
"Ya Allah, kok gak ceritain sama mama sih Mi," ucap ibu Mia setelah mendengar penjelasan Mia dengan panjang lebar itu.
"Bukannya gak ingin cerita ma, cuman Mia gak mau mama khawatir aja," jawab Mia sembari tersenyum simpul.
"Justru mama lebih khawatir kalau kamu sembunyikan semuanya dari mama," kata ibu Mia.
"hehehe, maaf ma. Kan sekarang udah gak. Mama udah tahu," ucap Mia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah tapi nanti lain kali kamu harus ceritain sama mama ya," ucap ibu Mia sembari mengelus kepala anaknya itu.
"Iya ma siap. Makasih ya ma," jawab Mia setelah itu dia ibunya.
"Cie berpelukan. Ikut dong," ucap Iky yang baru saja keluar dari kamar.
Iky pun ikut bergabung memeluk ibu dan kakaknya itu. Setelah beberapa menit mereka pun melepaskan pelukan mereka.
"Duh, jadi ingat sama almarhum ayah," ucap Mia secara tiba-tiba.
"Iya kak, kangen banget sama ayah," jawab Iky.
"Kalau kangen sama ayah, kirim do'a sebanyak-banyaknya buat ayah. Semoga ayah tenang di alam sana," ucap ibu mereka.
"Aamiin ya Allah," ucap Mia dan Iky secara bersamaan.
"Tapi ngomong-ngomong ibunya Reyhan tau gak kalau kamu sering di selingkuhin sama Reyhan Mi? tanya ibu Mia yang penasaran.
"Hah, kakak di selingkuhin?" tanya Iky.
__ADS_1
"Hus anak kecil gak usah ikut campur," ucap Mia pada Iky.
"Dih aku gak ikut campur kak, cuma ya kepo aja kok bisa kak Reyhan selingkuhin kakak aku yang paling cantik se Indonesia ini," jawab Iky sembari melahap cemilan yang dibuat oleh ibunya tadi.
"Gak se dunia sekalian?" tawar Mia.
"Iya deh, satu alam semesta. Pokoknya dari bumi, mars, Jupiter dan kawan-kawannya itu pokoknya kakak deh yang paling cantik," kata Iky sembari cengar-cengir.
"Bilang aja ngeledek," ujar Mia sembari mengacak-acak rambut adiknya itu.
"Mama nanya loh, gak di jawab nih?" sahut ibu Mia dengan muka cemberut.
"Eh iya ma maaf lupa. Jangan ngambek ma nanti cantiknya hilang loh," goda Mia.
Mia dan Iky pun tertawa hingga terbahak-bahak dan ibu mereka pun ikut tertawa.
"Senang rasanya melihat senyum di wajah Mia kembali, setelah dia disakiti oleh laki-laki yang tidak bersyukur memilikinya," batin ibu Mia.
"Eh gak ma. Iya ibunya Reyhan tahu kok kalau Mia sering di selingkuhin sama Reyhan," kata Mia pada ibunya.
"Terus, kok ibunya biasa aja? Memangnya ibu Reyhan gak negur Reyhan gitu Mi?" tanya ibunya lagi.
"Negur kok ma. Malah ibu Reyhan sering marahin Reyhan nya tapi ya malah Mia yang kena marah balik sama Reyhan. Katanya Mia tukang ngadu lah, suka terlalu ikut campur urusannya dia lah. Gak tau lah ma cape aja Mia sama dia," jelas Mia.
"Tapi kok bisa ya dia gak berubah sama sekali dan gak mau dengerin kata ibunya," kata ibu Mia.
"Ya mama kan tahu, kalau dia anak bungsu. Dan sering membentak ibunya juga. Mia malah kasihan sama ibu Dewi karena sering dimarahi sama Reyhan. Padahal kan ibunya nasehatin dia juga buat kebaikannya dia. Tapi ya gitu lah ma. Namanya juga anak bungsu. Mungkin karena udah terbiasa di manjakan dari kecil," ucap Mia panjang lebar.
__ADS_1
"Teru kok kamu bisa-bisanya balikan sama Reyhan sampai tiga kali?" tanya ibu Mia lagi.
"Sebenarnya yang terakhir itu, Mia hanya kasihan sama ibu Dewi ma. Karena ibu Dewi, ibunya Reyhan minta Mia yang buat balikan sama Reyhan. Kata ibunya sih biar ibunya Reyhan aja yang menangani masalah itu, seandainya aja kan Reyhan berbuat macam-macam lagi biar ibu Dewi aja yang ngasih dia pelajaran gitu gak tau lah paling di marahi sih. Tapi pas yang bener-bener putus ini Mia gak ngasih tau ibunya. Malas ah ma, Mia udah cape. Nanti kalau Reyhan masih balik lagi, Mia gak bakal terima dia lagi," mata Mia pun mulai berkaca-kaca.
"Kasihan ya ibu Dewi harus punya anak kayak Reyhan," kata ibu Mia.
"Ya tapi bagaimana pun juga kan, dia pernah jadi orang yang paling Mia sayang ma. Bukan pernah lagi, bahkan sampai sekarang pun rasanya sudah buat lupain dia. Meski pun dia begitu, tapi Reyhan juga tetap baik. Kebaikan dia juga lebih banyak dari keburukan dia. Tapi ya Mia udah cape lah kalau harus tetap sama dia. Tapi Mia juga gak tau ma harus ngapain. Karena ini tu rasanya benar-benar sakit," ucap Mia pada ibunya sembari meneteskan air mata.
Memang tidak bisa di pungkiri, rasa sakit yang Mia rasakan sekarang memang bukan sakit yang biasa. Apalagi jika dia sudah berkali-kali disakiti oleh Reyhan.
Sebenarnya Mia juga tidak ingin hubungan mereka berakhir. Apalagi hubungan yang mereka jalani bukanlah waktu yang sebentar. Akan tetapi saat dia meminta putus kemarin, Reyhan tidak menahannya atau tidak menyanggahnya sedikit pun.
Artinya Reyhan juga memang ingin mengakhiri hubungan mereka. Mungkin juga karena Reyhan sudah terlalu nyaman dengan Angel.
Akan tetapi, hubungan yang seperti itu memang harus di selesaikan saja. Karena semakin lama di bina, hanya akan semakin menambah luka.
Meski pun melepaskan rasanya sangat suli, dari pada harus tetap bertahan tetapi hanya akan menambah dada semakin sesak tak tertahan.
Memang benar, melepaskan tidak semudah apa yang orang-orang katakan. Bahkan untuk bisa melupakan perlu waktu yang juga tidak sebentar. Dan harus melewati fase terluka dulu, tersiksa dulu karena menahan rindu.
Melupakan tidak se instans memasak mie. Karena tidak ada jalan pintas hanya untuk melupakan. Apalagi seseorang itu pernah menjadi bagian yang paling berarti dalam hidup.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu lama-kelamaan juga pasti akan terbiasa dengan rasa sakit itu. Dan dengan berjalannya waktu, pasti ada masanya akan bertemu dengan seseorang yang lebih tulus lagi.
Seseorang yang akan menerima setiap kekurangan yang dimiliki, dan mengubah kekurangan itu menjadi kelebihan yang dimiliki berkat rasa syukur.
"Yasudah gak apa-apa. Melupakan memang tidak se instan ketika kita memasak mie. Dan mama juga tahu bagaimana rasanya untuk bisa mengikhlaskan seseorang sepenuhnya. Meski kita harus tersiksa dulu, dan terluka untuk beberapa kali tapi mama yakin kamu pasti akan bisa melupakan dia
__ADS_1
Dan mama juga yakin, suatu saat nanti akan ada laki-laki yang tulus, yang bisa menerima semua kekurangan kamu, bukan hanya mencintai kelebihan kamu" ucap ibu Mia sembari memeluk anaknya itu.
Setelah mendengar ucapan ibunya, akhirnya tangisan Mia pun pecah. Kini rasa sesak yang selama ini dia pendam sendiri akhirnya berhasil meledak ketika dia menceritakan semuanya kepada ibunya.