KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 5


__ADS_3

Jegreg!!


Suara jagang sepedah ku berbunyi saat aku memarkirkan pedah ku di teras rumah.


"Brut, kok baru pulang? Kenapa pulang e gak kaya biasane? padahal biasane gak pernah telat lo." ucap ayah dari dalam rumah.


Brut adalah nama panggilan yang sering ayah sebut untuk ku, aku juga tidak tau gibrut artinya apa tapi memang kata itu lah yang sering ayah ucap kan untuk memanggil ku.


"Iya yah, maaf ya yah... Tadi Tika masih nunggu parkiran agak sepi, jadi telat." ucap ku dari teras yang masih mengambil bungkusan kresek besar warna merah, lalu meletakan kresek besar berwarna merah itu ke atas kursi ruang tamu.


"Assalamu'alaikum..." ucap ku saat masuk ke dalam rumah sembari membawa kantung kresek besar itu dan menggendong tas sekolah ku yang terasa berat karena berisi banyak buku tulis dan baju seragam.


"Wa'alaikum salam... Loh, apa itu seng kamu bawa nduk?" tanya ayah yang baru keluar dari dapur.


Mungkin ayah sedang menata bahan bahan sayuran untuk di buat gorengan nanti, semua bahan bahan itu sudah ayah beli sewaktu tadi pagi saat ke pasar.


"Ini yah, tadi bi Nani dateng ke sekolah Tika." ucap ku jujur sembari mencium punggung telapak tangan ayah.


"Bi Nani tok tah yang dateng?" tanya ayah mulai membuka tali plastik itu.


"Enggak yah.." ucap ku menggelengkan kepala pelan.


"Weh, kok ada boneka juga ini di dalem e?" tanya ayah meraih boneka yang ada di dalam bingkisan kresek tersebut.


"Iya yah, tadi bi Nani dateng sama satu perempuan. Dia bilang itu ibu." ucap ku menatap wajah ayah.

__ADS_1


Semu wajah ayah kini langsung berubah, ke dua tangannya yang tadinya memegang boneka itu juga langsung melepaskan boneka itu di atas kursi.


Wajah sumringah ayah yang selalu ayah tunjukan saat sedang menunggu ku pulang sekolah kini berubah pias, ayah juga tidak menjawab ucapan ku lagi. Kemudian langsung berjalan kembali menuju dapur.


"Ayah kenapa to?" tanya ku mengikuti langkah kaki ayah menuju ke dapur.


"Kamu ndang ganti baju, abis itu ndang makan. Ayah udah siapin makanan buat kamu di dalem tudung saji itu." ucap ayah sembari mengambil kantung plastik berwarna hitam dan memasukan kantung itu pada tas belanja ayah yang besar, entah kantung kantung itu berisi apa. Mungkin berisi macam macam sayuran yang sudah ayah potong i.


Mendengar ucapan ayah dengan nada yang tak biasanya, aku mengernyitkan dahi ku karena merasa aneh.


"Ayah marah to sama aku?" tanya ku ikut duduk jongkok di depan ayah.


"Yo endak to, marah kenapa emang e wong kamu nggak salah kok marah?" ucap ayah yang masih tak menatap ke arah ku.


*Ya udah kalo gitu, aku ke kamar dulu ya yah mau ganti." ucap ku menepuk lengan ayah, kemudian beranjak dari duduk ku lalu berjalan menuju kamar.


Emak ku pernah bercerita, jika ayah dan ibu bercerai bukan karena kemauan ayah. Tapi ibu berbohong pada ayah, pada saat aku berumur empat taun dan ibu baru pulang dari luar negeri itu ibu tidak pulang ke sini padahal ayah dan aku ada di sini. Ibu justru pulang ke rumah ibunya sendiri yaitu rumah nenek, ibu menelfon ayah mengatakan jika mereka sudah lama berpisah ranjang karena ibu bekerja di luar negeri selama beberapa tahun itu artinya ayah dan ibu tidak boleh kembali dalam satu ranjang ucap ibu pada ayah. Ibu meminta agar ayah mau bercerai untuk membuang sial, lalu setelah bercerai baru kembali menikah agar bisa tinggal bersama dalam satu atap. Tapi setelah ayah memyetujui ucapan ibu, ibu justru tidak mau kembali rujuk dengan ayah dan ternyata ibu sudah menikah diri dengan suami barunya.


Hanya saja, saat usia ku tujuh taun tenda dekor berwarna biru di depan rumah nenek itu untuk resepsi pernikahan ibu dan suami barunya tapi keluarga ibu tidak ada yang memeberi tahu satupun ke pada ku padahal saat itu nenek menjemput ku untuk ke rumahnya dan mengatakan jika itu hanya aqiqah dari Luna anak dari kakaknya ibu alias bi Nani.


Aku juga baru tau jika wanita yang menggendong ku di suatu ruangan saat aku menangis itu adalah ibu, bahkan laki laki yang mengetuk palu itu adalah hakim, dan juga aku baru tau ruangan dengan banyak kursi itu adalah ruang pengadilan.


Selesai berganti baju, aku segera berjalan menuju ke dapur. Ku lihat ayah sedang membuat dua gelas es teh, tapi memang ayah sudah biasa menyiapkan makan ku maupun membuatkan aku minunan padahal aku tak pernah memintanya.


"Ayah beli es batu to?" tanya ku sembari membuka tudung saji yang ada di atas meja.

__ADS_1


"He em." jawab ayah tanpa menoleh ke arah ku.


Ya, kami memang tidak punya kulkas. Bahkan sepeda motor saja tidak ada, apa lagi kulkas?


"Ini, minum. Kamu mesti capek to abis sepedahan pulang sekolah panas panas?" ucap ayah sembari meletakan segelas es teh di meja, lalu meneguk segelas es teh yang ada di tangan kanan ayah.


Aku menggelengkan kepala cepat saat mendengar ucapan ayah, bagimana ayah bisa mengatakan hal itu padahal setiap harinya ayah harus mengayuh sepedah bututnya sembari membawa beban berat karena harus menggoceng ku dengan jarak tempuh pulang pergi empat puluh kilo meter setiap harinya.


"Ayah ngomong apa to? Yang capek itu bukan Tika, tapi ayah yang setiap harine harus ngayuh sepeda biru itu empat puluh kilo meter. Sedang rumah ke sekolah ku cuman sepuluh kilo udah pulang pergi yah." ucap ku menatap wajah ayah yang terlihat lelah.


Ayah tersenyum, lalu berbalik badan untuk mengurusi tas belanjaannya lagi.


"Halah cuman empat puluh kilo meter ae kok, sama ae kaya olahraga. Ayah lo ndak pernah capek sama sekali!" ucap ayah, aku tau ucapan ayah ini penuh kebohongan.


"Ayah... Maafin Tika yo, udah buat ayah susah terus. Ayah jadi harus cari nafkah sekaligus jadi ibu buat ngerawat Tika, dan ayah setiap hari juga ngayuh berat karena beban tubuh Tika di boncengan ayah." ucap ku dengan nada bergetar dan mata berkaca kaca.


Sungguh, mendengar ucapan ayah yang mengatakan jika dirinya tidak capek sama sekali membuat hati ku perih. Aku tau sendiri jarak dua puluh kilo meter untuk sekali jalan itu sangat jauh, tapi ayah selalu berpura pura kuat di depan ku.


"Kamu itu ngomong opo to Brut Gibrut? Ayah itu laki laki, emang udah tugas dan kewajiban ayah buat cari nafkah. Aku gak pernah capek nduk, seng penting kamu bisa sekolah." ucap ayah berbalik menatap wajah ku.


"Ayah kenapa selalu bohong ke Tika? Aku tau ayah lelah karena harus pulang pergi dari rumah ke tempat jualan ayah, aku tak nde rumah sendiri ae yah. Aku gak apa apa, aku gak mau liat ayah kecapekan." ucap ku yang sudah tidak bisa lagi menahan tangis.


Melihat air mata ku yang melencur begitu saja, ayah segera berjalan mendekat ke arah ku lalu segera memeluk ku.


"Huuuuusstt... Jangan nangis nduk, yang sabar yo. Kamu mau to, ikut ibu mu ae biar gak hidup susah kaya gini?" tanya ayah sembari mengelus rambut ku.

__ADS_1


"Aku gak mau yah, aku gak apa apa hidup susah asal sama ayah terus. Hu hu hu hu..." ucap ku sembari menangis sejadi jadinya setelah mendengar ucapan ayah yang tidak melihat aku ikut menderita bersamanya.


__ADS_2