KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 1


__ADS_3

Namaku adalah Kartika Putri Anjani, aku adalah gadis desa yang masih berumur delapan belas tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas tiga. Hidup ku bisa terbilang sangat pas pasan bahkan nyaris sering kekurangan semenjak ayah jatuh sakit. Tidak ada yang bekerja untuk membiayai sekolah ku, yang membuat ku harus sekolah dan menyambi bekerja di sore harinya agar bisa mendapatkan uang untuk sekedar makan sehari harinya maupun uang saku untuk ke sekolah.


Jangan tanya ibu ku di mana!


Ke dua orang tuaku sudah lama berpisah sejak aku masih berumur 4 tahun.


Dulu setiap kali teman teman ku bertanya di mana ibu ku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan yang memcecar ku tentang ibu. Karena yang aku tau, selama ini aku tidak memiliki ibu.


Adik nenek ku pernah bercerita pada ku, jika ibu meninggalkan aku kala itu umur ku masih empat belas bulan. Ayah ku dulunya seorang pedagang martabak yang mangkal di area pasar tak jauh dari rumah ku, namun yang namanya berdagang terkadang juga sepi tak mendapatkan banyak uang. Bahkan sering kali ayah tak mendapat uang balik modal karena dagangannya yang tak laku.


Adik nenek ku juga bercerita pada ku jika ibu adalah anak dari keluarga yang berekonomi cukup namun jatuh cinta pada ayah, tapi keluarga ibu tak setuju tak mau merestui hubungan ayah dan ibu tapi waktu itu ibu kekeh ingin menikah bersama ayah. Namun setelah menikah, kehidupan ibupun berubah drastis hingga membuatnya merasa tak nyaman lagi berada di tengah tengah ayah dan aku yang masih berumur empat belas bulan pada waktu itu.


Hingga suatu hari ibu sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ayah, lalu memilih pergi untuk bekerja menjadi tenaga kerja wanita ke luar negeri untuk bisa mengubah perekonomian keluarga.


Empat belas bulan terlalu kecil untuk aku mengingat wajah ibu ku, jadi aku masih benar benar belum paham betul apakah aku memiliki ibu atau tidak pada masa kecil ku.


Yang ku ingat...

__ADS_1


Saat usia ku menginjak angka empat tahun, ayah dan kakak sepupu ku mengajak ku datang ke suatu tempat. Tempat asing yang sama sekali belum pernah aku di ajak datang ke sana oleh ayah, tempat yang cukup jauh jaraknya dari rumah ku.


Di mana ada seorang wanita yang datang dengan beberapa orang di sampingnya, wanita itu meminta pada ayah agar bisa menggendong ku.


Ayah melepaskan aku dari gendongannya, sungguh aku ingat betul sampai usia ku sekarang!


Kemudian wanita itu meraih tubuh ku lalu menggendongnya, mencium ke dua pipi ku bergantian, sesekali memeluk tubuh ku erat.


Aku menangis, karena ayah dan kakak sepupu ku pergi menjauh untuk duduk di suatu tempat.


Wanita itu juga mengajak ku membeli susu botolan merek ind*milk beberapa botol, tapi aku masih belun diam dari tangis ku.


Karena tangis ku tak berhenti, wanita yang menggendong ku itu akhirnya memberikan aku ke pada ayah kembali untuk duduk di pangkuannya lagi.


Masih melekat di kepala ku, seorang laki laki tua yang duduk di depan ku itu menanyakan pada ku. Apakah aku ingin tinggal bersama ayah atau bersama ibu ku? Ucap salah satu laki laki yang ada di depan ku menunjuk ayah dan wanita yang tadi menggendong ku.


Tentu saja tanpa berfikir panjang lagi aku menjawab ingin tinggal bersama ayah ku, toh aku tidak kenal dengan wanita yang duduk di sana itu!

__ADS_1


Di gendongnya saja membuat ku takut dan merasa tak aman, apa lagi untuk hidup bersamanya?


Setelah laki laki tua di depan ku mengetuk sebuah palu yang terbuat dari kayu, air mata ayah tiba tiba menetes mengenai lengan ku.


Ku dongakan pandangan ku ke atas untuk melihat ayah menangis, tapi sesegera mungkin ayah mengusap air matanya dan memeluk ku erat.


Ayah... Andai waktu itu aku tau jika kamu sedang hancur, aku pasti akan memeluk mu erat dengan kedua tangan kecil ku!!


AKU MENYAYANGIMU, AYAH. KAMU HIDUP KU, TERIMA KASIH SUDAH MEMBERI KU HIDUP.


Hari hari berlalu, aku sudah tidak pernah bertemu dengan wanita itu lagi sama sekali. Umur ku juga sudah bertambah berusia tujuh tahun, hari hari ku selalu lelah hidup bersepedah sepanjang waktu di jalan.


Aku harus bersekolah pada waktu itu karena masih kelas satu Sekolah Dasar, tapi ayah juga harus berjualan martabak di pasar malam yang sangat jauh dari rumah kami yang berjarak dua puluh kilo meter dan ayah harus mengayuh sepatu ontel pederalnya yang berwarna biru tua namun sudah ada karat berwarna coklat di beberapa bagian catnya. Kadang jika pasar malam itu pindah ke tempat lain, maka stand martabak ayah juga harus ikut berpindah tempat mengikuti keramaian pasar malam itu jadi ayah juga harus mengayuh sepada bututnya semakin jauh.


Setiap harinya, ayah selalu mengantar ku sekolah kemudian bergegas lanjut ke pasar untuk berbelanja kebutuhan jualan martabak dan jajan gorengan yang kala itu masih seharga dua ratus lima puluh perak saja dan harga martabak telor masih tiga ribu rupiah untuk harga terendahnya.


Setelah aku pulang sekolah, belanjaan yang ayah beli dari pasar tadi pagi sudah siap semuanya. Mulai dari bawang pre yang sudah di kupas dan di cuci bersih, bumbu martabak yang sudah di giling dan di oseng agar matang, sayuran seperti wortel dan kubis yang sudah di irisi kemudian di bungkus ke dalam kresek, daging sapi yang sudah di rebus dan di potong potong menjadi kecil untuk martabak.

__ADS_1


Semua belanjaan ayah selalu sudah siap di tas belanja besar yang terbuat dari bahan plastik rajut, lalu setelah aku berganti pakaian dan makan sepulang sekolah pasti ayah langsung menatapa tas besar itu di setir sepadah ontelnya. Tak lupa ayah juga memberi bantalan kain sarung di boncengan belakang agar pantat ku tidak sakit saat duduk di boncengan itu, kemudian setelah aku naik di boncengan yang sedikit berkarat itu ayah langsung mengikat kaki ku menggunakan kain kecil pada besi bawah tempat duduk ayah agar kaki ku tak masuk ke dalam ruji ban belakang sepada ayah.


Setelah itu kami langsung berangkat menuju stand tempat ayah berjualan, tak jarang ayah sering berhenti sejenak di pinggir jalan untuk melepaskan penat kakinya yang harus mengayuh perjalanan jauh.


__ADS_2