
Sudah hampir dua jam aku dan Ervi berkeliling area pabrik pabrik untuk menanyakan adanya lowongan pekerjaan, rasa pegal di kaki ku sudah mulai terasa cenut cenut karena harus berkeliling dengan jalan kaki. Namun belum ada satu lowongan pekerjaan yang bisa langsung interview, ada beberapa pabrik yang membuka lowongan namun hanya bisa menumpuk surat lamarannya saja.
Aku meraih botol yang tergeletak di antara duduk ku dan Ervi, kami mengelesot di pinggir trotoar karena cukup lelah berjalan.
Ku buka tutup botol air mineral yang ku beli di alf* mart tadi, lalu meneguk beberapa kali tegukan.
"Kenapa hari ini bisa panas banget ya Tik? Perasaan biasanya juga panas tapi gak sepanas ini." ucap Ervi sembari mengibas kibaskan map berwarna coklat muda di tangan kanannya itu.
"Gimana gak boleh panas? Orang kita turun dari bus aja udah hampir jam sembilan." sahut ku dengan kesal, lalu meletakan tutup pada lubang botol dan memutarnya untuk mengunci rapat agar air tak bisa tumbah.
"Ya kamu harus e salahin sopir e toh, jangan nyalahin aku. Wong biasane aku baik juga cuman satu jam doang, sekarang kamu laper nggak?" tanya Ervi menoleh ke arah ku.
"Emang kamu laper?" tanya ku ganti menoleh menatap wajah masam Ervi.
Ia langsung mengangguk cepat.
"Lah, tadi ngapain gak mau sarapan di rumah loh kamu ini?" ucap ku, karena memang tadi ayah juga mengajak Ervi untuk sarapan dulu tapi ia menolak.
"Siapa to yang bilamg aku lagi laper? orang aku mau kasih tau kalo aku bawa ini, tarraaaa!!" ucap Ervi sembari mengangkat tangan kanannya yang sudah menggenggam kantung plastik berwarna hitam.
"Opo kui?" tanya ku menasaran, ku majukan kepala ku untuk menatap isi kantung plastik kecil itu.
"Pisang goreng toh." jawab Ervi.
Aku mengerutkan dahi ku, pisang goreng? Sebab aku tadi pagi memang membeli gorengan pisang goreng dan tempe gembus di penjual laku pauk dekat rumah ku.
"Pisang goreng dapet dari mana kamu?" ucap ku menyipitkan mata.
"Yo dari ayah mu tadi lah, waktu kamu ambil tas tadi ayah mu ngasih kantung plastik. Ayah mu suruh aku bungkus ini buat makan di jalan, ya udah to lumayan dari pada beli bakso semangkuk lima belas ribu kan? Di rumah beli bakso lima belas ribu kan udah dapet tiga mangkuk, yo eman to nek beli di sini mahal mahal." sahut Ervi.
"Wha ha ha ha ha... Nguawor aja kamu iki!" tawa ku sembari tangan kanan ku menabok pahanya.
"Tik!! Gila yo kamu? Apa apa nabok! Ketawa nabok, marah nabok, gemes nyubit. Gak kasian apa sama temenmu iki udah kurus kering kaya ikan padi masih aja kamu tabokin." ucap Ervi menyerocos kesal karena tabokan ku.
"Iya iya maaf, berati tangan ku nyaman sama kamu toh?" ucap ku mengambil satu pisang goreng dari dalam plastik hitam.
"Nyaman mbiah mu itu!" sahut Ervi ikut mengambil pisang goreng di kantung plastik.
__ADS_1
Saat aku sedang enak mengunyah, tiba tiba aku melihat di seberang jalan seorang satpam menempelkan kertas berwarna putih pada kaca pos satpam dan pada gerbang depannya.
Ku lihat bangunan di seberang jalan itu adalah bangunan gedung bertingkat tinggi, tentu sudah bisa di tebak jika itu bukan sebuah pabrik.
Aku menoleh ke arah Ervi yang sedang sibuk menyantap pisang gorengnya, sesekali menatap pisang goreng yang sudah letoy itu karena pisangnya terlalu matang dan sudah dingin.
"Husstt!" ucap ku menyenggol lengan tangannya.
"Asem, pisang ku jatoh badak!" ucap Ervi sepontan.
Ya, dia adalah teman baik ku yang suka berbicara ceplas ceplos namun hatinya baik. Jadi jangan pernah menilai seseorang pada covernya saja, terkadang teman yang terlihat tenang pendiam dan damai justru teman yang bisa saja memiliki hati tak suka pada mu.
"Pisang ku jatoh loh, kamu ini ngawur aja! Belom ada lima menit sayang, tapi ini trotoar i lantaine di injak injak orang banyak." ucapnya masih mengamati pisangnya yang jatuh ke lantai trotoar.
Astaga... Bisa bisanya dia menyayangkan pisang goreng letoy itu yang sudah jatuh ke lantai.
"Uwes gak usah perduliin pisang goreng mu, eh itu lo di depan pak satpam itu baru aja pasang lembaran kertas putih. Kayak e itu lowongan kerja loh, ayo ke sana!" ucap ku menatap ke arah Ervi.
"Yang mana? Yang itu toh?" Ervi menunjuk pada bangunan gedung tinggi dengan gerbang berwarna hitam di depannya.
"He em." aku mengangguk mantap membenarkan pertanyaannya.
Aku sudah tak kaget lagi dengan tingkah Ervi, dua tahun hidup bersama dia di satu meja yang sama membuat aku benar benar faham cara hidup bar bar anak satu ini.
Aku segera ikut bangkit dari duduk ku, tapi tangan kanan ku masih memegang gorengan yang belum habis.
"Ayo nyeberang sekarang!" ucap Ervi menarik pergelangan tangan kanan ku menggunakan tangan kirinya yang tak terkena minyak.
Sesampainya di depan gerbang, aku dan Ervi langsung membaca isi dari selembar kertas yang tertempel pada pagar berwarna hitam ini.
WE ARE HIRING! Cleaning service OB/OG.
Kualifikasi :
*Laki laki/Perempuan.
*Usia max 27 tahun.
__ADS_1
*Pendidikan minimal SMA.
*Berkelakuan baik serta mampu berkomunikasi dengan baik.
*Tidak pernah terlibat kejahatan atau memiliki catatan kriminal.
*Berpenampilan rapi dan bersih *Pekerja keras, jujur, disiplin, ramah dan bersemangat.
Isi dari selembaran kertas putih yang sedang ku baca.
Ervi langsung menoleh menatap ku setelah membaca selembar kertas yang tertempel di depan kami.
"Gimana Vi?" tanya ku menatap Ervi.
"Udah gas aja yok, dari pada kita gak ada hasil kan?" ucap Ervi.
"Tapi kita kan gak ada pengalaman office girl, Vi?" tanya ku lagi.
"Udah ga apa apa, orang di sini juga gak ada tulisan wajib berpengalaman. Udah yok!" Ervi menggandeng tangan kanan ku dengan tangan kirinya.
"Permisi pak, ini lowongan Office Girlnya masih pak?" tanya Ervi pada dua orang satpam yang sedang duduk berjaga di dalam pos satpam.
"Oh, masih mbak masih. Silahkan masuk!" ucap salah seorang satpam yang langsung bergegas membuka pagar untuk kami.
"Alhamdulillah..." guman ku dan Ervi secara bersamaan.
Meskipun bukan pekerjaan ini tujuan utama ku sebelumnya, setidaknya aku bisa mendapatkan hasil dari keberangkatan ku kali ini.
Aku dan Ervi segera masuk ke dalam pos satpam, lalu membuka tas ransel masing masing untuk mengeluarkan map yang berisi lamaran pekerjaan.
"Ini di taruh mana pak?" tanya ku memegang map berwarna coklat muda yang ku bawa dengan tangan kiri ku karena takut jika terkena minyak pada sisa gorengan yang baru saja ku lahap semuanya.
"Oh, silahkan di bawa dulu. Sekarang mbak mbak e ini ikut saya saja, ini kita akan langsung interview ya mbak. Soalnya pak bos bilang butuh segera." jawab seorang satpam tadi.
"Baik pak." jawab Ervi.
Aku menyenggol lengan Ervi, lalu berbisik pada telinga kirinya.
__ADS_1
"Vi, tolong bawain map aku dong. Tangan kanan ku masih ada minyaknya, nanti gak sopan kalo bawa pake tangan kiri. Maaf yo ku kasih pake tangan kiri gak sopan, ambil di tangan ku biar gak keliatan saru" ucap ku berbisik.
"Iyo iyo, kamu ini makan terus dari tadi." sahut Ervi mengambil map dari tangan kiri ku lalu menumpuknya jadi satu dengan miliknya.