
"Nek, apa Mia harus pergi ke psikolog ya nek. Biar Mia bisa benar-benar lupain Reyhan," ucap Mia dalam Isak tangisnya.
Sang nenek tidak langsung menjawab pertanyaan Mia, tetapi nenek berpikir begitu sangat keras. Sungguh sang nenek sangat merasa iba pada cucunya ini. Saking seringnya dikhianati oleh orang yang sama, dan yang paling parahnya sampai saat ini Mia justru sering sekali memimpikan tentang Reyhan. Masa lalu yang begitu sangat menyakiti dirinya, seolah-olah selalu ingin menghantui Mia.
Kadang Mia merasa bersalah, kenapa dirinya selalu saja memutuskan Reyhan secara sepihak. Tak dapat dipungkiri, Mia juga kadang menyalahkan dirinya sendiri atas kebahagiaan yang Reyhan dapatkan sekarang bersama dengan istrinya dan calon anaknya. Setelah kemunculan Reyhan yang menyapanya lewat pesan game online waktu itu, membuat Mia akhir-akhir ini kembali teringat akan masa lalunya yang kelam itu.
Semuanya bukan karena Mia sendiri sengaja untuk mengingat kenangan itu, akan tetapi ingatan itu sendirilah yang kembali muncul dalam ingatan Mia. Tidak salah jika Mia berpikir salahnya, kenapa dirinya suka sekali memutuskan Reyhan begitu saja. Salahnya kenapa tidak kau mendengarkan perkataan Reyhan dulu. Padahal dulu Reyhan sudah mengatakan padanya, bahwa Reyhan memang lagi berusaha untuk membenah dirinya sendiri dan berubah demi Mia akan tetapi Reyhan juga tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama yang membuat Mia sakit hati sedalam ini.
Padahal justru bukan salah Mia, Mia hanya berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu luka lebih dalam lagi. Hanya saja semesta sepertinya masih belum mendukung dirinya. Entahlah, kenapa semesta sekejam ini pada Mia. Dirinya juga tidak ingin bertele-tele dalam luka lama itu, hanya saja Mia juga tidak bisa memaksa keadaan bahwa dirinya memang masih belum bisa menerima bahwa Reyhan memang bukan diciptakan untuknya.
"Kalau itu keputusan kamu, nenek akan dukung. Tapi apa kamu yakin kalau kamu emang harus benar-benar pergi ke psikolog?" jawab nenek Mia dengan memastikan.
Nenek Mia tahu, bahwa memang melupakan tidak semudah dengan apa yang dibayangkan. Bahkan sudah bertahun-tahun lamanya Reyhan pergi, sampai detik ini ternyata Mia masih belum melupakan mantannya itu sepenuhnya. Mungkin sekarang bukan karena Mia masih mencintai laki-laki itu, akan tetapi karena Mia masih saja terus merasakan sesak dalam dadanya dan akibat luka yang dia alami itu, membuat Mia tidak mau lagi membuka hati untuk laki-laki yang lain.
__ADS_1
"Mungkin dengan terapi ke psikolog rasa sesak yang Mia rasakan karena Reyhan benar-benar bisa hilang nek. Dan Mia harap dengan begitu juga Mia akan bisa segera memulai hidup baru dengan orang yang baru."
Siapa sih yang tidak ingin melanjutkan hidupnya setelah banyak melewati fase kegagalan dalam dan kecewa yang dia terima dari semesta. Tentu saja semua orang ingin segera bisa beranjak dari luka dan rasa kecewa itu, kemudian memulai hidup baru. Tetapi terkadang, ada beberapa orang yang memang tidak mudah begitu saja melupakan masa lalunya dan juga memilih untuk lebih baik hidup sendiri.
Tidak ada ingin begitu, hanya saja orang-orang yang sudah terlanjur berada dalam fase itu, mereka sudah terlalu pasrah dengan keadaannya. Berbeda dengan Mia, meski dia masih merasakan sesak dalam dada, berharap dengan menemui seorang ahli jiwa, dan melakukan terapi maka luka yang dia alami hingga batinnya merasa sangat begitu tersiksa, akan segera bisa pulih dan hatinya kembali menemui belahan jiwa yang bisa menerimanya dengan sangat baik dan tentunya bersyukur karena sudah memiliki dirinya.
"Yasudah kalau itu mau kamu, nenek akan selalu dukung kamu. Nanti nenek akan temenin kamu ya sayang." ucap sang nenek sembari mengelus bahu cucunya itu.
"Iya cucuku sayang. Nenek akan temenin Mia nanti. Jadi besok mau langsung datengin psikolognya?" tanya sang nenek.
"Mungkin dua hari lagi nek, Mia mau menghubungi dia dulu, siapa tahu kan dia masih ada klien jadi belum bisa buat janjian sama Mia."
Kenapa Mia bilangnya dia, karena psikolog itu adalah teman masa kecilnya dulu. Dan temannya Mia itu lulusan S2 profesi psikologi di Universitas Yogyakarta. Karena dulu ketika Mia pindah ke kota saat berumur 5 tahun, makanya kini mereka sudah tidak lagi akrab. Apalagi jika temannya itu adalah seorang laki-laki.
__ADS_1
Tentu saja hal itu akan sangat sulit bagi Mia untuk mencoba akrab kembali seperti dulu. Padahal dulu sewaktu mereka masih kecil, mereka sering sekali bermain bersama, bahkan mereka juga sering tidur satu ranjang karena dia sering sekali bermalam di rumahnya Mia. Dia dititipkan oleh ayah dan ibunya ketika ayah dan ibunya punya tugas ke luar kota, karena dia juga merupakan anak tunggal, dan mereka juga bukan asli orang sini jadi mau tidak mau dia dititipkan di rumah tetangganya, rumah neneknya Mia.
Hal itu juga tidak menyulitkan ibu dan neneknya Mia, malah karena ada dia jadinya Mia punya teman. Karena dulu adiknya Mia Iky memang belum lahir, jadi Mia juga dulu masih anak tunggal. Dan Mia hanya berteman dengan anak tetangga itu saja.
Kabarnya sih, dulu setelah satu tahun kepindahan Mia ke kota, dia juga ikut pindah bersama kedua orang tuanya karena ayahnya yang ditetapkan untuk tugas di luar kota jadi mau tidak mau dia juga harus ikut orang tuanya untuk pindah.
Dan setelah kepindahan Mia ke luar kota itu, Mia tidak lagi pernah bertemu atau hanya sekedar berkomunikasi dengan teman masa kecilnya itu. Tapi kabarnya setelah dia lulus S2, dia kembali ke kampung halamannya Mia karena dia membuka klinik terapi disana. Mia juga hanya mendengarkan kabar itu dari sang nenek, ketika temannya itu pulang ke kampung mereka.
Namun ya Mia biasa saja, juga tidak mau terlalu kepo. Karena dulu keadaannya berbeda. Dulu ketika Mia mendapatkan kabar itu, Mia masih bersama dengan Reyhan, dan Mia menjaga hati Reyhan sehingga tidak membuat dirinya untuk sengaja berbincang dengan laki-laki karena Reyhan pasti akan cemburu padanya.
Tetapi waktu itu, Mia sempat meminta nomor telfonnya kepada sang nenek, dan sampai sekarang pun Mia masih menyimpan nomor telfonnya. Meskipun Mia masih belum pernah menghubunginya. Karena Mia merasa kalau mereka sudah seperti orang asing. Bahkan sempat bertemu beberapa kali di jalan dengan tidak disengaja, mereka juga paling hanya berbincang-bincang seperlunya.
Karena dia memang sangat sibuk sekali, jadi ya begitulah. Jarang sekali ada waktu untuk bersantai. Nama laki-laki itu, Andri. Setelah mendapat persetujuan dari sang nenek, Mia pun menghubungi Andri untuk menanyakan apakah dirinya bisa melakukan terapi jiwa kepada Andri guna untuk menghilangkan rasa traumanya itu.
__ADS_1