
Padahal baru saja Mia ingin melupakan semua tentang mantan kekasihnya itu, akan tetapi sepertinya semesta masih belum mengizinkannya sekarang. Meski mencoba untuk beberapa kali, tetap saja Mia tidak punya cara lain selain menangisi laki-laki bejat itu. Padahal sudah sebaik mungkin untuk tidak lagi mengingat Reyhan, akan tetapi sepertinya semesta selalu saja punya cara untuk membawa kembali semua kenangan tentang laki-laki itu ke dalam ingatan.
"Yaudah nanti agak sorean aku ke sana ya sayang," ucap Mia lewat telfon.
"Iya, jangan lama sayang. Aku kangen," ucap Reyhan dengan manja.
Kala itu Reyhan sedang sakit dan dia meminta Mia untuk menjenguk ke rumahnya. Yang namanya kekasih hati, bagaimana mungkin Mia bisa menolak permintaan Reyhan itu. Meski pun dirinya sendiri kelelahan karena bekerja, tetap saja Mia lakukan demi kebahagiaan sang kekasih. Jika bukan sekarang kapan lagi bisa bertemu, pikir Mia.
"Makan dulu yang baru minum obat," ucap Mia pada kekasihnya yang tidak mau makan.
"Gak mau sayang pahit loh," jawab Reyhan dengan nada manjanya.
"Yasudah kalau gitu kita pergi ke dokter saja," ancam Mia.
Reyhan pun merengek seperti anak kecil. Karena memang Reyhan ini tidak pernah mau di bawa ke rumah sakit jika dirinya sedang sakit. Katanya takut mati lah karena kecapean di perjalanan. Padahal alasan sebenarnya adalah karena dia takut sama jarum suntik.
"Yaudah deh iya. Tapi mau di suapi sama ayang," ucap Reyhan.
"Sayang dingin"
__ADS_1
"Kamu jangan pergi ya. Di sini aja tungguin aku,"
"Sayang kangen,"
Ya begitulah kira-kira ocehan Reyhan kepada Mia ketika dirinya sedang sakit. Sangat manja sekali, manjanya melebihi anak kecil.
Huh...
Mia pun menghela nafasnya dengan panjang berulang kali. Ketika baru saja dia membaringkan tubuhnya di kasur dan seketika itu pula kenangan-kenangan bersama Reyhan kembali berkeliaran dalam ingatan. Setelah perjumpaan dirinya dengan Reyhan tadi sore secara tidak sengaja membuat dirinya sulit tertidur padahal malam sudah sangat larut.
Pada malam yang gelap nan sunyi ini, Mia kembali menangis dalam diam dengan bibir yang terkunci tak bisa mengatakan apa-apa. Ketika kenangan itu kembali teringat dalam ingatan. Ah, kenapa harus sesulit ini sih untuk lupa. Padahal kan dia sudah pergi dan lebih memilih perempuan lain. Seharusnya Mia sadar, bahwa dirinya tidak lebih berarti dalam hidup sang mantan kekasihnya itu.
Pilihan yang hanya di perlukan dikala tempat yang dituju sedang ada dalam masa perbaikan. Seharusnya setelah peristiwa pertama kali di mana Mia tahu bahwa Reyhan diam-diam selingkuh di belakangnya, harusnya dia tidak pernah memberikan kesempatan yang ke dua untuk Reyhan.
Jika sudah begini, maka yang menanggung rasa sakit itu hanyalah dirinya. Bukan hanya rasa sakit, akan tetapi juga penuh rasa penyesalan dalam dirinya yang dia simpan sendirian. Tentu saja jika berbicara soal penyesalan, sudah pasti Mia menyesal.
Mia sangat menyesal kenapa dulu dia harus memberikan kesempatan kedua itu pada Reyhan. Mia juga merasa sangat menyesal, kenapa dirinya selalu saja memaafkan dan mau menerima Reyhan berkali-kali dengan kesalahan yang juga sama.
Mia juga merasa sangat menyesal kenapa dirinya harus jatuh cinta pada Reyhan. Jika bisa memilih, di saat-saat pertama mengenal Reyhan dulu, Mia akan memilih untuk tetap mengenalinya. Akan tetapi Mia akan berpikir untuk yang ke dua kalinya lagi perihal mencintai. Jika saja dulu dia tahu bagaimana sebenarnya sikap dan siapa sebenarnya Reyhan maka dia juga tidak akan jatuh hati pada pria itu. Namun siapa sangka, sikap dan perilaku yang Reyhan tampakkan sebelum mereka memilih untuk menjalin asmara, sungguh sangat berbeda sekali.
__ADS_1
Dulu, Reyhan sangat baik. Bahkan dia juga tidak punya teman perempuan lain selain dirinya dan Cia. Waktu pertama kali Reyhan mendekati Mia, dia hanya mengenal Mia dan Cia saja. Bahkan demi untuk mendapatkan hati seorang Mia saja, Reyhan tidak berani meminta langsung pada orangnya. Dia meminta sahabat Mia, Cia untuk memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin kenalan dengan Mia.
Sungguh sangat pengecut bukan? Kenapa tidak, dulu saja waktu ingin mendekati Mia pun Reyhan sama sekali tidak punya nyali. Saking tidak beraninya Reyhan mendekati Mia, dengan bantuan sahabatnya Mia lah dia meminta tolong. Padahal seharusnya jika dia memang laki-laki sejati ya harus berani mendekati perempuan dengan nyalinya sendiri bukan lewat bantuan orang lain.
Laki-laki sejati juga bukan hanya berani bertindak tetapi tidak berani bertanggung jawab. Laki-laki sejati bukan hanya berani mendekat kemudian mengikat dan memberi luka yang pekat. Namun harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan.
Seharusnya dengan mihat caranya Reyhan mendekati dirinya, Mia sadar bahwa Reyhan tidak benar-benar menginginkan dirinya sedari dulu. Akan tetapi hatinya lebih dulu tertutupi oleh cinta yang membutakan segala pikirannya. Setelah berhasil terjerumus ke dalam cinta palsunya Reyhan, kini dirinya harus menanggung seorang diri atas luka pemberian mantan kekasihnya itu.
Kini dirinya harus menahan semua rasa sakit yang dia rasakan sendirian, meski pun Mia sudah menceritakan semuanya kepada ibu dan sahabatnya, tetap saja rasa sakit itu tak kunjung pulih. Apalagi jika semesta selalu saja mempertemukan dirinya dengan Reyhan tanpa sengaja.
Memang benar sih, melupakan itu tidak semudah apa yang dipikirkan. Merelakan tidak semudah apa yang dikatakan dan mengikhlaskan tidak semudah apa yang dibayangkan. Untuk benar-benar bisa melupakan seseorang yang pernah berarti dalam hidup, harus perlu melewati banyak fase dulu. Fase terluka, bangkit, kemudian terluka lagi dan bangkit lagi. Begitu saja fase-fase yang dilalui. Bahkan tak jarang sekali, banyak orang yang lebih memilih untuk kalah dari fase yang sedang dia lalui.
Mia adalah termasuk perempuan yang tegar. Meski dia sering jatuh berkali-kali dalam luka yang sama, dengan usaha yang selalu saja menggagalkan dirinya untuk melupa akan tetapi Mia sama sekali tidak pernah menyerah pada keadaan. Meski pun rasanya sulit sekali untuk dilalui, membuat Mia mengerti. Mungkin dengan menikmati luka itu sendirian adalah jalan terbaik untuk bisa segera keluar dari luka itu. Meski harus tertatih, akan tetapi dirinya harus tetap bertahan dan harus tetap menjalani hidup dengan baik.
Walau terkadang tak dapat di pungkiri, rasa lelah seringkali menghampiri. Apalagi jika dia terlalu banyak pekerjaan, belum lagi masalah hati yang masih belum pulih sepenuhnya. Akan tetapi, Mia tahu dengan luka itu akan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi.
Bukankah luka akan membuat seseorang menjadi lebih dewasa dalam bertindak? Dan Mia ingin dengan luka itu, dirinya tahu bahwa dia adalah perempuan yang bukan hanya dewasa akan tetapi juga dia adalah sosok perempuan yang hebat karena berkat luka itu dirinya belajar. Bahwa apa yang indah di awal belum tentu berakhir dengan bahagia.
Dari luka itu Mia belajar, yang terlihat menginginkan di awal belum tentu memperjuangkan dirinya sampai akhir. Meski sedih seringkali menghampiri, namun tetap saja dirinya harus menjalani hari-hari dengan baik bukan. Semi orang-orang tersayang, Mia harus tetap terlihat kuat di hadapan mereka. Karena dirinya tahu, bahwa masih ada orang-orang baik disekitarnya yang selalu bersyukur karena kehadiran dirinya.
__ADS_1
Sesedih apa pun dia, Mia akan tetap selalu berusaha untuk tegar. Meski sulit untuk dijalani, tetapi dia tahu, bahwa suatu saat nanti dirinya pasti akan sampai pada kebahagiaan yang sebenarnya. Tidak mengapa, jika saat ini sedih dan kecewa akan kepergian sang kekasih masih menghujam dada. Namun dibalik itu semua, dia tahu bahwa ada hal yang lebih indah sedang menanti dirinya.