' berjamaah, ku lihat bapak dan emak juga datang, bapak menggelar sajadah biru laut bergambar ka'bah di sampingku, akupun lalu mencium tangannya dengan takzim.


Emak dan bapak juga menuju ruangan yang disediakan untuk mengaji para lansia, emak ngaji iqro' 5 sedang bapak sudah ngaji qur'an. Meskipun sudah tua, mereka tak malu untuk belajar mengaji belajar membaca Al qur'an. Karena semangat mereka, aku sebagai anak juga ikut semangat, terkadang sampai di rumah kami masih belajar membaca Al qur'an, emak yang lidahnya sudah kaku dan sering lupa tak pernah malu ketika aku yang mengajarinya, terkadang sesekali bapak mengajarkan kami membaca qur'an walau hanya jus 30 yang berisi surat-surat pendek.


Kata bapak, besok kalau sudah lulus SD nanti aku akan di sekolahkan pondok, pondok pesantren bapak dulu di sana sudah ada sekolahnya juga. Katanya disana nanti tidak cuma belajar mengaji saja tapi juga belajar mandiri dan banyak kegiatan tentang agama. Siapa tahu setelah mondok disana aku sudah bukan geblek lagi, tapi bisa jadi seorang ustad, ustad irwan 😌 hemmm bayangan ku saat menjadi seorang ustad, aku jadi ingin segera cepat lulus dan mondok disana.

__ADS_1


Tak terasa aku senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi kelak.


"Nak.. sudah malam, sana gosok gigi, cuci kaki dan tangan lalu tidur. Jangan lupa berdoa sebelum tidur ya, agar besok bisa bangun pagi sebelum subuh" ucap bapak sambil mengelus-elus kepalaku


"Nggeh Pak" jawabku lalu beranjak ke kamar mandi, lebih tepatnya sumur belakang rumah, ada bangunan seperti gubug yang di dalamnya ada kolah atau bak mandi yang cukup lebar namun pendek, hanya setinggi lutut bapak, jadi jika mandi harus dengan jongkok atau duduk di dingklik atau kursi kayu kecil letak sumur dan kolah hanya berjarak 3 langkah kaki bapak, ada lubang yang menonjol untuk tempat mengisi air kolah dari sumur.


Kamar mandi kami tidak ada atap hanya tertutup di bagian samping yang memutar dan itupun bukan terbuat dari batu bata, hanya anyaman dari pring atau kayu bambu, pintunya tertutup dengan kain.


Jika ke kamar mandi hari sudah malam, kami membawa lampu ublik karena disana belum terpasang lampu. Lalu jika hujan ya pastinya memakai payung, karena disana langsung beratapkan langit 🀭.

__ADS_1


__ADS_2