Kata Sandi

Kata Sandi
17


__ADS_3

.


.


Alhamdulillah setelah beberes semua dan menyimpan buku2 serta alat tulis ku di lemari... emm sebenarnya bukan lemari sih, tapi lebih tepatnya tumpukan kardus bekas yang disusun terbuka menyamping seakan seperti lemari rak atau apalah itu namanya yg jelas ada 6 tumpukan kardus dan disetiap kardus terdapat sekat dari kayu bambu yang dibelah, dibuat seperti rak lemari pada umumnya.


Kardus paling bawah berisi sepatu sekolah.


Yang kedua, berisi beberapa rosokan yang aku kumpulkan untuk menghias tugas prakarya, seperti tutup botol minuman bersoda, kancing baju, stik es krim, karet gelang, juga beberapa guntingan kertas warna-warni dari kertas kado yang ku ambil gambar-gambar yang menurutku menarik untuk bisa dijadikan hiasan prakarya.


Tumpukan kardus ketiga, berisi buku-buku tulis sekolah, juga buku-buku bekas yang masih kosong sisa buku-buku di kelas sebelumnya.


Tumpukan ke-empat, berisi buku-buku LKS.


Tumpukan ke-lima berisi buku diktat atau buku bacaan yang dipinjamkan dari sekolah, nanti setelah rapotan buku-buku itu harus dikembalikan ke perpustakaan sekolah.


Tumpukan terakhir berisi bermacam-macam alat tulisku, dari pensil, pensil warna, crayon, spidol, bolpoin, penghapus, penggaris. Dan semuanya dalam keadaan yang mungkin cukup lucu karena aku suka sekali mengoleksi mereka dengan berbagai ukuran, terutama untuk pensil, ada yg ukurannya sangat kecil setinggi 2 ruas jari kelingking ku. Kemudian berjajar rapih dengan urutan berdasarkan tinggi mereka.


Alhamdulillah aku termasuk anak yang tinggi, tumpukan 6 kardus itu hanya sampai di bahu ku tingginya. Bukan karena aku pernah tidak naik kelas atau terlambat daftar sekolah, tapi memang pertumbuhan tinggi badanku sangat cepat.

__ADS_1


Mau tau rahasianya??


Entah ini mitos atau tidak, yang jelas dulu sewaktu kecil aku suka sekali makan ikan. Terutama ikan yang sering ada di kali atau di sungai. Emak bilang sejak aku di dalam kandungan, emak yang sewaktu muda nya nggak pernah doyan makan ikan malah kegandrungan makan ikan. Hampir tiap hari bapak cari ikan untuk dimakan emak. Apalagi jika dapat belut, seperti lupa dengan keberadaan bapak yang sudah susah cari belut, namun belut goreng sudah langsung habis dimakan emak sendiri.


Ini sih menurut pendapat emak seperti itu, karena bayangkan saja kehidupan kami yang jauh dari makanan mewah seperti makan daging ayam aja hanya setahun sekali itupun saat lebaran kupat, sama halnya dengan daging sapi atau kambing, kami hanya bisa menikmatinya saat hari raya qurban. Selain itu hanya sayuran hasil dari kebun dan tempe atau tahu, terkadang ada ikan asin jika kami berkunjung ke tanah kelahiran bapak di desa nelayan.


Lalu dimana letak baju-baju dan pakaianku?


Lagi-lagi dalam kondisi yang terbatas akan keuangan sehingga membuat bapak pandai mengatasi semua masalah.


Lemari pakaian dibuat seadanya dari kayu, dengan sekat bambu yang di atasnya dilapisi kardus dan plastik bening, plastik bungkus es atau plastik deterjen dan kawan-kawannya hingga membuat mereka jadi cantik dan layak untuk digunakan sebagai lemari baju.


Beberapa plastik bekas yang sudah dibersihkan dan disambung menyambung tadi dipakai sebagai penutup luar, sehingga para baju dan pakaian aman nyaman di dalam rak lemari, aman dari hujan dan debu.


Setelah aku simpan semua buku-buku dan alat tulisku, aku lalu menuju ke teras, disana masih ada Warti yang duduk sambil melamun.


...****************...


"DORR..."

__ADS_1


"Aaaaaaa... mas Irwan kaget tauk"


"Aduh.. aduh.. aduh .. iya maaf, aduh jangan dicubit terus War, maaf ampun.. sakit.. ahahahaha..."


Kami pun berlarian kejar-kejaran, terlihat Warti yang sedang kesal makin imut menurutku.


Tak lama kemudian Warti duduk di atas akar pohon mangga yang lumayan besar mencuat di atas tanah.


"Maaaass ah.. hah.. hahh... sah fek tah huuk, si..ni jah..ngan lari lah..gih.. hah.. hahh.. "


"Gak mau lah, tar kamu cubit lagi aku, bisa bengkak aku kena cubitanmu, lagian lari dikit aja kok dah ngos-ngosan War"


Terlihat Warti masih ngos-ngosan dan memang seperti kesulitan bernafas. Aku langsung mendekat menepuk-nepuk punggungnya karena khawatir melihat Warti yang seperti itu.


(Anak ini kenapa ya? Dulu juga pernah ku lihat dia seperti ini saat pelajaran olahraga) batinku heran melihat Warti.


Aku langsung beranjak ke dapur mengambil segelas air hangat, lalu ku berikan pada Warti agar di minum untuk membantu menenangkannya. Namun Warti hanya meminum sedikit dan mulai sedikit tenang. Di sela-sela nafasnya seperti terdengar suara dengkuran kucing.


...****************...

__ADS_1


.


.


__ADS_2