
"Mia bangun yuk udah subuh loh," ucap ibu Mia membangunkan.
Sekali panggilan tak ada jawaban dari Mia. Bahkan tanda-tanda ingin bangun saja tidak ada. Ibu Mia pun menghampiri anak sulungnya itu yang tengah tertidur dengan sangat pulas.
"Pasti karena begadang lagi," gumam ibu Mia sembari mengelus kepala putrinya itu.
Ibu Mia menatap lekat-lekat wajah anaknya yang tengah tertidur pulas itu, hingga air mata pun tidak terasa jatuh dari pelupuk mata yang sedari dulu dia tahan ketika melihat anak sulungnya itu berada dalam kesulitan. Setelah beberapa sentuhan dari tangan ibunya, akhirnya Mia pun berhasil terbangun.
"Eh ibu," ucap Mia terkejut yang melihat ibunya.
"Ayo bangun sholat subuh matahari udah mau muncul loh," ucap ibunya sembari beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Mia.
Sengaja ibunya Mia tidak menunggu persetujuan dari Mia, karena ibunya tidak ingin terlihat kalau dirinya sedang menangis di hadapan Mia. Namanya juga seorang ibu, pasti selalu menyembunyikan kesedihannya dari anak-anaknya. Seorang ibu itu akan selalu terlihat kuat ketika di hadapan sang anak. Sesakit apa pun luka yang dia rasakan dalam hatinya, seorang ibu akan selalu berusaha menahan dan menyimpan luka itu sendirian. Karena dirinya tidak ingin anak-anaknya khawatir.
Akan tetapi berbeda ketika anaknya yang terluka, apalagi jika yang terluka adalah batin sang anak. Maka dari itu, sang ibu pasti akan selalu ada untuk anaknya dan selalu menyemangati anaknya hingga tak dipungkiri juga sang ibu akan merasakan apa yang telah dialami oleh anaknya.
Setelah selesai sholat subuh Mia, ibu dan adiknya bergegas untuk mandi dan sarapan pagi. Karena mereka akan berangkat pada pukul 9 pagi. Tidak ingin menunda-nunda waktu lebih lama lagi. Apalagi jika dalam perjalanan jauh yang memakan waktu yang tidak sebentar. Makanya mereka akan berangkat pada pagi hari.
"Singgah dulu ya ma cape," ucap Mia yang memarkirkan mobilnya di sebuah warung makan.
__ADS_1
Tidak terasa waktu juga sudah menunjukkan pukul 1 siang dan mereka sudah berada di perjalanan selama 4 jam lamanya. Tentu saja perut mereka juga merasakan lapar karena perjalanan yang begitu jauh. Dalam persinggahan mereka memilih untuk beristirahat sebentar sembari makan siang untuk mengisi perut yang sudah kosong. Setelah beberapa saat kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan mereka baru saja sampai ke tempat tujuan yaitu kampung halaman ketika Mia masih kecil dulu. Kampung di mana tempat kelahiran dirinya dulu dan di kampung ini juga para keluarga mereka berkumpul termasuk neneknya Mia.
Akan tetapi ibu dan adik Mia setelah tiga hari ke depan akan kembali pulang ke kota karena ibunya yang mempunyai pekerjaan tetap di sana dan juga sang adik yang harus sekolah. Hanya Mia seorang yang akan menetap di sini karena dia juga sudah di terima di sekolah baru yang mana di sekolah baru itu dia akan mengajar.
Selama 7 jam perjalanan, cukup menguras banyak tenaga. Apalagi jika ini adalah perjalanan jauh pertama kalinya di tahun ini. Karena sudah satu tahun mereka tidak pulang ke kampung halaman mengingat jaraknya yang juga cukup jauh. Apalagi ini adalah pengalaman pertama Mia menyetir mobil sendiri dalam perjalanan jauh. Dulu ketika mereka pulang kampung, masih ada ayahnya yang menyetir mobil Tetapi setelah kepulangan sang ayah untuk selamanya, mau tidak mau Mia harus menyetir mobilnya sendiri. Karena sang ibu yang hanya bisa membawa kendaraan roda dua saja. Apalagi sang adik yang masih duduk di bangku SMA sangat tidak mungkin kan bagi Mia untuk menyuruh adiknya menyetir.
"Akhirnya bisa rebahan juga setelah sekian lama gak ketemu sama kasur," ucap Iky yang langsung membaringkan tubuhnya di sofa.
"Itu sofa loh bukan kasur," sahut Mia yang merasa kesal dengan ucapan sang adik barusan.
Sekeluarga hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sang adik kakak itu. Ya begitulah terkadang mereka begitu sangat akur, tapi tak jarang juga mereka saling mengejek satu sama lain.
"Jadi kamu serius mau menetap di sini Mi?" tanya sang nenek pada Mia.
"Iya nek, kebetulan Mia juga udah keterima kerja di sini. Jadi Mia bakal nemenin nenek di sini," jawab Mia.
Sang nenek pun merasa senang mendengarnya. Karena memang semenjak kakek Mia meninggal, sang nenek tinggal sendiri di rumahnya. Karena anak-anaknya yang lain juga sudah mempunyai keluarga masing-masing. Anak-anaknya hanya akan berkunjung sesekali ke rumah sang nenek hanya untuk mengetahui kondisi sang nenek bagaimana dan membelikan keperluan sang nenek di rumah.
__ADS_1
Hal ini juga tidak membuat sang nenek merasa keberatan jika harus tinggal sendirian. Karena sang nenek yang tidak ingin ikut ke kota untuk tinggal bersama dengan ibu Mia meski sudah sering di tawarkan. Dengan alasan sang nenek tidak ingin jauh-jauh dari almarhum sang kakek. Karena nenek Mia juga tidak terlalu tua dan masih kuat untuk mengurus diri sendiri, bahkan pergi untuk ziarah ke makam almarhum suami juga masih punya tenaga. Makanya anak-anak mereka juga setuju-setuju saja jika sang nenek tinggal sendiri.
Sekarang setelah kedatangan Mia ke kampung, tidak akan membuat nenek sendiri lagi. Dan tentunya juga tidak akan membuat ibu Mia terlalu khawatir dengan sang nenek. Dulu di saat nenek Mia masih tinggal sendiri membuat ibu Mia selalu merasa khawatir dengan keadaan ibunya itu. Akan tetapi kini kekhawatiran itu sudah berkurang karena ada sang cucu yang akan menemaninya di sini.
Setelah satu tahun tidak pulang ke kampung halaman, rumah nenek Mia malam ini ramai sekali karena di kunjungi oleh saudara saudari ibunya Mia dan sepupu-sepupunya Mia. Kebetulan jarak rumah mereka dari sang nenek juga tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar satu jam, dua jam dan ada juga yang hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke rumah sang nenek.
"Makan malam sudah siap," ucap Dewi tantenya Mia.
"Ye akhirnya bisa makan bareng-bareng lagi," ucap Iky yang merasa kegirangan setelah sekian lama tidak merasakan kehangatan seperti ini bersama keluarga besarnya di kampung.
"Kak, abis ini kita main lagi ya," ucap Fauzan adik sepupunya Iky yang mengajak dirinya main game online.
"Game terus," sahut Mia.
"Biarin," sahut Iky dan Fauzan bersamaan.
Seketika rumah itu pun di penuhi dengan gelak tawa dan banyak candaan. Setelah sekian lama rumah ini terasa begitu sunyi, kini kembali ramai seperti dulu lagi. Di saat anak-anak nenek Mia masih kecil. Nenek Mia mempunyai lima orang anak, tiga di antaranya laki-laki dan dua di antaranya perempuan yaitu ibunya Mia dan tantenya bernama Dewi.
Akan tetapi yang ikut berkumpul bersama mereka malam ini hanya tante Dewi, dan dua kakak laki-laki ibu Mia. Om dan tante Mia yang lain tidak ikut berkumpul bersama mereka, karena mereka juga berada di luar kota dan sudah menetap di sana, jadi tidak memungkinkan untuk mereka kembali ke kampung halaman untuk saat ini. Paling ya hanya di waktu-waktu tertentu saja seperti ketika Idul Fitri atau Idul Adha. Itu pun hanya satu kali dalam satu tahun.
__ADS_1