Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Bertemu Mantan di Game


__ADS_3

...Ternyata dunia ini begitu sempit ya. Entah sehebat apapun cara kita untuk pergi dan menghilang dari pandangan seseorang, tetap saja semesta selalu punya cara untuk kembali mempertemukan kita dengan dia. Meski sudah lupa, akan tetapi tetap saja jika kembali dipertemukan dengan cara seperti apapun itu, rasanya hati masih belum siap. Apalagi jika ternyata kembalinya dia adalah dengan niat untuk mengajak kembali membangun hubungan yang sudah lama selesai....


...Mia...


...****************...


"Mia, temenin nenek ke pasar yu. Nenek mau belanja buat bulanan," ucap nenek Mia kepada Mia yang sedang asik memainkan handphonenya.


"Eh iya nek tunggu bentar ya, sebentar lagi selesai kok," jawab Mia.


Ya seperti biasa, Mia sudah terlalu candu bermain game. Apalagi jika dirinya sama sekali tidak ada kegiatan di rumah. Bermain game juga Mia lakukan untuk menghilangkan rasa suntuk dan bosan Apalagi bermain game online adalah hobi baru yang dia temukan.


"Tunggu Mia ya nek, Mia mau siap-siap dulu bentar," ucap Mia kepada sang nenek.


Mia kemudian berlalu pergi ke dalam kamarnya sembari berlari-lari kecil dengan niat agar nenek tidak lama menunggu lagi. Namun sang nenek yang melihat tingkah cucunya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan sedikit tertawa karena tingkah laku cucunya yang masih seperti waktu dia masih kecil berumur 5 tahun.


Setelah beberapa menit bersiap-siap Mia pun keluar dari kamar dan menghampiri neneknya yang sedang duduk di atas sofa. Lalu kemudian setelah itu Mia dan neneknya pun berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan selama satu bulan.


Hai neng, cantik banget sih.


Neng boleh minta nomor WhatsApp nya gak?


Gak boleh sombong neng, kan abang cuman minta nomor WhatsApp bukan nomor baju.


Mia hanya tersenyum ketika mendengar gombalan-gombalan tukang parkir di pasar, tukang jual sembako dan pembeli-pembeli lainnya. Entahlah, pikir Mia dirinya memang selalu dirayu-rayu oleh para lelaki yang entah statusnya apa, apakah sudah menikah, sudah punya pacar atau memang masih jomblo seperti yang kebanyakan mereka ucapkan.


Akan tetapi Mia tetap saja tidak menggubris omongan mereka, Mia hanya melemparkan senyum terpaksa ya saat mendengar kalimat-kalimat rayuan tersebut.


"Cape. Padahal aku b aja. Gak cantik-cantik banget," ucap batin Mia.

__ADS_1


Padahal masih banyak perempuan-perempuan cantik diluaran sana. Hanya saja kenapa ketika Mia keluar rumah dan bertemu dengan orang-orang di jalan. Pasti saja mereka selalu merayu Mia hingga ingin meminta nomor WhatsApp nya. Bahkan tak jarang juga Mia dikatakan sombong dan angkuh karena tidak ingin memberikan nomor telfonnya kepada mereka.


Padahal kan aku gak kenal mereka. Dan mama ada perempuan yang mau nyebarin nomornya sendiri. Ya kali.


"Maaf ya kak, nomor saya privasi," jawab Mia.


"Dih sombong banget sih neng. Jangan sok cantik deh," ucap seseorang yang menegurnya di pasar.


Lah, siapa juga yang sok cantik. Orang aku emang biasa aja, ya cantik sih tapi kan aku gak terlalu percaya diri juga untuk bilang di depan semua orang bahwa aku manusia paling cantik.


Tentu saja Mia merasa kesal dengan ucapan orang tersebut. Padahal dirinya saja tidak kenal dengan Mia, masa iya langsung meminta nomor telfonnya. Apalagi sampai mengatakan kalau Mia adalah perempuan sombong yang angkuh karena merasa paling cantik. Ada-ada saja dasar human.


"Huh cape banget nek," keluh Mia kepada neneknya ketika mereka baru saja sampai di rumah.


"Baru juga belanja satu jam, masa udah cape sih cucu nenek?" ucap nenek Mia.


"Oh yang itu. Namanya juga laki-laki gak bisa mihat perempuan cantik ya gitu. Kan cucu nenek emang paling cantik, dia mah salah kalau bilang cucu nenek angkuh apalagi sombong. Dia belum kenal aja siapa Mia."


Nenek Mia mengelus kepala cucu kesayangannya itu sembari tersenyum kepada Mia. Mia pun ikut tersenyum mendengar kalimat yang baru saja neneknya ucapkan padanya.


"Mia juga sayang sama nenek," ucap Mia sembari memeluk sang nenek.


"Udah ah nenek mau istirahat ke kamar dulu."


Nenek Mia pun masuk ke dalam kamar, setelah selama satu jam berada di pasar tubuhnya yang sudah tua renta itu pun mudah merasakan kelelahan. Maka dari itu sang nenek perlu istirahat.


"Yaudah Mia beresin belanjaannya ya nek."


Jawab Mia setelah mendapatkan instruksi dari sang nenek untuk merapikan belanjaan mereka tadi dan memasukkannya ke kulkas. Setelah beberapa saat Mia selesai membereskan belanjaan tadi, Mia pun kembali tiduran di atas sofa.

__ADS_1


Huh bosan juga kalau gak ngapa-ngapain. Mau ngobrol sama nenek tapi nenek tidur. Daripada suntuk mending gua main game aja kali ya.


Mia pun kemudian mengambil ponselnya yang sempat dia taruh di atas meja ketika dirinya sedang membereskan belanjaannya bersama sang nenek di pasar tadi. Mia kemudian membuka aplikasi game online dan memainkan beberapa kali pertandingan.


Yah kalah. Padahal baru juga naik level.


Saat kali kedua Mia bermain, Mia bersama timnya itu pun kalah. Padahal baru saja dia naik level. Setelah mengalami kekalahan, Mia tidak lagi berniat untuk bermain. Namun Mia sangat terkejut ketika melihat isi pesan yang dikirim oleh seorang teman satu timnya tadi.


Mia bukan? Ini aku Reyhan.


Mata Mia kemudian membesar dan jantungnya kini memompa dengan sangat cepat. Badannya pun ikut gemetar, ketika membaca nama Reyhan dituliskan pada kalimat isi pesan yang dikirim oleh teman se timnya tadi pada Mia.


Reyhan siapa?


Mia sengaja menanyakannya kepada pengirim pesan tersebut. Ya Mia hanya untuk memastikan siapa tahu Reyhan yang dimaksud adalah bukan Reyhan mantan kekasihnya dulu. Akan tetapi sebenarnya Mia sudah menduga bahwa itu memang Reyhan mantan kekasihnya dulu. Tetapi Mia tetap saja menanyakan kepadanya.


Masa udah lupain aku sih. Aku Reyhan mantan kamu.


Deg.


Kini jantung Mia berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Benar saja dugaannya bahwa yang mengirim pesan kepadanya itu adalah Reyhan mantan kekasihnya dulu. Karena Mia tahu kalau dulu selama Mia masih pacaran dengan Reyhan, Reyhan memang sudah memainkan game ini jauh lebih lama dari dirinya.


Mia tidak membalas pesan itu, akan tetapi Reyhan kembali mengirimkan pesan kepadanya lewat game.


Cie yang udah cuek. Katanya dulu gak main game. Kok sekarang main sih Mi?


Oh iya, nomor kamu udah ganti ya? Aku hubungi udah gak aktif lagi.


Tetap saja Mia hanya membaca isi pesan itu, tidak ada sedikit niat pun dihatinya untuk membalas pesan dari mantan sang kekasihnya itu. Pikir Mia sekarang adalah, Reyhan mungkin tengah mengalami penyesalan karena sudah meninggalkan dirinya. Dan lihat saja sekarang, bahkan tanpa bertemu, lewat game pun Mia kembali dipertemukan dengannya dan justru malah dia sendiri yang kembali menghubungi Mia, meski hanya lewat game online. Tetapi tetap saja, sepertinya laki-laki bejat itu, kini sedang menyesali perbuatannya dulu terhadap Mia.

__ADS_1


__ADS_2