Kata Sandi

Kata Sandi
19


__ADS_3

------------ POV Warti -------------


ngiiiiik ngiiiiik...


ya allah, engap nafasku...


aku gak bisa nafas, ma tolongin Warti ma


huft huft... uhukk uhukk


aku segera duduk dan mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya, tapi makin banyak yang ku hirup rasanya makin sesak, makin engap, sampai ku terbatuk-batuk.


aku pukul dadaku berkali-kali agar rasa sesak ini bisa berkurang, rasanya engap sekali.


entah mas Irwan bicara apa aku sudah tak bisa merespon, aku bingung dengan nafasku.


ku lihat mas Irwan berlari masuk ke dalam rumahnya, entah apa yang akan dilakukan. Tega sekali, apakah mas Irwan pergi begitu saja membiarkan aku kesulitan bernafas sendirian disini.


Ya allah, ma pa, tolongin Warti... sesak sekali rasanya.. uhukk uhukk uhukk.. buk.. buk.. buk.. saat akan ku pukul lagi dada ini tapi aku tersentak karena tanganku dipegang seseorang.


Mas Irwan? akupun mengernyit tanda tak suka jika tanganku di pegang, bukan karena apa tapi dia menghalangi aku untuk memukul dadaku lagi untuk mengusir rasa engap ini.


"Jangan dipukul lagi, tenang dulu, tarik nafaaaas tahan buang pelan-pelan. Warti bisa kok"

__ADS_1


Aku pun mengikuti aba-aba dari mas Irwan, meskipun susah tapi dia sangat sabar mengalihkan perhatianku agar aku mengikuti aba-aba nya.


Setelah nafas ini mulai sedikit teratur, mas Irwan memberikan air putih dan hangat? Lagi-lagi aku mengernyitkan keningku karena aku tak suka air putih apalagi jika hangat, lebih tak suka. Ingin sekali ku tolak, tapi aku takut mengecewakannya.


Aku meminum sedikit air hangat itu, bagiku tak ada efek sama sekali. Karena saat sesak nafas ini kambuh, aku tidak pernah bisa minum atau makan sedikit pun. Karena di dalam rasanya penuh sesak, seperti tenggelam di dalam air.


Alhamdulillah mas Irwan tidak memaksa aku lagi untuk minum, namun dia memberi aba-aba lagi untuk mengatur pernafasan aku.


Setelah beberapa menit akhirnya nafas ini mulai terasa ringan, aku mulai tenang, meskipun masih terdengar suara ngik ngik di dalam nafasku.


Mas Irwan bertanya tapi aku hanya bisa menganggu dan mengendikkan bahu saja untuk menjawabnya.


Ya allah terimakasih ternyata mas Irwan tidak pergi meninggalkan aku dan malah mengantarkan aku pulang ke rumah.


Entah apa yang mas Irwan katakan pada mama, aku nggak begitu fokus mendengar, tubuhku rasanya lemas.


Seperti biasa, mama langsung memberikan aku obat dan teh hangat. Setelah meminum obat, aku merebahkan tubuhku di sova, yang memang khusus mama papa beli untuk ku saat aku kambuh seperti ini. Sedikit demi sedikit aku mulai terlelap dan tidur.


Mata ini tidur, tapi telinga ini masih mampu mendengar. Ternyata mas Irwan meminta ijin untuk mengajakku olahraga pagi setelah sholat subuh, ada suara kak Warta juga yang menyanggupi. Alhamdulillah aku bisa mulai sangat dekat dengan mas Irwan dan akhirnya aku pun benar-benar tertidur saking senangnya.


-------------- POV OFF ---------------


Kriiiing kriiiing kriiing

__ADS_1


Alarm jam beker ku berdering sangat keras, aku lalu bangun dan bersiap untuk mandi air hangat.


Setelah mandi, aku membangunkan kak Warta dan menyiapkan mukenah.


Mama sudah sibuk di dapur, sepertinya benar-benar mempersiapkan kebutuhan kami.


"Sudah mandi anak cantik?" tanya mama saat melihatku duduk di meja makan


"Sudah ma, kak Warta juga sudah bangun, tumben dia mau bangun pagi-pagi sekali. Apa kak Warta mau ikut sholat subuh di masjid ya ma?"


Sungguh aku lupa jika hari ini kami akan olahraga pagi, yang ku ingat hanya bangun pagi dan persiapan diri untuk sholat subuh di masjid.


"Ya jelas kakakmu mau bangun pagi, kan kemaren sudah sepakat mau olahraga pagi setelah sholat subuh di masjid. Warti lupa ya?" Kata mama mengingatkan.


"Astaghfirullah lupa ma, kalo gitu Warti langsung pakai baju olahraga saja ya ma, jadi sehabis sholat bisa langsung olahraga pagi" jawabku sambil menepuk dahi karena lupa.


"Iya, nanti sarapan roti bakar dulu ya. Sudah mama siapkan untuk bekal yang bisa dimakan bersama-sama setelah olahraga." jawab mama sambil mengoleskan selai strawberry di roti.


Setelah siap semua, aku dan kak Warta berangkat ke masjid. Dan seperti biasanya, kami bertemu mas Irwan saat melewati rumahnya. Aku bergegas menyalami emak dan bapaknya mas Irwan, lalu kami berjalan bersama-sama menuju masjid.


Emak bilang nanti olahraga bersama-sama, sekalian emak ikut juga tapi hanya sampai di pos kampung, disana tiap pagi-pagi buta sampai jam 7 pagi selalu ada pasar kaget.


Mama bilangnya itu pasar kaget karena mereka berjualan di pagi-pagi buta dan hanya sampai jam 7 pagi saja.

__ADS_1


Rasanya senang sekali hari ini, alhamdulillah ya allah, terimakasih atas segalanya 🀲 aamiin.


__ADS_2