Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Mati Rasa


__ADS_3

Banyak bentuk kesedihan yang akan menghampiri setiap orang yang menjadi penghuni semesta. Dan orang lain tidak punya hak sama sekali untuk ikut campur atau hanya sekedar berkomentar dengan mengatakan "halah, gitu aja kok sedih. Masih beratan masalah saya" atau "baru juga segitu udah cengengnya luar biasa" dan masih banyak lagi komentar-komentar orang lain yang bisa menjatuhkan dan membuat kita semakin terluka.


Sebenarnya rasa sedih, menangis karena rasa sakit akan luka itu wajar dan masih manusiawi. Bahkan orang lain juga seharusnya tidak patut jika hanya untuk membandingkan masalahnya dengan yang dialami oleh orang lain. Karena semesta juga sudah berkata, bahwa setiap masalah yang ditanggung seseorang itu berbeda-beda dengan yang lainnya. Dengan porsi yang berbeda-beda juga. Hanya saja rasa sakit yang diderita bisa sama atau bahkan bisa melebihi rasa sakit yang telah di anggap remeh oleh orang lain.


Kita tidak bisa hanya dengan menghakimi seseorang atas kesedihan yang berkepanjangan dia alami. Atau bahkan atas rasa trauma dan takut untuk memulai kembali. Dan tidak ada yang bisa menyalahkan dirinya atas tindakan yang telah dia ambil. Meski ada plus dan minusnya.


Begitu juga yang tengah Mia rasakan saat ini. Bukan lagi tentang rasa sedih karena ditinggalkan oleh seseorang. Melainkan rasa trauma dan takut untuk kembali memulai hubungan dengan seseorang. Ditambah lagi dengan komentar-komentar buruk orang lain tentang dirinya.


"Udahlah Mia, masa laki-laki kayak gitu aja kamu galau."


"Masa sih Mia, kamu itu cewe yang cantik loh. Masa hanya gara-gara satu cowo kamu jadi gak mau lagi pacaran."


Udah Mi. Lupain aja laki-laki kayak gitu. Nanti juga kamu bakal ketemu sama laki-laki yang lebih baik dari dia."

__ADS_1


Begitulah kira-kira komentar-komentar mereka yang mengaku bahwa dirinya bersimpati atas peristiwa yang terjadi pada Mia. Mungkin lebih tepatnya sih menghakimi, bukan simpati. Bayangkan saja, Jia seandainya mereka memang merasa simpati dengan keadaan Mia sekarang, justru mereka malah memberikan dukungan dalam bentuk positif, atau hanya sekedar mengakui bahwa apa yang Mia alami dan dia rasakan itu memang sakit dan tidak mudah juga. Bukannya malah menyalahkan dengan dalih memberikan dukungan.


Antara kalimat dukungan dan semakin menjatuhkan memang tidak jauh berbeda sih. Hanya saja, jika memang tidak bisa memberikan bantuan, ya setidaknya jangan pernah mengatakan hal-hal yang malah membuat hati semakin perih. Mungkin memang bagi mereka yang tidak terlalu serius dalam mencintai seseorang, dan ketika kehilangan itu menghampiri mereka ya wajar saja jika mereka menganggap hal itu adalah hal yang biasa.


Mia juga menganggap bahwa ditinggalkan itu adalah hal yang wajar. Hanya saja, seharusnya tidak ada yang menghakimi atau bahkan menyalahkan dirinya atas tindakannya untuk tidak lagi membuka hati untuk orang lain. Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali Mia pernah disakiti dan bukan hanya dengan satu laki-laki akan tetapi ada laki-laki lain yang juga membuat dirinya menjadi tidak lagi percaya perihal cintanya seorang laki-laki. Seperti sudah mati rasa saja rasanya, bahkan setelah Rian memilih untuk menghilang, Mia tidak lagi punya gairah untuk dekat dengan laki-laki mana pun. Jangankan dekat, untuk sekedar merespon mereka yang mengajak kenalan saja, Mia tidak punya selera untuk itu.


Bukan salah dirinya juga, hanya saja kenapa semesta begitu liar dalam menanamkan luka pada hati seorang Mia, hingga membuat dirinya trauma, juga takut untuk membuka hati lagi bahkan juga tidak ada rasa lagi ingin memulai hubungan asmara yang baru dengan orang baru.


Meski pun sekarang Mia sudah tidak lagi punya rasa untuk memulai hubungan asmara baru itu, akan tetapi Mia tetap percaya bahwa suatu saat nanti jika sudah tiba waktunya dia akan menikah, maka hatinya akan terbuka dengan sendirinya. Jika memang nanti ada seseorang yang akan benar-benar tulus menyayangi dirinya, maka hatinya juga pasti akan luluh dengan sendirinya.


Hanya saja untuk saat ini, Mia sudah tidak lagi punya selera untuk sekedar menjalin hubungan. Apalagi jika hubungan itu tidak serius, hanya main-main saja, jalan-jalan kesana kemari, saling bercerita tentang hal-hal menyenangkan yang membuat diri menjadi nyaman. Namun sayangnya, tidak ada hubungan yang jelas bahkan akan percuma saja membangun sebuah hubungan jika di antara salah satunya tidak tahu pasti hubungan itu akan dibawa kemana.


Mia hanya merasa sudah muak dengan hubungan yang seperti itu. Menurutnya terlalu bertele-tele. Tidak mengapa sih jika memang akan menjalin hubungan lama, yang penting adalah hubungan itu harus jelas arahnya akan kemana. Bukannya seperti hubungan Mia dengan Reyhan dulu, hanya berpacaran lama-lama tapi tidak jadi menikah juga. Atau tidak juga seperti hubungannya dengan Rian yang bahkan statusnya saja tidak jelas.

__ADS_1


"Aku tahu Mi, jadi kamu itu emang gak gampang. Tapi apa salahnya kalau kamu mencoba untuk membuka hati kembali untuk laki-laki yang baru. Kan gak semua laki-laki itu sama Mi."


Cia selalu saja mengeluhkan tentang sahabatnya itu, mengeluhkan perihal kenapa tidak lagi mencoba untuk mencintai orang baru.


"Aku bukannya tidak percaya laki-laki lagi. Hanya saja untuk saat ini, aku lagi gak ada niatan buat kembali berhubungan sama laki-laki. Aku masih lelah Ci," ungkap Mia.


Sepertinya sahabatnya Cia juga tidak terlalu memahami sahabatnya itu. Mungkin karena mereka yang sudah tidak lama bertemu, ditambah lagi mereka mengobrol hanya lewat telfon saja, itu pun sangat jarang karena mereka yang bekerja dan juga punya kesibukan serta kehidupan masing-masing.


Padahal dulu Cia adalah salah satu orang yang sangat mengerti padanya. Dan selalu mendukung apa pun keputusan Mia, bahkan jika itu keputusan buruk yang Mia ambil, Cia tetap saja mendukung sahabatnya itu. Karena Cia tahu, bahwa Mia memang agak sedikit keras kepala. Mia akan rela melakukan apa pun demi kebahagiaan orang lain, meski pun dia sendiri tidak bahagia bahkan disakiti oleh orang lain.


Ketika dulu waktu Mia memutuskan untuk kembali memaafkan dan menerima Reyhan juga, Cia tidak mendukungnya hanya saja karena Cia tidak ingin sahabatnya kecewa, pada akhirnya Cia juga setuju dengan keputusan sahabatnya itu. Padahal Cia benar, bahwa sesuatu yang sudah terlanjur buruk maka akan susah untuk memperbaikinya, bahkan Mia saja tidak pernah bisa membuat Reyhan menjadi baik kembali, meski dengan kata maaf yang beribu-ribu kali juga Reyhan tidak akan pernah berubah jika perubahan itu tidak datang dari dia sendiri.


Hanya saja Mia tetap kekeuh untuk menerima Reyhan kembali, lagi dan lagi. Dan lihatlah hasil dari keputusannya waktu itu. Kini Mia tidak lagi mengharapkan cintanya orang lain. Dan sekarang Mia sudah mati rasa untuk mencintai kembali.

__ADS_1


__ADS_2