Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Apa Karena Trauma?


__ADS_3

Mia kini terduduk di atas sofa, setelah terbangun dari tidurnya yang beberapa jam tadi. Terlihat Mia masih sesegukan menangis tak henti-hentinya karena dirinya baru sama memimpikan sang mantan kekasih yang telah menyakitinya begitu dalam.


Ah aku cape ya Tuhan kalau gini terus. Sebenernya aku udah lupa apa gimana sih, kenapa disaat aku udah gak berharap dan udah mencintai dia lagi, justru dia malah datang ke mimpi aku gini.


Mia hanya bisa mengeluhkan apa yang terjadi dengannya saat ini. Entahlah, Mia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang dia tahu bahwa saat ini Mia masih saja menangis sesegukan hanya karena mimpi yang tadi.


"Mia, cucu nenek kenapa kok nangis?" tanya sang nenek yang baru saja keluar dari kamarnya.


Tentu saja sang nenek begitu heran ketika mendapati cucunya yang menangis sembari duduk di atas sofa dengan menenggelamkan wajahnya di atas telungkup lututnya. Karena merasa begitu iba melihat sang cucu yang menangis sampai sesegukan begitu, sang nenek pun menghampiri Mia sembari duduk disamping cucunya itu, dan memeluk sang Mia dari samping.


Mia tidak menjawab pertanyaan dari sang nenek namun Mia kini justru memeluk kembali sang nenek dan tangisnya Mia pun seketika pecah saat di dalam pelukan sang nenek. Sang nenek pun sengaja untuk tidak menanyakan lagi perihal kenapa Mia menangis sejadi-jadinya. Sang nenek tahu dan paham betul, pasti ada sesuatu yang mengganjal di hati cucunya itu saat ini. Karena dulu disaat Mia bersusah payah untuk bisa move on dan Reyhan pun, Mia berperilaku begini hampir tiap hari kepada sang nenek.


Karena tidak mau berfikiran negatif yang nenek pun mencoba untuk menepiskan pikiran negatifnya itu. Sempat sang nenek berfikir apakah ada sesuatu yang terjadi kepada ibu dan adiknya di kota sana. Karena kemarin ibu Mia sempat memberi kabar bahwa adiknya Iky masuk rumah sakit karena kecelakaan bersama dengan temannya saat pulang kuliah. Iya, kini adiknya Iky sudah beranjak dewasa, dan Iky juga sudah bukan lagi seorang siswa SMA melainkan seorang mahasiswa.

__ADS_1


Tetapi cepat-cepat neneknya Mia menepiskan pikiran negatifnya itu, berharap tidak terjadi apa-apa kepada cucunya Iky di kota sana. Karena keadaan yang belum memungkinkan untuk sang nenek menjenguk cucunya yang kecelakaan itu.


Kini Mia sudah tenang, Mia sudah tidak lagi menangis. Tetapi Mia masih saja memeluk sang nenek dengan erat. Nenek hanya bisa mengelus pangkal kepala sang cucu dengan dalih agar sang cucu cepat merasa tenang dan kembali membaik, tidak lagi menangis. Setelah sang nenek merasa bahwa Mia kini sudah bisa tenang, sang nenek pun melepaskan pelukannya itu dan pelan-pelan menanyakan kepada Mia perihal kenapa dia menangis. Karena jujur, sang nenek sangat khawatir dengan keadaannya Mia dan juga cucunya Iky adiknya Mia yang kecelakaan kemarin.


"Udah tenang kan sekarang?" tanya nenek Mia sembari merapikan rambut cucunya yang sempat berantakan karena menangis tadi.


Mia hanya menganggukkan kepalanya sembari mengusap kedua pipinya yang masih basah.


Nenek Mia berusaha untuk menanyakan dengan hati-hati mengenai pertanyaan perihal kenapa Mia bisa menangis sampai sesegukan seperti itu.


"Kenapa harus tentang dia lagi sih nek? Mia cape nek Mia cape. Kenapa dia harus datang lagi sih ke mimpi Mia? Memangnya apa salah Mia sama dia, sehingga dia gak pernah sama sekali buat hidup Mia ngerasa tenang."


Keluh Mia kepada sang nenek. Seketika itu Mia kembali memeluk sang nenek dan kembali terisak dalam pelukan sang nenek. Tanpa Mia memberitahukan sang nenek nama orang itu, sang nenek pun sepertinya sudah tahu bahwa yang dimaksud cucunya itu adalah Reyhan, mantan kekasihnya Mia dulu.

__ADS_1


Meski nenek Mia tinggal di kampung, akan tetapi nenek Mia juga kenal dengan Reyhan bahkan sang nenek pun masih ingat betul seperti apa wajah sosok laki-laki yang bernama Reyhan itu. Karena memang dulu selagi Mia masih menjalin hubungan dengan Reyhan, Mia pernah membawa Reyhan ke rumah sang nenek ini beberapa kali.


Sebenarnya Reyhan ini anaknya memiliki sopan santun yang bagus apalagi kepada orang yang lebih tua, dan sang nenek pun menyukai Reyhan, hanya saja sang nenek masih tidak percaya kalau Reyhan sudah Setega itu memperlakukan Mia. Sang nenek sama sekali masih belum percaya bahwa Reyhan telah menyakiti dan mematahkan hati cucunya berkali-kali.


Padahal, seandainya saja dulu Reyhan tidak lagi menyakiti Mia dan berada pada prinsipnya bahwa dirinya tidak akan lagi pernah mengulangi kesalahannya yang lalu. Mungkin saja sekarang yang menikah dengan dirinya adalah Mia. Dan mungkin juga sekarang mereka berdua sudah mempunyai jagoan kecil seperti apa yang dulu pernah Mia dan Reyhan rencanakan. Sebelum Mia dan Reyhan benar-benar pisah dan memilih jalan masing-masing.


Mungkin sekarang Reyhan memang sudah bisa bahagia dengan kehidupan barunya itu, dengan istri dan juga sekarang dia sudah menjadi calon bapak. Iya, sekarang istrinya Reyhan sedang hamil Setelah beberapa hari lalu, Mia tidak sengaja melihat temannya Reyhan mengucapkan kalimat selamat kepada Reyhan dan juga istrinya yang sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. Dengan memposting foto kebersamaan mereka lewat sosial media, dan kebetulan Mia berteman dengan teman dekatnya Reyhan itu.


Apalagi setelah Reyhan kembali menyapanya kemarin lewat pesan yang dia dikirim di game online. Padahal sebelumnya di dalam foto terlihat sangat jelas bahwa Reyhan dan istrinya itu sedang merasakan kebahagiaan yang paling amat menyenangkan. Tetapi Mia tidak mengerti sama sekali, apa maksud Reyhan menyapanya kembali meski hanya lewat maya.


Pikiran Mia sedang tidak karuan. Mia sendiri saja tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Padahal, dirinya sudah tidak lagi pernah mengharapkan kembalinya Reyhan apalagi rasa sayang sedikit pun sudah tidak ada. Akan tetapi ketika laki-laki itu muncul kembali meski tidak berhadapan secara langsung dengannya, Mia kembali terluka. Luka yang dia kira sudah sembuh ternyata masih belum benar-benar kering.


Sepertinya bukan hanya luka, tetapi rasa trauma untuk kembali mengingat sang mantan kekasihnya itu, apalagi jika harus mendengarkan tentangnya atau melihatnya meski secara tidak sengaja. Hal itu tetap saja membuat hati Mia kembali terkoyak. Bukan karena dendam atau tidak merasa bahagia ketika melihat sang mantan kekasih itu benar-benar berhasil bahagia setelah membuat dirinya menderita. Hanya saja, Mia benar-benar tidak ingin mengingatnya lagi. Tetapi entah kenapa semesta selalu punya cara untuk kembali mengingatkannya.

__ADS_1


__ADS_2