
Selama dinas ke luar kota, Mia juga jarang berkomunikasi dengan Reyhan. Karena Mia yang cukup sibuk dengan pekerjaannya.
Apalagi setelah Mia mendapatkan kabar buruk dari sahabatnya Cia mengenai Reyhan, Mia tidak lagi menghubungi kekasihnya itu hanya untuk mengetahui bagaimana kabarnya.
Begitu lah Reyhan pun tidak menghubungi Mia. Jika Mia tidak lebih dulu yang menghubungi Reyhan, maka Reyhan sama sekali tidak menghubunginya.
Apalagi jika keadaannya sudah seperti ini. Dan sepertinya memang benar kalau Reyhan kembali mengkhianati dirinya. Bagaimana Mia tidak curiga sedangkan Reyhan saja asik dengan dunianya sendiri seolah-olah dia tidak punya kekasih sama sekali.
Dulu juga ketika ketahuan selingkuh, Reyhan juga sering menghilang. Bahkan tidak memberi kabar kepada Mia sama sekali. Dan sekarang terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.
Handphone Mia pun bergetar, pertanda ada sebuah pesan di WhatsApp masuk.
Reyhan❤️
Sayang, kamu kapan pulang?
Mia sedikit kaget ketika melihat siapa pengirim pesan itu. Bagaiman Mia tidak kaget coba, sedangkan selama seminggu dia dinas di luar kota, hanya beberapa kali saja mereka berkomunikasi, selebihnya tidak ada kabar sama sekali.
Akan tetapi sekarang, setelah dia pulang tiba-tiba saja Reyhan menanyakan kapan dia akan pulang. Padahal dia sudah di jalan menuju pulang.
^^^Iya, ini aku masih dalam perjalanan pulang^^^
Balas Mia. Tidak ingin panjang lebar karena hati Mia masih porak-poranda karena foto yang dikirim oleh Cia beberapa hari yang lalu.
Dan setelah itu tidak ada lagi balasan dari Reyhan. Sepertinya dia sedang asik berduaan dengan Angel, pikir Mia.
Pikiran-pikiran negatif yang tertuju kepada Reyhan pun tidak bisa Mia singkirkan dari otaknya. Hatinya bergejolak menahan perih ketika teringat dengan foto itu dan saat-saat pertama kali Reyhan selingkuh darinya.
Sungguh kali ini rasanya lebih sakit dari sebelumnya. Lantas kini Reyhan telah berbuat secara terang-terangan. Pikirannya pun kini sedang kalut.
Memikirkan antara masalah hati dan pekerjaan yang baru saja selesai. Badan sudah terasa lelah, setidaknya jangan sampai batin pun merasakan kelelahan. Hanya saja, dia sendiri tidak bisa mengendalikan rasa sakit itu.
Sakit yang tidak bisa dia terima bahwa pada nyatanya kekasihnya kini kembali mengkhianati dirinya. Dengan rasa sakit itu juga, Mia berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka.
Kini Mia sudah sampai di apartemennya, kelihatannya Cia sahabatnya masih belum pulang. Dan syukurlah, karena kesunyian ini akan membantu dirinya menghilangkan sejenak rasa sakit yang ada di hati dengan membaringkan tubuh sembari menangis sekencang-kencangnya.
Tidak ada juga yang akan bisa mendengar suara pekikan tangisnya itu, pikir Mia. Setelah dirasa puas menangis, Mia pun kini merenung sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Kok bisa ya aku sayang banget sama orang yang kayak gitu?" ucap Mia secara tiba-tiba.
"Kenapa dulu aku gak mutusin dia aja?" tanyanya pada diri sendiri.
"Astaghfirullah ya Allah pusing," erang Mia sembari melepaskan jilbab yang dia kenakan.
Handphone Mia berdering beberapa kali, akan tetapi tidak dia gubris sama sekali. Sepertinya dia benar-benar lelah saat ini. Setelah satu jam waktunya dia habiskan untuk menangis dan melamun, akhirnya Mia pun bisa tertidur dengan lelap.
Tok tok tok...
__ADS_1
Sepertinya seseorang sedang mengetuk pintu kamar Mia. Beberapa kali engsel pintu bergerak sendiri, namun sepertinya kamar Mia tidak berhasil terbuka. Karena ketika masuk tadi siang, Mia sengaja mengunci pintu kamarnya. Agar tidak ada yang mengganggu dirinya untuk saat itu.
Setelah beberapa kali ketukan, akhirnya Mia pun terbangun dari tidurnya. Mia meraih handphonenya yang tergeletak di samping tangan kirinya, lalu Mia melihat jam di handphonenya itu.
Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16:20. Mia pun tergesa-gesa untuk segera melaksanakan sholat ashar. Karena saking lelahnya, dia pun tidak sadar telah melewatkan waktu sholat ashar.
Seseorang yang mengetuk kamarnya tadi, kini sudah pergi. Entah siapa dibalik pintu kamarnya yang mengetuk tadi hingga berhasil membangunkan Mia.
Mia sengaja tidak menyahuti orang itu apalagi untuk menghampirinya. Karena Mia tahu pasti seseorang itu adalah sahabatnya Cia. Mungkin saja Cia hanya memastikan apakah dirinya sudah pulang atau tidak, pikirnya.
Setelah Mia selesai menunaikan sholat ashar, kembali pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Namun ada kejanggalan di hati Mia. Jika saja itu adalah Cia, maka sudah pasti Cia akan memanggilnya juga. Tetapi ini, hanya suara ketukan pintu tanpa ada panggilan namanya.
"Siapa?" teriak Mia dari dalam kamarnya.
Karena penasaran siapa yang mengetuk pintu itu akhirnya Mia pun menanyakannya dari dalam kamar, tanpa membuka pintu kamarnya. Sebelum dia mengetahui siapa yang ada di balik kamarnya itu.
"Ini aku," ucap seseorang itu.
Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telinga Mia.
"Reyhan," ucapnya pelan.
Mia pun terdiam sejenak, setelah mengenali siapa pemilik dari suara itu.
"Ngapain dia kesini?" gumamnya lagi.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Mia jutek sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
"Aku khawatir yang, lagian aku telfon gak di angkat-angkat," jawab Reyhan yang masih berdiri.
"Aku ketiduran," ucap Mia dengan dingin.
"Kamu kenapa ih. Kok dingin gini?" tanya Reyhan yang merasa aneh dengan sikap Mia itu.
Namun tidak ada jawaban dari Mia, Mia hanya bergegas pergi meninggalkan Reyhan untuk duduk di sofa dan Reyhan pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu gak kangen apa sama aku?" tanya Reyhan lagi yang juga ikut duduk di samping Mia.
"Ngapain kangen sama pacar orang?" ucap Mia tanpa melihat ke arah Reyhan.
"Hei, pacar siapa? bukannya aku pacar kamu?" ucap Reyhan dengan sedikit membentak.
Lihat saja, Reyhan sama sekali tidak mengerti maksud Mia. Bahkan dirinya malah membentak Mia hanya karena Mia berbicara seperti itu.
"Emang faktanya gitu kan Rey," jawab sembari memalingkan wajahnya agar dia menatap Reyhan.
"Kamu ini kenapa sih, baru pulang kok marah-marah aja," ucap Reyhan seperti suara orang yang ingin menangis.
__ADS_1
"Mulut buaya," ucap Cia yang sengaja mengintip mereka diam-diam.
"Udahlah Rey, kamu bilang sama aku sekarang. Mau kamu itu apa sih sebenarnya?" tanya Mia.
"Maksudnya apa loh Mi, aku gak ngerti," jawab Reyhan.
Mia merasa sangat greget pada Reyhan. Ini Reyhan pura-pura bodoh atau memang beneran bodoh sih, pikir Mia.
"Aku udah tahu Rey, kamu selingkuh lagi kan sama Angel?" ucap Mia penuh penekanan.
Deg.
Reyhan merasa kaget karena syok. Kenapa Mia bisa mengetahui semuanya, pikirnya.
"Siapa yang ngomong?" tanya Reyhan.
"Kamu gak perlu tahu. Yang penting itu kamu udah bohongin aku lagi," ucap Mia.
"Gak ada Mi, aku gak bohongin kamu. Aku juga gak selingkuh dari kamu. Buat apa aku suka sama Angel sedangkan dia kan yang udah pernah bikin kamu sakit hati,"
Sudah ketahuan juga, masih saja mengelak, banyak alasan. Memangnya di Reyhan ini pandai sekali menutup kebohongan dirinya. Untung saja Mia punya bukti fotonya.
"Oke, kamu tunggu di sini," ucap Mia pad Reyhan.
Mia pun beranjak pergi meninggalkan Reyhan dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil handphone miliknya. Lalu kembali lagi menghampiri Reyhan dan memberikan handphone miliknya kepada Reyhan.
Mata Reyhan pun langsung terbelalak, alisnya mengernyit dan dia diam seribu bahasa.
"Kamu dapat dari mana foto ini?" tanya Reyhan dengan penasaran.
"Kita putus aja ya Rey," bukannya menjawab pertanyaan Reyhan Mia malah memutuskan hubungan mereka tanpa berpikir panjang lagi.
Karena dia tidak ingin sakit hati lebih lama lagi hanya karena laki-laki bajingan seperti Reyhan itu mempermainkan dirinya sesuka hatinya.
"Yaudah kalau itu mau kamu," jawab Reyhan kemudian pergi meninggalkan dirinya.
"Laki-laki pengecut," ucap Cia yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Mia.
Mia pun memeluk sahabatnya itu, kemudian tangisnya pun pecah dalam pelukan Cia.
"Yasudah gak apa-apa, laki-laki bukan hanya dia Mi," ucap Cia sembari mengusap kepala sahabatnya itu yang di tutupi oleh jilbab.
Mia bahkan masih tidak percaya bahwa sekarang dirinya telah putus dari Reyhan. Bahkan Mia sendiri tidak tahu bagaimana bisa Reyhan mengenal Angel. Sedangkan yang Mia tahu, Reyhan mengenal Angel saja hanya dari ceritanya Mia waktu itu.
Apa mungkin karena Reyhan ternyata diam-diam mengintip media sosial milik Angel. Karena waktu itu Reyhan sangat penasaran sekali ingin melihat bagaimana rupanya si Angel ketika Mia menceritakannya kepada Reyhan.
Seharusnya dirinya tidak menceritakan sedikit pun perihal Angel pada kekasihnya itu, lebih tepatnya mantan kekasihnya.
__ADS_1