
Sudah setengah tahun Mia tinggal di kampung halamannya. Melewati begitu banyak suka suka, tangis dan tawa. Waktu luang ketika libur kerja, Mia gunakan untuk berjalan-jalan atau sekedar santai di rumah bersama sang nenek. Tetapi di waktu weekend tiba, Mia lebih memilih untuk berjalan-jalan di pantai atau melihat-lihat gunung dari halaman belakang rumah.
Menghirup udara segar, mendengarkan berbagai macam suara binatang dan jauh dari hiruk pikuk kota yang begitu berisik. Membuat hati terasa tenang, dan pikiran terasa damai. Yang tadinya pikiran dipenuhi oleh kenangan buruk di masa lalu, kini perlahan-lahan kenangan itu sudah mulai lenyap dari isi kepala. Apalagi selama setengah tahun Mia di sini, dia juga memberanikan diri lagi untuk membuka hati. Mia beranikan diri membuka hatinya untuk seorang laki-laki yang dia kenal di kampung halamannya sekarang ini.
Laki-laki itu namanya Rian. Rian adalah seorang dokter yang bertugas di kampung halaman Mia. Kebetulan di kampungnya itu hanya ada satu puskesmas yang lumayan besar, dan beberapa tahun ke depan juga puskesmas itu rencananya akan di bangun lebih besar lagi dan akan diresmikan sebagai rumah sakit Doris. Karena puskesmas Doris di kampung Mia juga tidak terlalu besar, jadi hanya ada tiga orang dokter dan beberapa perawat yang bekerja di sana, salah satunya adalah Rian.
Satu Minggu setelah kepindahan Mia dari kota ke kampung halaman, Mia tiba-tiba sakit. Karena terlalu lelah setelah perpindahannya itu. Sehingga Mia terpaksa dirawat di puskesmas Doris dan yang menanganinya adalah dokter Rian yang kemudian Mia dan dokter Rian menjalin hubungan meski hanya sekedar dekat, namun meski pun begitu Mia juga sudah terlanjur nyaman pada dokter Rian, namun sayangnya kenyamanan itu hanya sekedar kehangatan sementara yang diberikan oleh dokter Rian pada Mia.
"Sebenarnya aku lagi gak mau mencintai orang lain lagi. Hanya saja aku juga gak mau terus-terusan kepikiran sama masa lalu aku yang kelam."
Mia sama sekali tidak menyimpan satu rahasia pun kepada dokter Rian, tentang masa lalunya bersama Reyhan dulu. Mia menceritakan semuanya tentang apa yang sudah Reyhan perbuat padanya dulu. Dengan dalih, jika Rian memang serius dengan dirinya maka Rian akan bertahan dan menerima masa lalu Mia. Akan tetapi jika Rian tidak menerima itu semua, maka Rian boleh pergi meninggalkan Mia sebelum Mia benar-benar mencintai Rian.
"Gak apa-apa, bukankah semua orang punya masa lalu. Tapi aku menerima kamu apa adanya kamu, bukan karena masa lalumu," ucap Rian.
"Aku tahu, tapi aku gak mau masa lalu itu terulang lagi padaku. Karena aku udah terlalu sakit untuk kembali diperlakukan tidak baik."
__ADS_1
Rian hanya tersenyum mendengar ucapan Mia. Mungkin untuk sekarang Rian memang bisa menerima Mia apa adanya. Tetapi setelah Rian mengetahui semuanya tentang Mia, apakah Rian masih tetap bisa menerima Mia seperti apa yang dia ucapkan ketika ingin memenangkan hati Mia.
Setelah tiga bulan Mia dan Rian menjalin kedekatan, sepertinya perlahan-lahan Mia juga mulai sudah bisa melupakan masa lalunya. Bahkan jika ada yang bertanya nama mantannya itu padanya, Mia saja sudah tidak mengingat lagi namanya apalagi dengan kenangannya. Perlahan-lahan, setelah kehadiran Rian dalam hidupnya, hal itu mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan yang selama ini telah menumpuk dalam hatinya.
"Semoga saja kamu gak ninggalin aku ya," ucap Mia sembari terkekeh.
Rian mengusap kepala Mia yang dibaluti dengan jilbab. sembari tersenyum kepada Mia.
"Gak kok, bagaimana mungkin aku bisa ninggalin perempuan sebaik kamu."
Dikatakan pacaran, sedangkan Rian sama sekali tidak pernah meminta Mia untuk menjadi kekasihnya. Dikatakan menjalin komitmen juga, Rian tidak pernah menjanjikan komitmen pada Mia. Mungkin sebutan yang lebih tepat lagi untuk hubungan Mia dan Rian adalah, hubungan yang tidak jelas. Bagaimana bisa jelas, sedangkan Rian saja hobi sekali menggantungkan Mia.
"Sebenarnya kamu sayang gak sih Ri sama aku?" tanya Mia.
"Iya aku sayang Mi sama kamu," jawab Rian.
__ADS_1
"Lalu, kita ini apa?" tanya Mia lagi.
Rian terdiam sejenak sembari memikirkan jawaban yang tepat untuk dia jawab pada pertanyaan Mia.
"Aku bukannya gak mau pacaran sama kamu Mi atau membuat komitmen seperti orang-orang di luar sana, hanya saja aku gak mau jika seandainya suatu saat nanti ternyata kita gak ditakdirkan untuk bersama, aku gak mau kamu terlalu sakit dan aku gak mau nyakitin kamu dengan ngasih terlalu banyak harapan ke kamu, sedangkan aku sendiri gak bisa menepati janji itu. Perihal pacaran, maaf aku gak bisa Mi. Dan kamu juga tahu sendiri kan alasannya apa."
Bagaimana bisa Rian mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memberikan harapan pada Mia. Sedangkan dirinya saja sering sekali mengatakan bagaimana kalau nanti kita menikah, mau punya anak berapa? atau merencanakan kemana mereka akan liburan setelah menikah. Tanpa Rian sadari, perkataannya yang dia anggap sebuah candaan itu, sudah menanamkan harapan di hati Mia.
"Maaf Ri, aku gak mau terus-terusan digantung kayak gini, apalagi bertahan dengan hubungan yang gak pasti, dan gak tahu arahnya kemana. Karena aku juga ingin melanjutkan hidupku."
Seketika itu juga Mia mengutarakan isi hatinya pada Rian. Setelah enam bulan kedekatan mereka, Mia memberanikan diri mengatakan apa yang dia rasakan pada Rian. Benar sekali, Mia lebih dulu mengatakan perihal bahwa dirinya sudah nyaman dengan keberadaan Rian. Hanya saja sepertinya Mia kembali tidak beruntung kali ini. Setelah pengakuan dari Mia itu, Rian perlahan-lahan mulai berubah, dan pada akhirnya dia menghilang bagaikan ditelan bumi.
Mia mengatakan perihal rasanya lebih dulu kepada Rian, bukan berarti dirinya adalah perempuan murahan karena sudah berani menyatakan cinta lebih dulu kepada seorang pria. Hanya saja Mia tidak ingin lama-lama berada dalam hubungan yang tidak jelas statusnya. Meski pun sudah menjalin hubungan, Mia juga tak ingin lama-lama pacaran. Karena menurut Mia, untuk apa pacaran lama-lama jika pada akhirnya juga akan putus di tengah jalan. Seperti hubungannya dengan Reyhan dulu.
Tentu saja Mia tidak ingin hal itu kembali terjadi dalam hidupnya, hanya saja sepertinya semesta masih belum ada di pihaknya. Setelah Mia meminta kepastian pada hubungannya dengan Rian, Rian justru malah menghilang dan membuat Mia kembali mengingat akan masa lalunya yang kelam. Meski kini Mia sudah tak lagi menangis karena laki-laki, namun tetap saja rasa sesak selalu berhasil Mia rasakan.
__ADS_1