Kau Bukan Rumah

Kau Bukan Rumah
Hari Baru, Hidup Baru, Hati Baru


__ADS_3

Jika di tanyakan apakah Mia sudah berhasil melupakan Reyhan sepenuhnya, tentu saja jawabannya masih belum. Bahkan ketika dirinya harus bertemu Reyhan tanpa sengaja, hal itu justru malah membuat Mia semakin teringat akan masa-masa di saat Reyhan menyakiti dirinya. Tetapi Mia juga tidak bisa untuk terus-terusan berdiam diri dengan berlarut-larut dalam kesedihan.


Jika saja dirinya selalu merenungi atas kepergian Reyhan maka tidak akan pernah ada habisnya, dan dirinya juga tidak akan pernah menemukan kebahagiaannya. Sepanjang usia yang tersisa hanya akan dia gunakan untuk merenungi dan menangisi kepergian laki-laki yang tidak tahu diri.


Hari baru telah tiba, dan kini waktunya Mia membenah diri dan membenah hari lagi. Meski dirinya masih belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan mantan kekasihnya itu, bahkan sesekali kenangan itu masih saja menghantui isi kepala. Akan tetapi bukanlah menjadi alasan Mia untuk terus-terusan merasa sedih. Setidaknya dia bisa menjadikan sebagai pelajaran.


Bahwa jika dia berani mencintai seseorang terlalu dalam, maka rasa kecewa yang akan dia terima juga pasti sangat dalam. Dan itulah yang dia rasakan ketika bersama Reyhan dulu. Bahkan dirinya juga perlu waktu satu tahun lebih untuk bisa benar-benar beranjak dari rasa sedih dan semua tangis.


"Mi, aku tahu mungkin kamu memang masih belum bisa melupakan Reyhan sepenuhnya. Atau bahkan kamu tidak akan pernah bisa melupakan diam Akan tetapi, bisakah kamu mencoba untuk membuka hatimu untukku?" ucap Husein setelah beberapa saat keheningan terjadi di antara dirinya dan Mia.


Angin berhembus seketika menerbangkan ujung jilbab Mia hingga menutupi wajahnya. Dengan sigap Mia merapikan kembali jilbabnya yang sedikit berantakan akibat angin tadi.


"Sepertinya mau hujan nih sein, pulang yuk takut kehujanan."


Bukannya menjawab ucapan Husein barusan, Mia malah mengalihkan pembicaraannya. Memang sih sepertinya hari mau turun hujan. Karena ketika mereka berdua sedang asik mengobrol tadi, bulan dan bintang di langit pun kini tertutup oleh awan hitam hingga membuat taman di halaman apartemen Mia hanya terlihat dari cahaya lampu-lampu kecil yang menghiasi taman itu.


Sebenarnya bukan tidak ingin menjawab ucapan Husein tadi, hanya saja setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Husein, denyut jantung Mia kini berdetak dua kali lebih cepat. Kedua matanya ikut membulat bahkan tubuhnya saja hampir tidak dia rasakan bahwa dirinya sedang menginjak bumi. Rasanya seperti terbang melayang dengan bebas.


"Ada apa denganku?" batin Mia berucap.


"Yasudah. Aku pulang ya, kamu juga masuk sana ke kamar kamu," ucap Husein yang tidak lagi meminta Mia untuk membuka hatinya.


Setelah Husein berpamitan untuk pergi, Mia masih saja diam mematung hingga bayangan Husein benar-benar menghilang dari sorot pandangannya bersama sepeda motornya yang melaju. Yang mana sebelumnya Mia masih membahas perihal masa lalunya bersama Reyhan kepada Husein.

__ADS_1


Sepertinya tiba-tiba saja pikiran Mia teralihkan kepada pertanyaan terakhir Husein sebelum dia memutuskan untuk pulang karena takut kehujanan. Bukan maksud hati Mia ingin mengusir dirinya, hanya saja Mia masih tidak tahu harus berkata apa dan dia juga bahkan masih belum punya jawaban untuk pertanyaan itu.


Sejujurnya selama satu tahun belakangan, di mana ketika Mia sedang berdamai dengan lukanya agar bisa melepaskan Reyhan, Mia sama sekali tidak pernah berpikir membuka hati untuk siapa pun. Karena rasa trauma yang dia alami terhadap laki-laki cukup serius.


Di selingkuhi selama beberapa kali bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk Mia mempercayakan ucapan lelaki kembali. Baginya, ucapan laki-laki hanyalah kebohongan belaka. Jangankan yang masih berstatus pacaran, yang sudah menikah bertahun-tahun lamanya saja bahkan masih bisa bercerai dan kasusnya juga tak jarang ditemui di seluruh Indonesia.


Mungkin berakhirnya suatu hubungan yang di bina oleh dua orang itu bukan hanya karena letak kesalahan semata-mata ada pada sang laki-lakinya, tak dapat di pungkiri juga bahwa perpisahan terkadang dikarenakan oleh sang perempuan. Hanya saja berbeda dengan kasus yang dia alami sendiri.


Di sini, dirinya lah yang telah menjadi korban permainan lelaki. Mia telah di permainkan bahkan berkali-kali oleh orang yang sama. Dan wajar saja jika dia masih belum siap untuk membuka hati lagi.


Setelah berdiam diri untuk beberapa saat di taman halaman apartemennya itu, Mia pun tersadar dari lamunannya akibat gerimis turun dan Mia pun segera beranjak dari duduknya itu kemudian kembali masuk ke dalam apartemennya yang ada di lantai 3.


"Kok bengong sih Mi, lo kenapa? Jangan bilang kalo lo kerasukan penunggu taman halaman apartemen ini ya."


Ucap Cia yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Ketika masuk ke dalam apartemennya dan Cia, Mia tidak menjawab pertanyaan Cia yang mempertanyakan dirinya habis dari mana saja. Mia hanya diam sembari duduk di sofa di sebelah Cia yang sedang asik menonton televisi.


"Ci, apa selama ini gue terlalu mengabaikan Husein ya?" tanya Mia.


"Hah, maksudnya Mi? Kok tiba-tiba ngomongin Husein sih?" tanya Cia balik.


"Iya tadi gue gak sengaja ketemu Husein terus kita ngobrol bareng deh, eh pas udah gak ada bahan obrolan kita saling membisu tuh. Pas beberapa lama itu dia bilang ke gue kalau gue bisa gak membuka hati gue buat dia," jelas Mia secara panjang lebar.


"Ya Allah Mi, lo belum sadar juga ya?" jawab Cia.

__ADS_1


"gak, sadar apa sih Cia."


Padahal Mia tahu kalau selama ini Husein sudah berusaha untuk mendekati dirinya. Hanya saja dia yang memang tidak ingin di ganggu dengan urusan patah hatinya itu, makanya Mia terlalu menutup dirinya hingga membuat dia menjadi tidak peka terhadap hal-hal yang ada di dekatnya.


Huh.


Cia menghela nafasnya panjang.


"Husein itu suka sama lo Mia. Bahkan dari dulu dari waktu pertama kali lo sama dia mulai dekat di sekolah," ucap Cia.


"Kok bisa sih dia suka sama gue Ci? padahal kan waktu itu gue masih sama Reyhan."


Nah kan, kembali lagi Mia menyebut nama laki-laki bajingan itu. Yang artinya bagaimana mungkin Mia bisa melupakan dia, setidaknya Mia akan selalu mengingat bahwa Reyhan adalah orang yang pernah menjadi penyebab patah hatinya, bukan hanya sekali bahkan berkali-kali.


"Iya Mia sahabatku sayang yang cantik dan baik hati. Husein udah suka sama lo bahkan saat lo masih berhubungan sama laki-laki brengsek itu. Tapi Husein gak pernah bilang ke lo kan. Dan selama lo masih jalan sama bajingan itu juga Husein bisa menempatkan posisinya dia hanya sebagai teman dan rekan kerja doang. Gak ada tuh dia banyak drama segala macam bahkan berani nge gombal lo juga dia gak pernah kan. Bahkan saat lo udah putus sama buaya kelas kakap itu juga gue gak pernah dengar sekali pun dia rayu lo. Ya mungkin karena gue nya sih yang gak tau," ucap Mia dengan panjang lebar.


"Pernah sih Ci waktu itu dia rayu aku."


Sungguh polos sekali Mia ini, pikir Cia.


Terus gue harus gimana Cia?" tanya Mia lagi


Seolah-olah Mia masih belum saja mengerti maksud sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ya lo coba aja Mia buka hati lo buat dia. Aku yakin, Husein orangnya lebih tulus dibanding laki-laki hidung belang kayak mantan kamu yang brengsek itu," ucap Cia dengan sedikit emosi ketika membahas laki-laki brengsek si Reyhan.


Setelah perbincangan panjang antara Mia dan Cia, mungkin Cia memang benar bahwa dirinya harus mencoba untuk menerima Husein. Karena setiap orang itu berbeda-beda, tidak ada yang memiliki kesamaan yang persis antara satu dengan yang lain. Siapa tahu dengan Husein, Mia bisa menemukan kebahagiaannya yang sesungguhnya, pikir Mia.


__ADS_2