
"Ci, aku barusan dari rumah dan udah diskusi juga sama mamaku. Pihak sekolah juga menyetujui surat-surat permintaan pemindahan tugasku. Jadi kamu jaga diri baik-baik ya. Maaf aku bukannya ninggalin kamu sendirian, tapi kamu tau kan gimana kondisi aku kalau aku terus-terusan ada di kota ini,"
Karena tidak ingin menyakiti dirinya sendiri untuk lebih lama lagi, Mia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kampung halaman neneknya dan menetap di sana. Kebetulan kepala sekolah juga sudah menyetujui surat-surat perpindahannya ke sekolah yang ada di kampung neneknya. Dan ibu Mia juga setuju dengan keputusan putrinya itu.
Keputusan ini bukanlah murni dari keinginan Mia, hanya saja ibu Mia lah yang meminta dirinya untuk pindah kerja dan menetap di kampung neneknya, dengan tinggal bersama neneknya juga. Karena tidak terlalu tega dengan melihat anak putrinya itu selalu dalam keadaan sedih, dan kondisi yang juga begitu memprihatikan. Semenjak hubungan Mia dan Reyhan berakhir, Mia juga jadi jarang makan tubuhnya semakin hari semakin kurus. Bukan hanya fisiknya saja, akan tetapi kondisi mental ya juga ikut tidak sehat hanya karena terlalu memikirkan Reyhan.
Bukan karena Mia sendiri yang sengaja memikirkan Reyhan hingga tidak dapat melupakan mantan kekasihnya itu, hanya saja semesta selalu punya cara untuk mengingatkan dirinya dengan kenangan ketika masih bersama Reyhan. Apalagi jika semesta selalu mempertemukan dia dengan sang mantan itu di jalan. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Seperti semesta seolah-olah berkata kepada Mia, jangan pernah melupakan Reyhan. Bagaimana pun kesalahannya pada Mia, tetap saja Mia dan Reyhan dulunya sering sekali melalui sesuatu hal yang begitu indah.
Entahlah, Sepertinya ibu Mia juga ada benarnya. Mungkin dengan pergi dan menghilang dari kota ini, dengan tidak melihat dan harus bertemu tanpa sengaja lagi dengan Reyhan, sepertinya ini adalah satu-satunya cara yang paling terbaik untuk Mia agar bisa melepaskan, mengikhlaskan dan melupakan Reyhan.
"Iya Mi gak apa-apa. Tapi gue boleh kan telfon lo malam-malam. Kan lo tau gue takut sendiri di apartemen kalau malam," ucap Cia dengan lemas.
"Iya gak apa-apa kok Ci. Nanti gue bakal temenin lo dari sana, kalo gue gak sibuk ya," jawab Mia sembari memamerkan giginya.
"Ih Mia, temenin gue juga gak apa-apa meski lewat lo sibuk telfon suara aja deh, sampai gue udah terbiasa dan gak takut sendiri lagi," ucap Cia sambil cengengesan.
__ADS_1
"Iya Cia iya, tenang aja gue bakal nemenin lo bahkan sampai lo bobo juga gue temenin kok."
Ketika selesai membereskan pakaiannya Mia pamit kepada Cia untuk pergi ke rumah ibu Mia. Mia menjemput ibu dan adiknya. Kebetulan ibu dan adik Mia ikut ke kampung halaman bersama Mia. Karena mereka juga sudah tidak lama pulang ke kampung untuk menjenguk sang nenek yang di sana.
"Hati-hati ya Mi. Jangan lupa kabari gue kalau udah sampai."
Ucap Cia setelah pelukan itu terlepas dan Mia pun berpamitan untuk pergi.
...****************...
...Mia...
...****************...
Mia bersama ibu dan adiknya berencana akan pergi ke kampung halaman besok pagi, di hari Sabtu karena di hari Sabtu adalah termasuk waktu libur sekolah. Karena di hari Minggu adalah hari libu jadi adiknya hanya akan meminta izin untuk tidak turun sekolah selama tiga hari yaitu di hari Senin, Selasa, dan Rabu. Akan tetapi Mia memilih untuk membenah perlengkapan yang akan dia bawa pada hari ini juga, hari Jum'at. Dan untuk malam ini Mia juga memilih untuk tidur di rumah ibunya.
__ADS_1
"Barang-barang kamu dibawa semua kan Mi?" tanya ibu Mia kepada Mia.
"Iya ma pasti. Tapi belum semuanya Mia angkut. Separuhnya masih ada di apartemen. Besok pagi langsung di bawa dari sana Mia juga udah nyewa truk buat mengangkut barang-barang itu," jawab Mia yang sedang tiduran di atas sofa sembari menonton televisi.
"Syukurlah kalau sudah beres semua. Mama takut aja bakal ada yang ketinggalan nanti, kan jadi repot nanti malah balik lagi karena ada yang ketinggalan," ucap Ibu Mia.
"Hehe gak kok ma udah beres semua. Tadi juga di bantuin sama Cia."
Karena Mia juga sudah memutuskan untuk menetap di kampung halaman neneknya, di mana kampung itu adalah tempat semasa kecilnya dulu. Sebelum almarhum ayahnya di tugaskan ke kota dan mengharuskan mereka untuk menetap di kota ini. Makanya sejak kepindahan mereka ke kota, sudah sangat jarang sekali mereka untuk pulang kampung. Karena jaraknya yang juga lumayan jauh memerlukan waktu hampi 6-7 jam perjalanan baru sampai ke kampung halaman.
Semua barang seperti lemari, ranjang rak sepatu tidak bisa mengangkut menggunakan mobilnya, makanya Mia terpaksa menyewa jasa angkut barang. Meski pun lama, tetapi masih bisa di sewa walau pun ongkosnya lebih mahal dari biasanya. Tapi tak mengapa bagi Mia, demi perjuangannya untuk bisa move on dari Reyhan maka harus akan tetap dia lakukan.
Mia dan orang-orang terdekatnya Mia hanya berusaha untuk menyelamatkan Mia dari keterpurukan yang dia alami. Bukan karena lebay, hanya saja dia juga sudah melakukan banyak hal untuk bisa melepaskan Reyhan sepenuhnya, hanya saja jika dia tetap berada di kota ini yang ada malah Mia hanya akan menyiksa dirinya sendiri.
Selama Reyhan masih ada dalam pandangannya maka akan sangat sulit juga bagi Mia agar bisa melupakan Reyhan. Cara yang terbaik dan mungkin juga satu-satunya cara untuk bisa melepaskan Reyhan dan menerima kenyataan bahwa Reyhan sudah bukan miliknya lagi, mungkin adalah dengan meninggalkan kota ini. Di mana di kota inilah, Mia terlalu banyak menaruh harapan dan menulis impiannya bersama dengan Reyhan.
__ADS_1
Bahkan jika pun Mia masih ada di kota ini dan tidak lagi melihat Reyhan, hanya dengan melihat setiap sudut tempat yang pernah mereka kunjungi saja telah berhasil membuat dirinya kembali teringat akan semua hal tentang Reyhan. Dan terkadang memang untuk melupakan seseorang itu sangat mudah, akan tetapi yang sulit dilupakan itu adalah kenangannya. Apalagi tempat-tempat yang pernah di jamah bersama, dan di saat kita melewati tempat itu kembali tetapi sudah tidak dengan orang itu lagi, maka ingatan akan tentang dia pun ikut kembali dalam pikiran. Maka dari itu sepertinya semesta memang menyuruh Mia untuk segera pergi menjauhi kota ini.