
1 tahun kemudian...
Bismillah semoga Irwan lulus ya Allah.
Sejak semalam aku tak bisa tidur, entah sudah berapa kali aku coba untuk tidur namun mata ini tak kunjung tertutup rapat.
Gelisah, benar-benar gelisah, takut jika tidak lulus, tapi juga takut jika lulus dengan nilai raport yang tidak sesuai kriteria pondok.
Padahal aku sudah belajar mati-matian, sampai diwaktu lari pagi pun aku masih sempat belajar sambil menghafal beberapa soal yang mungkin keluar di soal Ujian Nasional.
Ohh iya, Warti dan Warta sekarang jauh lebih sehat tubuhnya, terutama Warti, dia sudah bisa berlari hampir 3x putaran memgelilingi jalan kampung.
Aku juga sangat berterima kasih dengan keluarga mereka, karena sudah banyak buku-buku latihan soal Ujian Nasional yang mereka belikan untukku.
Sebagai ucapan rasa terimakasih, aku merawat buku-buku mereka agar tetap mulus dan tidak ada satupun lipatan bahkan noda pensil.
Kok bisa? Emang bukunya gak dipake??
Eitttsss jangan salah bro, buku-buku itu selalu ku pakai, tapi terlebih dahulu aku menyalin semua soal-soal di kertas putih, kertas bekas yang sengaja diberikan sekolah agar bisa aku manfaatkan dengan baik.
Mungkin karena saking rajinnya aku jadinya belum ada 7 hari semua buku-buku sudah aku salin.
Sejak dapat peringkat pertama di raport kelas 5, aku jadi termotivasi untuk lebih belajar dengan giat.
Pensil dan pulpen juga hampir 70 persen aku peroleh dari keluarga Warti. Tidak hanya alat untuk menulis saja, tapi hampir semua peralatan sekolah ku peroleh secara gratis.
Alhamdulillah namanya rezeki anak sekolah ya peralatan sekolah, bener kan guys??
__ADS_1
Jadi ingat dulu aku sering ngomong sok ke Inggris an segala, padahal yang ku ucapkan juga banyak yang keliru π, inget gak kalo dulu aku sering nyapa semua orang dengan kata marning, padahal yang bener morning alias selamat pagi. Terus kata guys yang aku sebut dengan gais.
Sumpah aku emang dari dulu pede nya pake banget dan ditambah pol π€£π€£, pantesan dari kecil sampe kelas 5 aku dipanggil geblek, ya emang tingkahku rada geblek juga sih wkwkwk.
"Irwan... malam-malam kok belum tidur? pake senyum-senyum sendiri juga? Kamu gak kenapa-kenapa kan?"
Tiba-tiba bapak masuk sambil menyentuh keningku.
"Astaghfirullah.. bapak, bikin kaget aja. Ada apa pak? Irwan gak sakit kok, cuman gak bisa tidur aja, takut sama hasil nilai ujian nasional besok."
"Kenapa harus takut sama nilai? Harusnya yang ditakuti itu hanya Allah, ikhlas dan serahkan semuanya padaNya π. Ayo sholat malam dulu, biar tenang hati dan pikirannya. "
Aku menyambut tangan bapak, lalu kemudian bangun dari rebahanku. Kami berjalan menuju dapur untuk mengambil air wudlu.
Jika malam biasanya kami mengambil air wudlu dari gentong, kecuali jika memang ingin buang air.
Alhamdulillah, benar apa kata bapak. Setelah menjalankan sholat sunnah hati dan pikiran jadi tenang. Tak lupa aku melangitkan semua doa juga semua harapanku kelak.
...
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan sekolah. Aku juga sudah tak sabar dengan hasil pengumumannya.
Rasanya luar biasa, karena seperti permen nano-nano, yang ku rasakan bener-bener ramai rasanya, antara takut, senang juga sedih campur jadi satu.
Kami semua sudah berbaris di lapangan. Kepala sekolah memberikan ceramah kecil untuk nasihat pada kami semua, bahwa apapun hasil yang akan kami terima maka kami harus ikhlas, legowo dan tak perlu berkecil hati.
Karena hasil hari ini bukanlah akhir perjalanan kita, namun justru awal dari perjalanan kita untuk bisa melangkah jauh dengan lebih baik.
__ADS_1
"Anak-anak yang kami sayangi, nanti kalian akan bapak panggil satu persatu dan bapak berikan amplop berisi hasil kelulusan kalian. Nanti yang sudah mendapatkan amplop harap disimpan dahulu dan jangan langsung dibuka. Tunggu aba-aba dari saya"
Begitulah pesan dari bapak kepala sekolah. Dan sekarang aku sudah menggenggam amplop coklat panjang dengan tangan bergetar dan degup jantung yang tak aman, seperti akan lepas dari tangkainya.
Setelah nama siswa yang dipanggil sudah mendapat amplop, dan masuk ke dalam barisan. Bapak kepala sekolah juga para guru menghitung bersama-sama dengan hitungan mundur.
Tigaaa...
Duaaa...
Saaaa... tu..
Silahkan dibuka amplopnya, hati-hati membukanya jangan sampai robek.
Jangan lupa baca basmallah ya anak-anak.
. . . .
Hening, seketika semua hening karena kami membuka amplop dengan tangan yang bergetar dan jantung yang sama sekali jauh dari kata aman.
"Ananda Irwan Gunturan Selamat Anda Lulus"
Alhamdulillaaaaaah...
Horeeee...
Suara teriakan riuh dari kami para siswa kelas enam, yang bahagia ketika sudah membaca isi tulisan di dalam amplop.
__ADS_1
Tanpa sadar kami juga saling berpelukan dengan semua anak-anak kelas enam.
Sungguh suasana yang sangat haru di bawah langit biru yang cerah. Kami semua dinyatakan LULUS.