
^^^Husein, besok kan hari weekend mau jalan bareng gue gak?^^^
Kring.
Ponsel Husein berdering pertanda bahwa ada sebuah pesan masuk. Namun dia tidak langsung mengambil handphonenya untuk memeriksa siapa yang mengirimkan pesan kepadanya itu.
Sepulang dari taman halaman apartemennya Mia, Husein merasa tidak enak badan, karena kehujanan di jalan. Padahal masih belum setengah perjalanan dia sudah kehujanan. Husein juga tidak memilih untuk berhenti karena dirinya tidak mau menunggu terlalu lama sampai hujan reda, makanya Husein memutuskan untuk menerobos hujan saja.
"Ci, menurut lo Husein marah ya sama gue?" tanya Mia yang sedari tadi menatap layar ponselnya itu.
"Hah, memangnya lo udah bikin dia kenapa Mi?" tanya Cia balik.
"Ini, pesan gue gak di baca juga sama dia apalagi di balas," jawab Mia memelas dengan muka cemberut.
"Dia belum sampai rumah mungkin Mi. Kan rumahnya cukup jauh. Atau bisa juga karena dia kehujanan di jalan jadinya dia singgah dulu nunggu hujan reda," kata Cia yang berusaha menenangkan Mia.
Sebenarnya hal seperti ini sama sekali tidak membuat Mia merasa kecewa karena pesannya yang tak kunjung di baca oleh Husein. Akan tetapi Mia hanya merasa bersalah saja karena dirinya sudah keterlaluan kepada Husein. Keterlaluan karena sampai sekarang Mia baru sadar kalau Husein ternyata benar-benar menyukai dirinya.
Setelah merasa bosan menatap pesan yang dia kirim kepada Husein tak kunjung membiru, akhirnya Mia pun mengalihkan layar aplikasi WhatsApp itu halaman Instagram. Karena sudah lama dirinya tidak membuka laman Instagram miliknya itu setelah hubungannya dengan Reyhan berakhir.
Ketika aplikasi Instagram itu terbuka, Mia pun menuju ke laman profilnya dan menghapus semua foto-fotonya bersama Reyhan yang pernah dia upload.
"Duh, kenapa dulu gue bucin banget sih sama lo Rey, sampai-sampai gue harus up foto bareng lo sebanyak ini," gumam Mia yang merasa kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Seperti kebanyakan orang juga, Mia pun sangat suka sekali meng-upload foto dirinya bersama Reyhan di laman Instagram miliknya. Hanya sekedar sebagai pengingat dan kenangan saja. Jika sewaktu-waktu dirinya rindu kepada mantan kekasihnya itu, maka dia bisa melihat-lihat kembali foto itu. Selebihnya sih mungkin hanya ingin memberitahukan kepada manusia pengisi dunia bahwa Reyhan adalah miliknya. Tetapi itu dulu, sekarang semuanya sudah berubah dan Mia juga harus menelan kenyataan pahit bahwa Reyhan sudah bukan lagi miliknya sekarang.
"Huh."
Mia menghela nafas panjang setelah semua foto dirinya bersama Reyhan berhasil dia hapus dari laman Instagram miliknya. Setelah kembali ke beranda, ternyata yang pertama kali muncul adalah status milik Reyhan yang tengah meng-upload fotonya bersama dengan Angel yang berada di persawahan dekat rumah neneknya Reyhan. Sepertinya laki-laki itu juga sudah mengenalkan Angel kepada keluarganya.
"Ah kenapa harus muncul lagi sih lo?" erang Mia setelah itu melempar handphonenya ke arah sembarang.
Tes
Tak terasa air matanya kembali mengalir di kedua pipi chubbynya itu. Kini rasa sesak yang sudah hampir hilang itu kembali lagi menghampiri. Yang selama ini Mia pikir bahwa dirinya sudah sembuh dan bisa melupakan semua kenangannya bersama Reyhan dulu, ternyata dirinya salah besar. Mia sadar bahwa ternyata melupakan semua perihal tentang dia tidak semudah apa yang dipikirkan.
Padahal sudah satu tahun lebih dirinya terkurung dalam kesedihan yang berkepanjangan, dan setelah dia memutuskan untuk memulai hari baru dengan melupakan segala luka itu, kini hatinya kembali tergores lagi hanya dengan melihat satu foto mantan kekasihnya yang tengah bersama dengan selingkuhannya dulu.
Mia berteriak sekencang-kencangnya sampai suaranya serak. Cia yang mendengar teriakan itu dari kamar Mia, berhasil membuat dirinya berlari sekuat tenaga menghampiri Mia.
"Lo kenapa Mi?" tanya Cia yang berhasil masuk ke dalam kamar sahabatnya yang tidak terkunci.
"Gue cape Ci gue cape sama diri gue sendiri," jawab Mia sembari memeluk sahabatnya.
"Iya iya lo tenangin diri dulu baru kasih tau gue kenapa," kata Cia sembari mengelus belakang Mia.
"Reyhan Ci, Reyhan."
__ADS_1
Setelah satu tahun lebih lamanya ternyata usaha Mia hanya sia-sia saja untuk melupakan Reyhan. Padahal dirinya sudah mencoba sekuat tenaga untuk tetap terlihat baik-baik saja. Tetapi ternyata semesta sama sekali tidak menghargai usahanya itu. Seandainya saja Mia tahu dari awal sebelum melihat foto itu, maka dia memutuskan untuk tidak membuka Instagramnya.
Setelah beberapa saat menangis, Mia pun akhirnya bisa tenang juga tetapi sesak di dalam dada masih tetap membelenggu jiwa. Ucapan bisa berbohong, mungkin Mia bisa saja mengatakan kalau dirinya sudah bisa mengikhlaskan Reyhan. Akan tetapi hatinya tidak akan pernah bohong kalau dirinya masih saja merindukan sosok laki-laki yang sudah berhasil mengukir luka hebat di hatinya.
"Cia, lo mau bantuin gue gak?" tanya Mia pada Cia setelah dirinya berhasil tenang.
"Iya mau, bantuin apa Mia?" ucap Cia yang sembari memegang pundak Mia.
"Nih buka dan unfollow buat gue," ucap Mia sembari menyerahkan handphonenya kepada Cia.
Cia mengenyitkan alisnya sebelah pertanda bahwa dirinya tidak mengerti. Akan tetapi dirinya tidak ingin menanyakan apa maksud dari sahabatnya itu, karena tidak ingin membuat Mia menangis lagi. Cia pun mengambil handphone milik Mia yang diserahkan Mia padanya, dan akhirnya Cia mengerti maksud Mia barusan setelah melihat foto Reyhan bersama Angel di beranda Instagram milik Mia itu.
Cia pun akhirnya berhasil menghapus Reyhan dari daftar pengikut dan mengikuti di akun Instagram milik Mia. Cia tahu bahwa Mia memang masih belum juga sembuh dari lukanya. Makanya setelah dia melihat foto sang mantan bersama kekasih hasil perselingkuhannya itu, akhirnya Mia kembali merasakan sesak di dada.
Cia juga tidak menyalahkan diri Mia sepenuhnya atas rasa sakit itu. Karena Cia juga tahu bahwa melupakan itu tidak semudah dengan apa yang dikatakan. Bukan hanya Mia, bahkan banyak orang di luaran sana yang bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi hanya untuk melupakan seseorang di masa lalu yang pernah menyakiti mereka. Satu tahun itu hanya waktu yang sebentar, apalagi jika dulunya Mia dan Reyhan berpacaran selama 3 tahun lamanya. Mana bisa waktu untuk satu tahun hanya untuk melupakan dia. Apalagi jika mereka sudah terlalu banyak melalui hal-hal menyenangkan sebelumnya.
"Gue harus bersikap gimana Ci sama Husein? Gue jadi gak enak," tanya Mia yang tiba-tiba saja kepikiran dengan Husein.
Mia takut, jika Husein tahu bahwa dirinya ternyata masih belum juga sembuh dari luka yang diberikan oleh masa lalunya, Mia takut Husein justru akan menjauhi dirinya. Mia takut bahwa Husein akan memutuskan untuk berhenti memperjuangkan dirinya dan memilih untuk meninggalkan harapan-harapan nya itu.
"Lo coba buat berdamai sama diri lo sendiri aja deh Mi. Kalo dirasa lo masih sedih yaudah lo nangis aja sepuasnya jangan di tahan. Gue jamin setelah itu lo pasti akan merasa lebih baikan. Perihal Husein nanti gue yang bicara sama dia. Gue yakin kalau dia benar-benar mau serius sama lo dia pasti akan mau kok nungguin lo sampai lo benar-benar sembuh," jawab Cia.
Setelah apa yang diucapkan oleh Cia akhirnya Mia mengerti akan satu hal. Alasan kenapa sampai saat ini dirinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Reyhan bukan lagi menjadi miliknya. Semua itu karena dia masih belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Dan sekarang akhirnya Mia pun mencoba untuk berdamai dengan dirinya sendiri bukan dengan melupakan luka itu sehingga rasa sakit dalam dada masih saja terkurung.
__ADS_1
Perlahan-lahan Mia akan mulai membaik, setelah dia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri. Meski pun membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.