Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Sedih Yang Berkesudahan


__ADS_3

...Beberapa luka mengajarkan kita untuk menemukan bahagia setelahnya. Mungkin memang kita harus lebih dulu terluka, hanya untuk mempersiapkan diri lagi bahwa jalan kedepannya tidak akan lebih mudah dari yang kita alami sekarang ini....


...**********...


Sudah setahun berlalu, rasanya masih saja tetap sama. Masih sering teringat akan kenangan saat bersama Reyhan.


"Huh,"


Mia menghela nafas panjang berkali-kali.


"Aku gak bisa kalau harus terus-terusan kayak gini. Ayo lah Mi bangkit. Lo harus sembuh dan ciptakan bahagia lo sendiri. Jika hanya terus-terusan begini, kapan lo bakal sembuhnya," ucap Mia kepada dirinya sembari menatap nanar ke arah langit.


Malam ini Mia sengaja duduk sendirian di halaman apartemen. Duduk di sebuah bangku taman dan di kelilingi oleh lampu-lampu kecil dengan cahaya remang-remang serta pemandangan langit yang dihiasi oleh bulan sabit dan bintang-bintang yang berada di sekeliling bulan itu, membuat halaman apartemen ini menjadi semakin terlihat cantik. Apalagi malam ini cuaca juga sedang bersahabat.


"Masih ada gak ya laki-laki yang benar-benar bisa bersyukur memiliki aku?" tanya Mia pada dirinya lagi.


"Masih ada kok Mi," sahut seseorang dari belakangnya secara tiba-tiba.


Suara itu pun berhasil membuat Mia menoleh. Betapa terkejutnya dia, bahwa seseorang itu ternyata adalah Husein. Sungguh laki-laki satu ini benar-benar setia menunggu dirinya.


"Eh Husein. Kok bisa ada di sini?" tanya Mia setelah Husein duduk di sebelahnya.


"Iya kebetulan tadi aku lewat, terus lihat cewe sendirian duduk di sini. Aku pikir itu mbak kunti jadinya aku samperin aja. Eh pas udah dekat taunya kamu Mi," ucap Husein sembari bercanda.


"Dih dikira aku hantu apa?" jawab Mia sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya lagian kamu pakai pakaian serba putih sih , cuma jilbab aja yang gelap," ucap Husein sembari tersenyum.


"Wajah aku juga gelap kok sein," ucap Mia.


"Siapa bilang? Wajah kamu itu bersinar terang bagaikan rembulan tuh," ucap Husein sembari menunjuk ke arah bulan yang ada di langit.


"Heh udah bisa gombal ya," ucap Mia mendelik kesal mendengar gombalannya itu.


"Hehehe geli ya Mi dengarnya?" tanya Husein.


"Gak juga sih, tapi kayak anak baru gede aja suka gombal-gombalan hahaha," Mia pun tertawa setelah mengucap kalimat itu.


"Masya Allah, akhirnya Mia sudah bisa tertawa dengan lepas. Kayaknya udah move on sih," ucap Husein dalam hati.


"Ya dengan cara menikmati hidup aja lah Mi," jawab Husein sembari mengencangkan kedua tangannya ke depan.


"Maksudnya sein?" tanya Mia yang belum paham dengan maksud Husein.


"Ya ikuti aja alurnya. Kalau memang masih di rasa sedih ya nikmatin aja. Jangan buru-buru untuk bisa segera lepas dari luka itu. Nanti juga terbiasa kok dengan rasa sakit itu. Yang terpenting adalah harus tetap bersyukur dan jangan mudah menyerah sama kehidupan. Karena setiap beban dan luka orang itu kan porsinya berbeda-beda," jelas Husein kepada Mia.


"Tapi kamu setuju gak sih sama stigma orang-orang yang mengatakan kalau sakit hati hanya karena di tinggalkan seorang pacar itu wajar, buat apa sedih lama-lama?" tanya Mia lagi.


"Sebenarnya stigma yang kayak gitu ada benarnya juga sih ya. Tapi jujur aku kurang setuju. Karena orang lain kan gak tau gimana rasa sakitnya, mereka hanya bisa menilai tanpa tahu bagaimana rasanya di tinggalkan. Apalagi seseorang itu pernah menjadi bagian yang paling berarti dalam hidup kita," jelas Husein lagi.


"Aku salah ya sein terlalu bertele-tele dalam kesedihan hanya karena laki-laki seperti Reyhan?" tanya Mia sembari tersenyum simpul.

__ADS_1


"Gak kok Mi kamu gak salah. Malah menurutku keputusanmu itu bagus. Kamu gak mau cepat-cepat melupakan dia bukan karena kamu ingin dia kembali kan? Tapi karena semua itu perlu proses. Apalagi dalam perihal melupakan, tentu saja butuh proses yang sangat panjang," kata Husein.


"Iya lah sein. Buat apa juga aku mau nerima dia balik lagi. Kalau pun sewaktu-waktu dia datang lagi dan minta buat balik lagi, aku gak bakal mau. Karena aku gak mau terjebak pada luka yang sama lagi," ucap Mia dengan nada kesal.


"Eh tapi aku gak salah juga kan ya karena mengabaikan banyak hati. Ya aku punya alasan untuk itu, karena aku sendiri masih belum sembuh dari luka ku dan aku gak mau melibatkan orang lain ke dalam luka itu," sambung Mia.


"Gak salah dong. Justru keputusan kamu itu hal yang terbaik. Mungkin memang benar sih terkadang dengan menerima orang baru maka luka kita akan lebih bisa cepat sembuh. Tapi gimana kalau ternyata orang baru itu gak bisa nerima keadaan kita saat itu, dan kita udah terlanjur berharap sama dia kalau dia bisa nyembuhin kita. Tau-taunya dia juga memilih untuk pergi. Bukannya sembuh, malah luka yang ada semakin parah. Lebih baik kayak kamu, gak mau melibatkan orang baru dalam proses penyembuhan lukamu itu. Kamu hebat Mi. Aku salut sama kamu," jawab Husein sembari memberikan pujian pada Mia.


"Ah kamu bisa aja sih sein. Tapi setelah satu tahun lamanya aku melawan rasa sakit ini, akhirnya aku sadar bahwa ada bahagia yang sedang menanti aku. Dan aku juga sadar kalau ternyata di luar sana masih ada orang lain yang perduli sama aku," ucap Mia dengan semangat.


"Iyadong Mi itu sih sudah pasti, contohnya kayak aku," ucap Husein sambil nyengir.


"Hah, maksudnya sein?" tanya Mia seolah tidak mengerti maksud Husein.


"Gak apa-apa hehe," jawab Husein.


Sebenarnya Mia juga tahu bahwa Husein sepertinya menyukai dirinya. Hanya saja Mia juga perlu waktu untuk sendiri dengan menikmati segala luka yang di goreskan dengan sengaja oleh mantan kekasihnya dulu.


Mia bukanlah sosok perempuan yang tidak peka, hanya saja dia tidak ingin melihat orang lain ikut terluka karena dirinya. Karena Mia tahu bagaimana rasanya ketika tidak pernah di hargai oleh seseorang yang disukai.


Makanya, selama setahun dalam proses penyembuhan luka itu, Mia lebih memilih untuk menghindar dari Husein. Karena dirinya tidak ingin Husein terlibat dalam masalahnya. Apalagi jika selama proses penyembuhan dirinya itu, .ia terlalu banyak mengalami masalah yang membuat dirinya menjadi tidak fokus pada pekerjaannya sehari-hari.


Meski begitu, Mia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja ketika berada di luar. Ketika bertemu dengan orang-orang pun Mia selalu menampilkan bahwa dirinya memang baik-baik saja. Padahal di dalam, dirinya sangat rapuh.


Setelah satu tahun masa suram yang dia lalui dengan sepenuh jiwa, akhirnya Mia pun sadar, bahwa masih ada bahagia yang menantinya di sana. Hanya dengan menyudahi sedih ini, maka dia akan mampu mencapai kebahagiaan. Lelah juga rasanya jika terus-terusan menangis setiap malam.

__ADS_1


__ADS_2