Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Halo."


"Iya halo, dengan siapa ya?"


Terdengar seperti suara orang yang kebingungan, Andri pun menanyakan kepada penelpon yang barusan menelfon dirinya.


"Udah lupa ya?"


Perempuan.


Ucap Andri dalam hati.


"Maaf kayaknya aku lupa deh, dan gak kenal suaranya juga sih. Dengan siapa dan ada perlu apa?" tanya Andri lagi.


Wajar saja Andri sudah tidak familiar lagi dengan suara Mia. Karena mereka juga sudah sangat lama sekali tidak bertemu bahkan hampir berpuluh-puluh tahun lamanya. Dulu terakhir bertemu saat mereka masih berusia 5-7 tahun, dan sekarang usia mereka sudah hampir kepala tiga.


"Ini Mia," jawab Mia dari seberang sana.


"Mia?" sahut Andri.


Kedengarannya Andri sangat bingung sekali. Ketika mendengar nama "Mia" diucapkan, sepertinya dia mengingat-ingat sesuatu akan tetapi dia sama sekali tidak berhasil mengingatnya dengan baik.


"Hmm Mia siapa ya?" tanya Andri lagi.


"Mia, cucunya mbah Murni loh. Masa lupa?" jawab Mia dengan penuh semangat.


"Cucunya mbah Murni?"


Andri masih memutar-mutar pikirannya ketika mendengar nama nenek Murni diucapkan.


"Oh, Mia Khalisa. Yang dulu nakal banget itu ya?" jawab Andri tidak kalah semangat.

__ADS_1


"Nah iya. Udah ingat kan," sahut Mia sembari tertawa kecil.


"Iya iya, aku udah ingat. Maaf ya soalnya udah lama pake banget kita gak saling sapa dan aku juga udah lupa suara kamu dan bentuk wajah kamu karena kita udah lama gak ketemu," jawab Andri.


"Gimana kabarnya sekarang An?" tanya Mia.


"Alhamdulillah baik, cuman ya agak lumayan sibuk lah. Jarang pulang ke rumah. Nenek udah cerita juga kan pasti sama kamu?" ucap Andri.


"Iya udah kok. Kamu kan sekarang punya klinik terapi dan super sibuk. Jadi jarang pulang ke rumah. Sebenarnya kita sering kok berpapasan di jalan. Cuman ya aku malu buat negur duluan. Karena kelihatannya kamu sibuk banget, dari jalannya aja kamu suka buru-buru," ucap Mia.


"Eh emang iya? Tapi aku gak pernah liat kamu. Bukannya kamu sekarang masih di kota ya?" tanya Andri penasaran.


"Udah 5 tahun aku di kampung An dan udah jadi guru tetap disini juga," sahut Mia.


"Oh ya? Kok gak ngabarin aku sih?" tanya Andri lemas.


"Nanti deh aku ceritain. Oh iya by the way kamu punya waktu gak buat ketemu?" tanya Mia.


"Bentar ya aku liat jawab dulu," ucap Andri sembari melihat-lihat jadwalnya yang akan datang.


"Waduh, jadwalnya padat banget ya pak psikolog," ucap Mia sembari tertawa kecil.


"Jangan ngeledek ya," ucap Andri.


"Yaudah nanti hari Minggu aja gimana? Kamu bisa gak ketemu? Sekalian aku juga mau tanya-tanya. Lebih tepatnya sih mau mesan jasa kamu juga," ucap Mia.


"Emangnya aku jasa kurir yang bisa disewa-sewa,"


Ucapan Andri itupun berhasil membuat mereka berdua tertawa. Meskipun sudah lama gak saling sapa, tetapi saat kembali mengobrol rasanya sudah menjadi akrab lagi.


"Nanti hari Sabtu itu aku pulang ke rumah. Nanti aku ke rumah kamu ya, kamu tinggal di rumah nenek kan?" tanya Andri.

__ADS_1


"Iya An."


"Yaudah, nanti aku ke rumah ya, sekalian mau jenguk nenek. Udah lama juga gak jenguk beliau," ucap Andri.


Meskipun sekarang Andri sudah pulang ke kampung halamannya, tapi benar saja Andri belum pernah menjenguk nenek Mia sudah 5 tahun setengah belakangan. Jadi wajar saja jika Andri tidak tahu kalau sahabat kecilnya itu juga sudah pulang ke kampung dan menetap disana.


Memang mereka satu kampung hanya saja Andri sekarang tinggal di sebelah klinik terapi miliknya, dia pulang ke rumah paling hanya sesekali saja dalam 4 atau 5 bulan untuk menjenguk ayah dan ibunya di rumah. Dan ketika Andri pulang ke rumah, setiap kali dia ingin mampir ke rumah neneknya Mia, pasti tidak ada orangnya. Jadi Andri hanya bisa menitipkan salamnya kepada sang nenek Mia itu.


"Nek, coba nenek tebak. Siapa yang mau dateng kesini nanti hari Sabtu?" ucap Mia kegirangan setelah menutup telfonnya dengan Andri barusan.


"Siapa?" ucap nenek kebingungan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ayo coba tebak siapa?" ucap Mia lagi.


"Mama sama adikmu ya?" ucap sang nenek.


"Eits bukan dong nek," jawab Mia sembari tersenyum dengan lebarnya.


"Lalu siapa?" tanya nenek lagi sambil membentangkan kedua tangannya, pertanda bahwa sang nenek bingung dan tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Mia yang akan datang nanti hari Sabtu.


"Andri mau kesini nek, katanya," jawab Mia sembari memeluk sang nenek.


Entahlah, kini di hati Mia hanya merasakan kebahagiaan. Seketika membuat Mia juga lupa akan mimpi buruknya tentang kenangan bersama Reyhan barusan. Mia hanya merasakan kebahagiaan saja, karena beberapa hari lagi dia akan bertemu kembali dengan sahabat kecilnya dulu.


"Yang benar? Bukannya dia sibuk banget ya, sampai-sampai nenek aja belum pernah lihat dia loh. Paling cuman dapet salamnya doang dari mamanya," ucap sang nenek yang merasa tidak percaya.


"Iya nek serius. Barusan Mia abis telfon an sama dia kan. Nah Mia bilang sama dia kalau Mia mau ketemu sama dia, katanya bisa tapi nanti hari Sabtu dan biar dia aja yang kesini sekalian dia mengunjungi orang tuanya," ucap Mia dengan panjang lebar.


"Oh begitu ya. Baguslah. Nenek juga kangen sama Andri. Udah lama gak liat dia. Nenek jadi ingat dulu waktu kalian masih kecil. Dia sering banget ngalah dan sesekali suka nangis juga karena kamu gak mau temenin dia ke warung. Giliran kamu yang minta ditemenin ke warung dia mau nemenin kamu," ucap sang nenek yang kembali mengingat kenangan masa lalu, masa disaat cucunya Mia dan Andri masih kecil dulu.


"Nenek, udah ah jangan diceritain yang gak bagusnya," ucap Mia manyun.

__ADS_1


"Gak bagus apanya? Kan bagus buat diinget-inget. Lagian nenek suka senyum-senyum sendiri kalau lagi ingat waktu kalian masih kecil dulu. Dulu hampir tiap hari si Andri si rumah ini ya. Sekarang malah jangankan tinggal disini, ketemu aja susah banget," ucap sang nenek sembari menghembuskan nafasnya panjang.


Benar saja, sang nenek sangat merindukan masa-masa dulu. Dimana ketika cucunya Mia masih kecil dan masih tinggal bersamanya. Apalagi Mia ada temannya si Andri. Jadinya rumah tambah rame. Apalagi dulu almarhum suaminya juga masih ada. Dulu dari pagi sampai malam, rumah hampir tidak pernah sepi. Entah karena suara tangis, suara tawa karena Mia dan Andri yang rebutan mainan saling kejar-kejaran hingga terjatuh karena tidak hati-hati. Rasanya sekarang sudah tidak sama seperti dulu lagi. Sekarang cucunya dan sahabatnya Andri itu sudah dewasa. Dan kenangan masa kecil mereka dulu, hanya bisa dikenang saja.


__ADS_2