
................POV EMAK................
"Alhamdulillaaaahhh ya allah, akhirnya hapeku ketemu. Makasih ya mbak, mas, trus si Irwan mana? Tumben kok nggak ikut kesini juga?" ucap syukur Santi ketika aku menyerahkan benda pipih itu ke pemiliknya.
"Irwan masih sekolah, lagian ini kan hari senin. Kamu gak ada jadwal kuliah San?"
"Hari senin aku libur mbak, ini gimana ketemunya?" tanya Santi sambil mencoba menghidupkan benda pipih itu
"Habis ternyata baterainya, tunggu sebentar ya mbak, Santi mau isi daya baterai dulu." ucap Santi kemudian berlalu masuk ke dalam.
"Bu... sana samperin Santi dan jangan lupa minta maaf juga, bapak tunggu di depan saja ya"
"Injih pak, ibu masuk dulu ke dalam ya pak" jawabku sambil tersenyum, akupun segera masuk ke dalam rumah.
Tak banyak yang berubah dengan kondisi di rumah ini, hanya lantainya saja yang sudah berkeramik, selain itu tak ada.
Tok tok tok.. "Santi, mbak masuk ya?"
"Iya mbak, masuk aja pintunya nggak di kunci kok" jawab Santi di dalam kamar.
Aku membuka pintu perlahan, ku lihat Santi masih berusaha menghidupkan benda pipih itu. Aku jadi merasa bersalah pada adikku satu-satunya yang paling aku sayang.
"Maafkan mbak Sari ya, gara-gara mbak Sari lupa jadinya hape kamu mati total."
__ADS_1
"Sudah jangan dipaksa lagi, tunggu beberapa menit lagi biar terisi dulu daya nya."
"Ehh iya mbak, tapi hape ini ketemu dimana? Apakah terkena air atau gimana?" tanya Santi was was
Aku membalasnya dengan senyuman, lalu menceritakan bagaimana benda pipih itu ketemu.
Yaaa begitulah, benda jika dicari malah benar-benar hilang karena tidak ketemu. Namun jika sudah diikhlaskan dan tidak dicari lagi malah tiba-tiba ketemu.
Memang sih aku yang salah karena sering lupa. Itulah sebabnya suamiku sendiri mewajibkan aku agar selalu ikut sholat berjamaah di masjid, karena takutnya aku lupa dengan jumlah rakaat ku, atau bahkan lupa tadi sudah berwudlu apa belum.
Untungnya untuk bangun pagi-pagi aku sudah terbiasa sejak kecil jadi secara otomatis tubuhku sudah memiliki timer pengingatnya.
Setelah bercerita bagaimana dan kapan benda pipih itu ditemukan, dan yah reaksi Santi mirip dengan suamiku.
"Astaghfirullah mbaaak..."
" Ya sudah mbak gak apa-apa, tapi kasihan sama Irwan kata mbak Sari dulu Irwan sampe berjanji untuk berubah dalam doa di sholat malam π€, nanti kalau Irwan tau kenyataannya emaknya sendiri yang salah akan jadi seperti apa ya mbak?"
"Entahlah San, hape itu ketemu juga pas Irwan masih di sekolah. Lalu kami langsung kesini.
Yang pasti nanti aku harus minta maaf langsung ke Irwan, semoga dia masih bisa menjalankan janjinya."
"Aamiin, semoga ya mbak."
__ADS_1
"Aku pamit pulang ya, nitip salam buat bapak ibu, maaf hanya berkunjung sebentar, rencananya nanti sepulang dari sini mampir pasar beli ati ampela makanan kesukaan Irwan. "
"Tunggu mbak, jangan hanya beli ati ampela, beli ayamnya juga. Ini Santi ada sedikit uang buat tambahan beli ayam ya."
Santi memberikan 1 lembar uang berwarna merah yang bergambar 2 bapak-bapak. Aku mencoba menolak karena aku tau Santi juga masih memerlukan uang untuk kuliahnya, dan lagi sejak hapenya hilang maka hilang sudah pundi uangnya dari berjualan online.
"Jangan San, simpan saja uangmu, di rumah masih ada ayam yang siap potong. Usulan yang bagus, jadi lebih baik menyembelih ayam sendiri. Nanti bakda ashar ke rumah ya, kita buat acara tasakuran."
"Siyyaapp mbak, nanti Santi ajak mas Sandi sekalian ya jadi biar bisa bonceng ibu dan bapak juga."
"Iya, makasih ya San, sekali lagi maafkan mbak Sari ya."
Aku pun memeluk adik kesayangan ku itu, lalu berpamitan.
Saat dalam perjalanan pulang aku memberitahukan rencana tasakuran pada suamiku yang paling aku hormati dan aku sayang. Alhamdulillah beliau mau membantuku untuk menyembelih ayam, bahkan 2 ekor ayam yang nanti akan kami sembelih.
Kami mampir di pedagang kelontong sayur untuk membeli kelapa dan bumbu dapur. Tak lupa membeli kacang hijau serta labu kuning bahan untuk membuat kolak kesukaan bapak dan ibu.
Alhamdulillah semoga semuanya bisa masak tepat waktu, karena waktu yang aku tentukan bakda ashar berarti sekitar pukul 16.00 mereka akan tiba di rumah.
Alasan aku memilih waktu itu agar kedua orangtua ku bisa ikut dan tidak terlalu malam saat pulang. Sedangkan Irwan juga masih harus belajar untuk persiapan ulangan esok harinya.
Bismillah semoga Engkau mudahkan ya Robb.. aamiin.
__ADS_1
.
.