
"Ayok mari-mari gak usah malu cak, kita makan bersama-sama. Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan.
Masih ingat kan do'a sebelum makan?"
Bapak mengajak cak Doni untuk makan bersama-sama menikmati hasil pancingan kita berdua, aku dan cak Doni.
"Irwan, coba kamu pimpin do'anya dulu, dengan suara yang keras ya, biar kita semua bisa menyimak dan mengaminkan "
"Sendiko dawuh Romo" tak lupa aku mengatupkan kedua tanganku tepat di depan wajahku sambil sedikit menunduk ke arah bapak.
Sudah sipp mirip benar sama yang di tipi, sinetron kesayangan aku dan bapak.
**
"Bismillahirohmanirahiim bismikallah... ehh maaf, bijim,
Bismillahirohmanirahiim allahuma barik lanaa fii ma rozaktana wa qinaa adza bannar.. aamiin "
"Aamiin" ucap bapak,emak dan cak Doni bersama-sama
"Ayo nak Doni, ambil nasinya yang banyak, nggak usah malu, anggap kita keluarga nak Doni juga ya.
Emak bungah nak Doni bisa ikut makan bersama-sama, apalagi ini ikan hasil pancingan nak Doni dan Irwan, pasti masih enak rasanya.
Emak bikin sambel tomat juga tadi, pas kamu lagi asyik bakar ikan.
__ADS_1
Trus ini cah kangkung jangan lupa"
saking senangnya emak bicara sambil meletakkan semuanya di piring cak Doni.
Tak lupa emak juga mengambilkan untuk bapak, tapi sepertinya lupa dengan aku yang anak semata wayangnya.
(Haiisss sabar, menyenangkan hati tamu adalah sunnah) ungkapku dalam hati untuk menghibur diri sendiri.
**
Tadi sepulang dari kolam pemancingan memang masih siang dan pas benar waktu bapak dan emak juga pulang dari sawah.
Aku meminta ijin ke bapak dan emak agar cak Doni diizinkan untuk mengolah hasil tangkapan kami di rumah.
Respon emak pun langsung sumringah, dan bapak pun juga langsung mengizinkan keinginan dan maksud kami berdua.
Hmmm aku langsung ngiler begitu membayangkan sambel tomat dan cah kangkung buatan emak.
Akhirnya dari empat ikan nila yang kami bawa pulang dan kami bersihkan tadi, akan kami jadikan dua olahan yaitu nila goreng dan nila bakar.
Nila yang untuk digoreng aku serahkan pada emak, sedangkan aku dan cak Doni membuat nila bakar, bumbunya cuma kecap dan garam tak lupa sedikit merica lalu ditambah air nyemek-nyemek biar bisa dibalurkan di seluruh bagian ikan.
Sambil memanggang sambil sesekali membalurkan bumbu kecap tadi dengan pelepah daun pisang yang dibuat sedemikian rupa hingga bisa seperti kuas.
Setelah agak wangi aroma ikan bakarnya, yang menunjukkan bahwa ikan tersebut mulai matang, aku langsung membungkus ikan tadi dengan daun pisang, yang sebelumnya sudah dibalur lagi dengan bumbu kecap.
__ADS_1
Ikan nila bakar yang terbungkus daun pisang ku letakkan lagi di atas perapian untuk dibakar lagi, sampai tercium aroma yang sangaaaaatt wangi dan membuat cacing perut berdemo.
Setelah semua sudah siap di atas meja makan, aku dan cak Doni bergantian untuk mandi, agar tubuh lebih segar dan siap menikmati makan bersama-sama.
**
"Wan... Irwaaaan..."
"Ehh iya mak, ada apa?"
"Tuhh, ayo langsung dimakan ntr keduluan dicomot cicak lewat."
"Hahh? Kok gitu?"
Tanpa sadar aku sudah melihat piringku berisi nasi serta lauk dan sayurnya, dan ada sedikit sambal tomat di ujung daging ikan.
(Kereeen, piringku bisa langsung terusi penuh)
Aku tersenyum sendiri
Tukk..
"Aduhh.."
"Nglamun aja dari tadi"
__ADS_1
Aku langsung menoleh ke sebelah kiri, ternyata bukan emak yang memukul kepalaku dengan sendok, tapi cak Doni.
Aku kemudian tersenyum dan memulai memakan makanan yang ada di depanku dengan basmallah lagi karena tadi sempat melamunkan hal yang tak perlu.