Kata Sandi

Kata Sandi
16


__ADS_3

Tak terasa waktu pun cepat berlalu..


Traaaangg.. tang.. tang.. tang..


Begitulah suara motor jadul milik bapak, motor merek satsuki yang sempat terkenal di tahun 80an. Motor turun temurun milik embah buyut kakung, yang diwariskan ke mbah kung, lalu sekarang diberikan untuk modal kawin bapak sebelum bapak melamar emak.


Banyak kenangan dari motor jadul tersebut, setiap era penuh dengan cerita yang menemani suka duka keluarga besar kami dalam mencari nafkah, sampai akhirnya motor tersebut hanya mampu dikendarai beberapa puluhan kilometer saja. Jika lebih maka akan keluar asap di mesinnya.


Aku meninggalkan pekerjaanku untuk menghampiri bapak dan bulek Santi yang barusan datang. Ku cium punggung tangan bapak setelah bapak memarkirkan motor kesayangannya dan menutup body motor dengan jas hujan.


"Assalamu'alaikum nak, sudah ramai.. banyak yang ikut belajar bersama ternyata." Ucap bapak sambil melihat keramaian di tempat kami berkumpul belajar bersama.


"Wa'alaikumsalam, nggeh Pak, banyak yang ikut karena kelihatan langsung dari luar, trus Pak Ilyas juga sempat berteriak mengajak anak-anak yang sedang lewat agar ikut belajar juga πŸ˜…." Jawabku sambil nyengir memamerkan deretan gigiku yang putih seperti iklan pasta gigi Open-Up.


"Bapak sama bulek Santi mau dibuatkan minum?"


"Bapak air putih saja ya, nak"


"Bulek ndak usah Wan, ini mau langsung pulang. Sudah siang, kasihan mbahTi nanti gak ada yang bantu jemur padi."

__ADS_1


Bulek pun langsung pamitan dan tak lupa berterima kasih pada bapak dan nitip salam untuk emak.


Aku langsung mengambilkan air putih untuk bapak, setelah kepergian bulek Santi.


Bapak langsung meneguk habis air putih di dalam gelas.


"Alhamdulillah, makasih ya nak. Sudah kamu lanjut belajar lagi sana, bapak mau ke sawah, kasihan emak mu yang sudah mengurus sawah sendiri pagi ini. Salam buat Pak Ilyas ya, terimakasih karena sudah bersedia membantu mengajari kamu dan teman-temanmu." Ucap bapak sambil menampakkan wajahnya agar terlihat oleh Pak Ilyas.


"Pak πŸ™‹β€β™‚οΈ, kulo pamit riyen, lanjut teng sawah. Monggo disekecaaken nggeh."


("Pak, saya pamit dulu, mau lanjut ke sawah. Silahkan anggap rumah sendiri ya.")


("Baik.. silakan Pak, hati-hati disana.")


Begitulah percakapan singkat antara bapak dengan pak Ilyas.


Aku lalu kembali ke tempat ku duduk tadi dan mulai mengerjakan soal-soal, sesekali aku juga bertanya kepada pak Ilyas jika ada soal yang tidak aku pahami.


Tak terasa sudah masuk waktu dzuhur, terdengar bedug adzan dzuhur yang di tabuh. Kami semua pun berkemas dan saling berpamitan mencium tangan Pak Ilyas sembari mengucapkan terimakasih karena sudah ditemani belajar.

__ADS_1


Setelah semua sudah pulang menuju ke rumah mereka masing-masing, aku membereskan sampah dan menggulung tikar. Aku dibantu oleh Warti, padahal sudah ku larang dia untuk membantuku, karena sudah siang, Warti pasti juga sudah lelah. Namun nampaknya Warti tidak merespon malah membantuku membereskan gelas dan ceret, juga piring-piring bekas tempat makanan yang disuguhkan tadi.


Setelah membereskan semua dan meletakkan tikar kembali pada tempatnya. Aku menuju ke kolah untuk mencuci gelas-gelas dan piring-piring kotor. Warti tetap masih membantuku membawakan mereka ke kolah.


Haisshhh anak ini, ya sudahlah. Aku membawakan 2 dingklik untuk tempat duduk kami saat mencuci gelas dan piring. Warti hanya ku suruh duduk diam tanpa membantu karena takut nanti pakaian bagus dia akan basah dan kotor.


Warti termasuk anak orang kaya, karena punya mobil. Ukuran kaya atau miskin terletak pada kendaraan yang mereka miliki. Maklum lah kalau sudah punya mobil berarti wes sugeh (sudah kaya). Apa lagi tiap tahun mereka selalu umroh.


Terkadang aku sedikit tidak enak jika Warti sering berkunjung ke rumah, takut kalau ada kenapa-kenapa dengan anak itu, karena rumah kami tidak sebersih rumah mereka yang besar dan berlantaikan batu granit. Dindingnya juga berlapis ubin yang bergambar.


Berbeda jauuuuuuhh sekali dengan kondisi rumahku yang masih beralaskan plester tanpa keramik, sebagian besar dinding kami masih berupa anyaman bambu. Lampu di kamar juga hanya dari lampu minyak. Aku menyebutnya lampu uglik karena nyala api nya uglak-uglik (meliuk-liuk) jika terkena angin.


"Warti duduk disini saja, nggak usah bantu. Nanti bajunya basah terus kotor. Kasihan nanti Warti dimarahin sama mama Warti loh, seperti kapan hari itu yang Warti pulang bajunya kena lumpur karena ikut turun ke sawah cari kreco."


Terlihat Warti menganggukkan kepala lalu duduk manis di dingklik yang sudah ku berikan tadi. Dia mengamati apa saja yang aku kerjakan. Sesekali dia terlihat ingin membantu namun langsung aku cegah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2