
Setelah tertidur beberapa saat, dan mengizinkan sang nenek untuk mencicipi kue yang sudah dibuat oleh Mia, akhirnya Mia pun memutuskan untuk mandi. Karena sebentar lagi juga sudah waktunya dzuhur. Setelah mandi Mia langsung bergegas mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah sholat dzuhur.
Drrttt
Handphone Mia terdengar berbunyi beberapa kali. Pertanda bahwa ada seseorang menelfon dirinya. Akan tetapi tidak diangkat oleh Mia, karena dirinya sedang menjalankan sholat. Kemudian setelah beberapa kali bergetar, ponselnya pun akhirnya senyap tergantikan dengan suara pesan masuk dari aplikasi WhatsApp.
Ting.
Setelah selesai sholat, Mia pun bergegas untuk mengambil ponsel miliknya. Kemudian Mia meraih ponselnya dan melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Andri dan dua pesan yang belum terbaca.
Mia, aku udah di depan nih. Bukain dong pintunya.
Pesan itu sudah dikirim kepadanya sekitar 8 menit yang lalu, namun karena tak ada jawaban kemudian Mia kembali membaca pesan kedua yang dikirim oleh Andri padanya.
Aku ke rumah dulu ya Mi, sekalian ngajakin mama sama ayahku kesini juga. Mau mandi dulu juga. Nanti kalau kamu udah di rumah kabarin ya.
"Ya Allah, ternyata Andri udah kesini? Aduh kasian banget tuh anak gak ada yang bukain pintu," ucap Mia kepada dirinya sendiri.
Aku ada di rumah kok An, tapi ini baru selesai sholat dzuhur. Nenek kayaknya di kamar juga jadi gak tau kalau ada yang manggil di depan. Maaf ya.
Balas Mia kepada Andri. Namun pesan itu belum dibaca, masih centang dua.
"Kayaknya dia lagi mandi," gumam Mia sembari meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang.
Mia pun bersiap-siap, karena saat ini dia hanya memakai baju tidur Mia pun mengganti bajunya dengan mengenakan baju gamis dan memakai hijab. Tak lupa juga kaus kakinya. Meskipun di rumahnya sendiri, akan tetapi Mia akan kedatangan tamu yaitu teman masa kecilnya dulu. Dan dia adalah seorang laki-laki, meskipun mereka sudah berteman baik sewaktu kecil, tetap saja Mia harus berpenampilan sopan dihadapan laki-laki itu dan Mia juga harus tetap menutup auratnya dihadapan laki-laki yang bukan muhrim baginya.
Setelah Mia sudah siap, Mia pun beranjak keluar dan pergi ke halaman depan rumah. Mia duduk di kursi teras rumah sembari menunggu kedatangan Andri, teman masa kecilnya dulu. Saat ini dada Mia berdegup dengan sangat kencang.Mia tidak tahu penyebabnya apa, yang pasti saat ini Mia sedang gugup sekali karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan temannya sewaktu mereka masih kecil dulu. Mungkin karena Mia yang sudah lama tidak melihat Andri, dan ketika saat ini mereka ingin bertemu kembali makanya Mia menjadi gugup. Padahal sudah lama tak ia rasakan perasaan seperti ini. Sejak hatinya dihancurkan oleh Reyhan, Mia sudah tak pernah lagi merasakan kegugupan seperti ini kepada laki-laki lain. Akan tetapi saat ini, kegugupan itu seolah-olah kembali menghampiri hati Mia. Ada perasaan takut, dan bahagia menjadi campur aduk dalam diri Mia.
Sembari merasakan kegugupan, Mia pun berpikir perkataan apa yang harus dia katakan kepada Andri nantinya. Karena jujur, Mia akan terlihat sangat kaku karena pertama mereka sudah lama tidak bertemu bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya dan kedua Mia sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini lagi. Dan sekarang Mia memikirkan keras harus bersikap seperti apa dan perkataan apa yang harus dia lontarkan nantinya pada Andri.
__ADS_1
"Hai, kok duduk di depan?" tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunan Mia.
"Kamu Mia ya?" ucap orang itu lagi.
Lantas Mia pun beranjak berdiri dari duduknya dan mengiyakan ucapan seorang laki-laki itu.
"Iya saya Mia. Kamu?" ucap Mia yang tampak kebingungan dengan siapa laki-laki yang berbicara padanya itu.
"Ini aku, Andri," ucap laki-laki itu.
Mia tampak tak percaya dengan ucapan laki-laki itu. Lantas seorang laki-laki yang berdiri dihadapannya saat ini adalah sosok laki-laki dengan tinggi badan sekitar 180 cm, berkulit putih dan rambut yang terlihat rapi.
"Kok bengong?" ucap Andri lagi.
"Eh gak apa-apa. Sendiri aja nih kesini?" tanya Mia pada Andri.
"Oh om sama tante ikut juga ya?" tanya Mia lagi.
"Iya aku yang ajak gak apa-apa kan? Maklumi aja ya jalannya agak lamban sedikit. Karena udah tua juga," sahut Andri sembari tersenyum.
Mia hanya ikut tersenyum sembari mengangguk mendengar ucapannya Andri itu. Sembari berpikir, kenapa dia tidak menggandeng tangan kedua orang tuanya seperti dirinya yang menggandeng tangan sang nenek ketika bepergian ke luar.
"Silahkan An masuk duluan," ucap Mia pada Andri.
"Bareng aja," jawab Andri singkat sembari melirik ke arah kedua orang tuanya yang hampir sampai.
Mendengar kalimat itu, Mia hanya tersenyum dan menundukkan penglihatannya sebentar.
"Ma yah, ini Mia loh. Gimana cantik ya ternyata," ucap Andri tanpa basa-basi kepada orang tuanya.
__ADS_1
Seketika itu berhasil membuat Mia malu-malu dengan ucapan Andri kepada kedua orang tuanya.
"Iya dong. Cantik banget," ucap ibu Andri.
Padahal sebenarnya Mia dan orang tua Andri juga sebelumnya sudah pernah bertemu, dan orang tua Andri juga sudah pernah berkunjung ke rumah neneknya Mia. Akan tetapi Andri tidak mengetahui hal itu. Karena orang tuanya yang selalu lupa untuk memberitahu kepada anaknya itu bahwa teman kecilnya dulu juga sudah pulang ke kampung halaman.
"Makasih. Oh iya om tante ayo masuk, An ayo masuk juga," ucap Mia kepada Andri dan orang tuanya Andri.
"Duduk dulu ya An, om tante. Mia masuk dulu manggil nenek ke kamar," jawab Mia setelah menyalami tangan orang tua Andri.
Sebelum Mia pergi ke kamar sang nenek, mereka sempat tertawa karena ucapan Andri kepada Mia ketika menyalami tangan orang tuanya.
"Aku gak disalami nih?" tanya Andri yang menyodorkan tangan kanannya ke depan.
"Ye kan bukan muhrim," jawab Mia.
"Kamu salah, belum muhrim Mia bukannya bukan muhrim," sahut Andri yang berhasil membuat Mia tersenyum dan orang tua Andri juga hanya tertawa kecil mendengar ucapan anak mereka itu.
"Belajar gombal darimana?" tanya ayah Andri.
"Dari ayahnya lah, dari siapa lagi," sahut mama Andri. Andri hanya tersenyum mendengar itu.
"Nek, Andri udah datang nek ada om sama tante juga," ucap Mia yang masuk ke dalam kamar sang nenek.
Dilihatnya ternyata sang nenek lagi duduk di atas sejarah. Sepertinya sang nenek baru saja menunaikan ibadah sholat dzuhur.
"Oh iya, iya Mia temani mereka dulu. Nanti nenek susul," ucap sang nenek.
Lalu Mia pun pergi ke ruang dapur mengambil kue, semangka dan es buah yang dia siapkan dari tadi untuk menyambut kedatangan temannya itu.
__ADS_1