
"Sudah Gus, ikhlaskan mereka, berikan selalu do'a-do'a untuk kebaikan mereka disana."
Seorang lelaki bersurban putih dengan pakaian muslim berwarna putih dan sarung yang putih bersih itu menepuk-nepuk pelan pundakku.
"Njeh kyai, inshaallah Irwan berusaha untuk ikhlas, tapi entah mengapa sulit sekali untuk menahan air mata ini"
Aku mengusap air mata yang seperti mengalir tanpa henti.
"Jika kamu menangis seperti itu kasihan mereka, air mata yang jatuh di atas makam mereka bagai kobaran api yang menyulut jasad mereka, apakah kamu tega dengan bapak dan emakmu Gus?" tanya pak kyai Husain menyadarkan aku akan dampak yang diterima oleh kedua orangtuaku jika aku masih menangis.
"Astaghfirullah.." Aku bergegas menghapus seluruh air mataku.
Kyai Husain pun tersenyum.
"Mari sama-sama kita do'akan, agar bapak dan emak mu mendapatkan pengampunan atas dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya, dijauhkan dari siksa kuburnya.. aamiin. "
Kyai Husain memimpin do'a dan aku hanya bisa mengikuti dalam hati sambil sesekali mengaminkan do'a-do'anya.
*
Hari dimana kedua orangtuaku melepasku agar aku bisa mondok di Ponpes Darussalam, pondok pesantren tempat bapak dulu menimba ilmu agama juga ilmu nasional.
Emak terlihat berat melepasku karena sesekali terlihat emak mengusap airmatanya, sedangkan bapak hanya tersenyum dan sesekali mengingatkan untuk sabar.
Namun siapa yang sangka jika hari itu juga justru aku yang harus rela dan ikhlas akan kepergian kedua orangtuaku selama-lamanya.
Mini bus yang dikendarai bapak dan emak terjadi kecelakaan hingga menewaskan mereka berdua.
Saat itu aku yang memohon pada pak ustad juga pak kyai agar kedua orangtuaku di istirahatkan di pemakaman pondok.
Karena memang bapak yang sebatang kara tanpa saudara dan pernah menjadi santri di pondok tersebut, pada akhirnya menyetujui permintaanku.
__ADS_1
Dan aku juga berjanji akan mengabdikan sisa hidupku di pondok pesantren ini.
Agar aku bisa selalu menjaga dan merawat makam kedua orangtuaku.
Sudah hampir seminggu aku disini dan sering sekali menghabiskan waktu disamping nisan kedua orangtuaku yang tampak masih basah tanah makamnya.
Aku masih belum sepenuhnya percaya akan takdir yang menimpa diriku juga kedua orangtuaku.
"Bapak.. emak, mengapa begitu cepat kalian pergi meninggalkan Irwan di dunia ini? Padahal Irwan sudah mulai melangkah untuk menjadi seorang anak yang baik seperti harapan bapak dan emak.
Maafkan Irwan pak...
Maafkan Irwan ya maaaakkk...
Huhuhu..."
Entah sejak kapan ada seseorang yang berada di sampingku sambil menaburkan bunga Melati.
Aku mendengar sayup-sayup orang disampingku berbicara, namun masih saja aku larut dengan duniaku sendiri, lalu saat orang tersebut menepuk-nepuk pelan pundakku dan aku menoleh ke arahnya, kulihat pak kyai Husain sudah duduk di sebelah ku.
Beliau mengatakan agar aku sabar dan ikhlas.
Ahh justru karena kalimat itulah yang membuat hatiku makin berat dan kembali menangis.
Bagaimana aku bisa sabar dan ikhlas jika mereka yang ku sayang sudah tak ada lagi di dunia ini, tak bisa kusentuh bahkan ku cium kedua tangannya?
Ya allah, beginikah rasa kehilangan orang yang paling kita sayangi? Beginikah rasanya ditinggal oleh keluarga yang begitu kita sayangi?
Airmata ini justru semakin deras dan hampir saja aku meraung-raung mengungkapkan isi hatiku agar bisa lepas sedikit sesak dihati. Namun ku ingat jika itu dilarang dan aku adalah laki-laki jadi harus mampu menahan rasa sesak ini.
Semenjak kyai Husain tau aku putra Gus Ridwan, seorang santri terbaik disana. Pada akhirnya kyai Husain pun memanggilku dengan sebutan Gus.
__ADS_1
Berharap nantinya aku mengikuti jalan bapak sebagai seorang santri terbaik di pondok ini.
*
"Kyai... ajarkan Irwan agar bisa sabar dan ikhlas "
Setelah berdoa, akupun mulai bertekad untuk bisa belajar sabar dan ikhlas. Dan aku meminta kepada kyai Husain untuk mau mengajariku bagaimana caranya sabar dan ikhlas.
Karena jujur saja, kedua kata yang tampak ringan untuk diucapkan sebagai motivasi justru semakin berat ketika kita yang berada diposisi terendah saat kehilangan.
"Jika kamu merasa masih sedih dengan sangat maka berwudlu lah lalu jalankan sholat sunnah, itu lebih baik daripada kamu menangis diatas makam kedua orangtuamu.
Saat ingat mereka, segeralah untuk berwudlu, membaca qur'an, mendo'akan mereka sampai hati kamu benar-benar tenang.
Perbanyak istighfar dan dzikir mengingat Allah, karena saat kamu sedih dan larut dalam kesedihan maka saat itu kamu justru menduakan Allah, padahal segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah, termasuk apa yang sudah dan yang akan terjadi nantinya semuanya atas kehendak-Nya."
Aku terdiam dan merenungkan apa yang sudah dikatakan oleh kyai Husain.
Setelah sampai di pondok, aku langsung mengambil wudlu dan melaksanakan sholat sunnah.
Melangitkan asa dan harapanku, melangitkan kebaikan untuk kedua orangtuaku. Sampai aku benar-benar merasakan sedikit rasa tenang di dalam hati.
Bismillah bapak,, emak,, inshaallah Irwan akan mengabdikan sisa hidup Irwan di Ponpes ini. Dan inshaallah semoga kita bisa disatukan kembali di Jannahnya Allah.
Aamiin
***
^_^
Sekian cerita ini, semoga bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
__ADS_1