
Setelah sarapan bersama, bapak dan bulek Santi bersiap-siap berangkat ke desa sebelah, menuju ke tempat kerjanya om Sandi pacarnya bulek.
Sebelum mereka berangkat, aku mencium punggung tangan bapak dan bulek. Tak lupa ku ucapkan kata maaf lagi pada bulek karena masih belum mengingat dimana hape bulek Santi kemarin π.
"Ya sudah, lain kali jangan dipakai buat mainan ya jika itu bukan milik Irwan sendiri. Sekarang Irwan belajar yang rajin gih, biar dapat nilai seratus." Ucap bulek Santi sambil tersenyum, meskipun aku tahu senyumnya seperti terpaksa, aku berjanji dalam hati akan benar-benar belajar dan semoga besok dapat nilai seratus semua π€² aamiin, tapi... apa bisa ya?? Bismillah aja lah dulu. Apa pun hasilnya yang penting berusaha belajar dulu.
.
.
Setelah kepergian bapak dan bulek Santi, emak kembali melakukan aktivitasnya di dapur lalu hendak mencuci pakaian.
Ku lihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 05.20 masih cukup waktu untuk membantu emak mencuci baju. Aku menyusul emak ke belakang rumah menuju ke dekat sumur, disana sudah ada 2 bak besar dan 3 ember kecil.
Emak terlihat menimba dan mengisi air ke dalam bak besar, baru 1 bak yang sudah terisi penuh. Aku mengambil pakaian kotor dan memilah mereka sesuai dengan warna gelap dan terang, ku masukkan ke dalam ember kecil lalu memberi air sampai air itu penuh dan tumpah. Mengapa harus sampai tumpah atau meluber keluar airnya?? Beginilah cara akan mencuci pakaian pertama kali.
Emak bilang, pakaian yang kotor harus disucikan terlebih dahulu dengan cara merendam pakaian ke dalam ember sampai airnya mengalir lalu membilasnya, baru setelah itu diberi sabun dan disikat atau dikucek. Kami masih memakai sabun colek berwarna biru, bentuknya seperti krim, cara pakainya ya dicolek, oleh karena itu disebut sabun colek.
Aku masuk ke dalam rumah menuju dapur, ku ambil 2 dingklik (kursi kayu kecil) untuk tempat duduk saat mencuci nanti.
"Irwan, kok bantuin emak sih, katanya mau belajar sama Warti, nanti capek malah gak jadi belajar nak?" tanya emak saat melihatku sudah duduk di dingklik dan siap mencolek sabun dengan sikat baju.
"Masih pagi mak, aku bantuin emak dulu biar cepat selesai. Kan nanti emak juga ikut ngajarin aku sama Warti, biar belajarnya tambah giat." Jawabku sambil menyikat pelan leher baju.
__ADS_1
Tak terasa pekerjaan mencuci baju lebih cepat selesai, aku juga membantu emak menjemur pakaian di tempat jemuran baju.
Jemuran baju kami sama seperti warga disini. Dimana hanya terbuat dari tali tampar yang kedua ujungnya terikat di cagak (kayu kecil setinggi 5 cm dari tinggi badan emak.
Aku hanya membantu memakaikan kastok atau hanger di baju atau pakaian yang berbentuk seperti seragam sekolahku, sementara yang lain tidak menggunakan kastok cukup dijeber di atas tali jemuran lalu di jepit dengan jepitan jemuran.
Sesekali terlihat emak menegakkan punggungnya sambil memegang pinggang belakangnya dan terdengar bunyi kretek.. kretek.. (Kasihan pasti boyoknya capek) batinku, akupun mempercepat gerakku agar emak tak perlu bolek-balik membungkuk untuk mengambil pakaian yang akan dijemur.
Setelah selesai menjemur semua baju-baju, aku membereskan bak dan ember beserta sabun juga dingkliknya. Sementara emak mengambil handuk dan bersiap untuk mandi.
Aku membuatkan teh manis hangat langsung di ceret (teko) tempat membuat minuman dalam jumlah banyak, jadi nanti bisa diminum berkali-kali tanpa harus membuat teh di gelas berkali-kali juga.
Karena nanti pasti akan ada anak-anak yang datang ke rumah untuk ikut belajar bersama, tidak hanya Warti saja tapi ada juga Joko, Robi, sama Tina. Semakin siang makin banyak anak yang datang.
Aku menggelar tikar di pekarangan samping rumah, yang sebelumnya setiap pagi sudah di sapu bersih oleh bapak sebelum tadarusan menunggu adzan subuh. Entah pukul berapa bapak tadi pagi bangunnya, karena aku selalu bangun saat bapak sedang mengaji.
Setelah tikar di gelar dengan rapih, aku mengambil buku-buku serta beberapa kertas bekas yang ku dapat dari sekolah, juga alat tulisku. Aku meletakkannya di atas tikar di pinggir sebelah kiri, aku juga meletakkan ceret berisi teh hangat serta kacang godog yang sudah disiapkan emak tadi pagi.
Emak juga ikut menata gelas-gelas plastik yang berwarna-warni, kemudian duduk di tikar sambil menuang teh hangat ke dalam gelas, sementara aku juga duduk bersila sambil membuka-buka buku PKn (Pendidikan Kewarganegaraan).
Aku mulai membaca dan tak lupa berdoa terlebih dahulu sebelum memulai belajar.
"Assalamu'alaikum... Mak, Mas Irwan" Ucapan salam dari Warti saat tiba di depan rumah, ia langsung menuju ke pekarangan, menuju ke tempat kami berada. Ia langsung mencium punggung tangannya emak, dan meletakkan buku-bukunya serta memberikan bungkusan yang berisi umbi-umbian yang sudah di rebus.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam" jawabku dan emak
"Mak, ini kata ibu buat camilannya pas belajar nanti."
"Alhamdulillah, makasih ya nduk" ucap emak sambil memindahkan umbi-umbian tadi ke dalam baskom besar.
(*nduk \= panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa)
"Assalamu'alaikum... Irwaaaan boleh ikut gabung belajaaaarr?" tanya Joko dan Robi
"Wa'alaikumsalam " jawab kami bertiga
"Halah pake nanya, sini cepat gabung" Ucap emak menyambut Joko dan Robi sambil menerima beberapa rentengan kerupuk yang sudah di beri plastik.
"Belajar yang bener ya anak-anak, nanti klo mau minum diingat warna gelasnya biar ndak tertukar lalu ini juga di makan ya. Emak tinggal dulu ke sawah sebentar." Pamit emak kepada kami semua, kami langsung mencium punggung tangan emak bergantian.
Beberapa saat kepergian emak, Tina dan pak Ilyas juga datang. Kami pun mulai semangat dalam belajar.
π cuaca yang cerah dengan aroma wangi sabun colek menemani kami semua belajar bersama. Alhamdulillah.
.
.
__ADS_1