Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Serahkan Pada Takdir


__ADS_3

...Maaf jika aku harus menyakiti hati lain hanya karena aku masih belum bisa membuka hati untuk yang lain. Bukan karena aku tak ingin, hanya saja hatiku sendiri masih terjebak dalam kisah cinta yang padahal sudah lama usai. Aku tahu, seharusnya aku menerima kenyataan bahwa kisah cinta itu sudah lama berakhir. Akan tetapi aku juga tidak bisa memaksa diriku untuk melupakan kenangan itu secepatnya. Karena semakin aku mencoba untuk memaksakan diriku bahwa aku bisa melupakan kenangan itu, semakin aku menyiksa hatiku sendiri. Biarlah, biarlah takdir Tuhan yang berbicara. Jika memang kamu ditakdirkan untukku, maka akan ada saatnya Tuhan membuka hatiku untuk menerimamu. Tetapi, jika kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, maka kamu akan mendapatkan ganti yang lebih baik lagi dari aku. Aku tetap menyayangimu sebagai seorang teman....


...Mia...


...****************...


Tidak ada seseorang pun yang meminta untuk merasakan sakit hati karena ditinggalkan untuk waktu yang begitu lama. Bahkan Mia sendiri juga tidak menginginkan hal ini terjadi padanya. Tetapi apa yang bisa Mia lakukan, semakin dia mencoba untuk melawan bahwa dia memang sudah melupakan masa lalunya semakin hatinya terasa sakit, dan dadanya semakin sesak.


Rasa sakit jika dilawan memang akan bertambah sakit. Seharusnya memang dinikmati saja, meski perlahan-lahan. Dan jika sudah tiba waktunya nanti maka akan terbiasa dengan rasa sakit itu. Dan jika Mia sendiri sudah terbiasa dengan rasa sakit itu, maka dia pasti akan menemukan titik dimana dia benar-benar bisa melepaskan masa lalunya.


Mia pindah ke kampung halamannya dulu sewaktu kecil, bukan karena ingin melarikan diri dari kenyataan. Hanya saja Mia sedang berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Reyhan memang sudah tidak lagi menjadi miliknya. Bukan berarti Mia kalah karena melarikan diri dari Reyhan, hanya saja dirinya tidak ingin menambah beban hingga menyiksa batinnya sendiri jika harus terus-terusan melihat Reyhan muncul dihadapannya seperti hantu yang terus saja bergentayangan di otaknya.

__ADS_1


Mungkin dengan pindahnya Mia dari kota itu, adalah satu-satunya cara untuk Mia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dan bisa segera sembuh dari lukanya itu. Dengan pindah ke kampung halaman, justru akan membuat keadaan dirinya semakin membaik. Karena dengan begitu pula, Mia tidak lagi akan pernah bertemu dengan Reyhan di jalan dengan secara tidak sengaja.


"Maaf sein, bukan karena aku tak ingin membuka hati untukmu. Hanya saja aku sendiri belum sembuh dari luka ini."


Sebenarnya Mia juga tidak tega menolak Husein mentah-mentah. Apalagi dengan cara yang seperti ini. Dengan diam-diam pergi meninggalkan kota dan pergi untuk pindah ke kampung halaman untuk menetap disana. Bukan karena Mia ingin menghindari Husein, hanya saja dirinya tidak ingin membuat Husein terlalu banyak berharap padanya.


Maaf sein, kalau aku tidak berpamitan sama kamu secara langsung. Mungkin, Cia juga udah ngasih tau kamu alasan kepindahan ku ke sini. Aku harap kamu bisa mengerti, jika memang berjodoh pasti akan kembali bertemu. Jika tidak, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik lagi. Aku hanya ingin kamu tidak terlalu berharap lagi padaku. Dan aku tidak ingin membuat siapa pun kecewa padaku, karena aku sendiri masih merasakan kekecewaan ini hingga sekarang.


Mia juga tidak mengharapkan balasan apa pun dari Husein mengenai pesan yang dia kirim pada Husein. Yang paling terpenting adalah, Husein membaca pesan itu saja sudah cukup baginya. Karena Mia tidak ingin menyakiti hati orang lain hanya karena merasakan cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena dia mencintai seorang Mia yang mana hatinya masih menyimpan satu nama. Nama seorang laki-laki yang tidak pernah bersyukur karena telah memiliki dirinya.


Semesta memang terlihat begitu sangat tidak adil kepada mereka yang punya rasa ketulusan. Bayangkan saja, Mia seorang perempuan cantik, baik, pemaaf, sopan santun, kemudian dia punya kesempatan untuk memiliki seorang kekasih yang sama sekali tidak pandai bersyukur telah memiliki Mia. Hingga di akhir cerita, kisah cinta Mia bersama laki-laki itu kandas di tengah jalan. Meski pun hubungan asmara yang mereka jalin cukup lama, tetapi tetap saja berakhir karena keegoisan lelakinya yang tidak pernah bisa bersyukur dan tidak pernah merasa cukup terhadap satu perempuan.

__ADS_1


Dan Husein, laki-laki dewasa yang bijaksana, mempunyai jiwa yang tenang, pandai menjaga diri telah berhasil menjatuhkan hatinya kepada seorang perempuan yang mana hatinya telah diisi oleh laki-laki yang tidak tahu diri. Meski pun begitu, Husein tetap saja menunggu Mia sampai dia benar-benar pulih dari luka yang dia alami yang disebabkan oleh kekasihnya. Namun, sejauh mana pun, dan selama apa pun Husein menunggu, sepertinya jawaban Mia akan tetap sama. Bahwa Mia tetap tidak akan bisa membuka hatinya untuk Husein.


Akan tetapi, lihatlah laki-laki brengsek itu. Laki-laki brengsek yang tidak punya tanggung jawab, dan laki-laki brengsek yang tidak pernah bersyukur atas apa yang sudah dia punya, kini justru malah bahagia bersama dengan wanita pilihannya. Sungguh semesta terlihat begitu tidak adil kepada mereka yang benar-benar punya ketulusan.


Apakah memang begitu cara kerjanya semesta. Semua orang baik di muka bumi ini lebih banyak menerima derita, hingga tak jarang membuat mereka lelah dan pada akhirnya menyerah dengan keadaan. Akan tetapi, mereka yang tidak pernah bersyukur atas apa yang dia punya, mereka-mereka yang rakus dan selalu merasa haus atas keindahannya semesta, mereka selalu saja merasakan keberuntungan.


Mungkin saja takdir mereka di dunia memang begitu sangat bagus. Sehingga membuat mereka selalu merasakan kebahagian, meski pun harus dengan menyakiti orang lain bagi mereka hal itu adalah kewajaran. Yang terpenting adalah mereka merasa puas atas kebahagiaan yang mereka capai, walau pun harus melihat orang lain tersakiti atas tindakan yang mereka lakukan.


Tak apalah, jika memang begitu jalan takdir yang sudah Tuhan gariskan, setidaknya orang-orang yang selalu disakiti, seperti Mia dan Husein setidaknya mereka akan mendapatkan kenikmatan. Meski kenikmatan itu tidak akan mereka rasakan dengan begitu cepat, atau bahkan kenikmatan itu tidak akan bisa mereka rasakan di alam semesta. Setidaknya mereka akan mendapatkan kenikmatan yang berganda di akhirat kelak.


Ikuti saja alurnya, jika memang sudah ini sudah menjadi garis takdir Tuhan, maka satu-satunya cara adalah untuk menerima kenyataan dengan lapang dada. Pada intinya adalah, jalani, nikmati dan syukuri.

__ADS_1


Jalani semampunya, nikmati apa yang ada saat ini, dan tetap syukuri apa pun itu karena semuanya tidak lain adalah bentuk pemberian dari Tuhan.


__ADS_2