Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Kabar Bahagia Atau Duka


__ADS_3

...Memang sudah seharusnya aku merelakan kamu, karena ternyata bukan akulah sumber kebahagiaanmu. Meski aku harus terluka jika melihat kamu bahagia dengan yang lain, dan bukan aku. Jika memang itu yang terbaik untukmu maka aku akan tetap mendukungmu. Percayalah, aku tidak lagi mengharapkan kamu kembali. Meski pun suatu saat nanti kamu kamu akan menyesali semua perbuatanmu padaku dulu. Tetapi percayalah, meski aku tidak bisa melupakannya, kamu tetap bisa aku maafkan. Tanpa kamu harus meminta maaf pun, aku sudah memaafkan mu terlebih dahulu. Selamat menempuh hidup yang baru, bersama dia yang kamu inginkan. Semoga bahagia selalu menyertaimu....


...Mia...


...****************...


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah satu tahun lamanya sejak kepindahan Mia ke kampung halamannya sewaktu kecil dulu. Senyum, tawa, tangis, canda, bahagia dan derita tentu saja selalu setia menemani hari-hari Mia. Hingga suatu ketika itu, ada kabar yang menghampirinya.


Benar saja, satu tahun setelah kepindahan Mia ke kampung, mantan kekasihnya kini akan melangsungkan hari bahagianya bersama kekasih barunya. Dengar-dengar tiga bulan yang lalu, hubungan Reyhan dengan Angel berakhir juga dan alasannya juga sama, karena posisi Angel telah tergantikan dengan yang baru.


Akan tetapi, sepertinya orang baru itu lebih beruntung nasibnya dibandingkan dengan Mia dan Angel sebagai mantan kekasihnya Reyhan yang telah dia permainkan dengan sesuka hatinya. Benar saja, baru tiga bulan Reyhan menjalin hubungan asmara dengan kekasih barunya itu, beberapa hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


Bukan karena Mia dengan sengaja mencari tahu kabar mantan kekasihnya itu, hanya saja kabar teman mantan kekasihnya lah yang memberitahukan tentang kabar ini kepada Mia. Kabar yang seharusnya tidak perlu dia dengar. Seharusnya kabar ini tidak pernah sampai sama sekali di telinganya Mia. Karena bagaimana pun juga Mia masih belum bisa lupa sepenuhnya akan sang mantan kekasihnya itu. Meski pun hati Mia sudah lagi tidak terasa sakit, jika harus mendengarkan kembali tentangnya hanya saja masih menimbulkan rasa sesak dalam dada ketika mendengar kembali namanya.


Meski pun sekarang Mia sudah berhasil berdamai dengan lukanya, bukan berarti rasa sesak itu tidak akan lagi pernah menghampirinya. Hanya dengan mendengarkan namanya disebut saja, sudah berhasil membuat nafasnya tercekik, dadanya terasa sesak. Bukan karena masih ada rasa, hanya saja rasa trauma akan perselingkuhan itu benar-benar tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin Mia akan melupakan sejarah terburuk dalam hidupnya. Luka yang begitu teramat dalam, yang hampir saja membuat dirinya menyerah dengan keadaan dan hampir merasa putus asa pada kehidupan. Semestinya semesta juga harus bekerjasama dengan dirinya. Jika saja semesta memang tidak bisa memberikan Mia kebahagian bersama dengan orang yang dia inginkan, setidaknya jangan membuat dirinya begitu terbebani dengan sesuatu yang sudah lama pergi dari hidupnya Mia.


Sepertinya sekarang semesta sedang tertawa menyaksikan Mia yang kembali terpuruk ketika mendengar kabar bahagia itu dari mantan sang kekasihnya. Mia bahagia mendengarkan kabar itu, karena memang sudah semestinya mantan kekasihnya itu menikah hanya saja bukan dengan dirinya tetapi dengan orang lain.


Akan tetapi Mia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya Mia juga tidak bisa benar-benar merasa bahagia ketika mendengar kabar baik itu datang pada mantan kekasihnya. Tentu saja Mia merasakan sesak. Yang mana seharusnya hari baik itu berada di pihaknya. Karena impian untuk bisa bersanding di pelaminan bersama sang mantan kekasihnya itu, adalah impian yang dulu mereka bangun bersama-sama ketika mereka masih bersama.


Hanya saja impian itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Karena kini, seseorang yang pernah membangun harapan itu bersama Mia, ternyata dia mewujudkan impian itu bersama dengan orang lain bukan dengan dirinya. Dan tentu saja hal ini membuat dirinya semakin enggan lagi untuk berharap kepada orang baru.


"Huh, harusnya aku gak perlu tahu tentang kabar itu. Kalau gini, aku gak tau apa aku harus ikut bahagia atau malah justru mengorek kembali luka," gumam Mia sembari menenggelamkan wajahnya di balik bantal.


Seharusnya jika memang Mia sudah berhasil melupakan sang mantan kekasihnya itu, bukankah sekarang dia mampu membuka hati lagi untuk orang lain. Ya seperti yang dikatakan sahabatnya, Cia.


"Gak ada gunanya Mi kalau kamu terus-terusan menutup hati kamu untuk orang baru. Lagipula dia juga sudah bahagia dengan orang lain. Dan kamu juga harusnya bisa mencari kebahagiaanmu dengan yang lain," ucap Cia lewat telfon.


"Iya Ci, kamu benar banget. Hanya saja, aku terlalu takut untuk kembali memulai, aku tau lukaku memang sudah sembuh. Hanya saja ketakutan ini masih melekat dalam jiwa. Kamu memang benar, bahagiaku bukan hanya ada pada dia, hanya saja aku takut orang baru itu akan memperlakukanku sama, seperti apa yang dia lakukan."

__ADS_1


Bukan karena Mia menganggap semua laki-laki itu sama. Hanya saja, selama proses penyembuhannya waktu itu Mia sempat menjalin kedekatan dengan seorang laki-laki yang dia temui di kampung halamannya. Laki-laki itu adalah Rian. Rian seorang dokter di puskesmas Doris yang ada di kampungnya.


Mia mencoba untuk membuka hatinya untuk Rian, dan Mia juga sudah menceritakan semua hal-hal buruk yang menimpanya. Terutama luka yang dia miliki yang disebabkan oleh mantan kekasihnya. Karena Mia memang tidak ingin menutup-nutupi apa yang dia alami. Dengan alasan tidak ingin Rian merasa sakit hati jika suatu saat nanti dia mengetahui bahwa Mia belum sembuh dari masa lalunya.


dan kebetulan juga Rian menerima semua masa lalu Mia. Hanya saja, setelah mereka menjalin kedekatan beberapa bulan, dan pada suatu ketika Mia sudah mulai merasakan kenyamanan, secara perlahan-lahan Mia juga sudah mulai bisa sembuh dengan luka yang disebabkan oleh mantan kekasihnya dulu.


Hanya saja Rian perlahan-lahan menjauhi Mia, hingga pada akhirnya hubungan Mia dengan Rian berakhir begitu saja, bahkan sebelum mereka memulai. Benar saja, Mia dan Rian hanya menjalin kedekatan tanpa adanya ikatan. Mereka hanya terjebak dalam rasa nyaman tanpa ada status yang jelas dalam hubungan yang mereka jalin. Mungkin hanya Mia saja yang merasa nyaman, sedangkan Rian tidak sama sekali.


Buktinya, setelah mengetahui banyak kekurangan yang ada pada diri Mia, Rian pun akhirnya memilih untuk menjauh secara perlahan-lahan lalu kemudian Rian menghilang tanpa kabar. Dan semenjak Rian memilih untuk pergi tanpa kabar, Mia kembali teringat akan kejadian yang menimpanya dulu. Luka Mia yang disebabkan oleh mantan kekasihnya dulu, kini kembali teringat dalam ingatannya.


Makanya setelah kedekatannya dengan Rian yang tanpa kepastian itu, lalu Mia ditinggalkan oleh Rian begitu saja sebelum mereka memulai akhirnya membuat Mia kini tak lagi mudah percaya pada laki-laki. Bukan karena Mia menganggap semua laki-laki itu sama, sama-sama hanya bisa menyakiti. Hanya saja, omongannya lah yang tidak bisa dipercaya begitu saja.


Atas kepergian Rian sih, memang tidak terlalu meninggalkan luka di hati Mia. Hanya saja dia kembali terluka dengan kenangan masa lalunya yang kembali menghampiri ingatan Mia. Hingga setelah beberapa bulan Mia mendapatkan kabar bahagia dari mantan kekasihnya itu, bahwa mantannya akan melangsungkan pernikahan dalam waktu beberapa hari lagi, membuat Mia semakin tidak percaya dengan ucapan laki-laki.


Mia juga beranggapan bahwa laki-laki itu hanya penasaran saja. Jika mereka sudah mengetahui tentang si perempuan yang dia dekati itu, maka pilihannya hanya ada dua, mempertahankan atau meninggalkan.

__ADS_1


__ADS_2