
"Aggghh...."
Aku mengangkat ke dua tangan ku ke atas, suara adzan subuh yang terdengar di telinga ku membuat aku segera bangun untuk menjalan kan ibadah wajib dua rakaat ku.
Semalam aku benar benar bisa tidur dengan nyenyak, mungkin efek lelah di perjalanan naik bus pulang pergi dan lelah saat memutar mutar i area bangunan pabrik pabrik yang sedang membuka lowongan pekerjaan.
Setelah selesai menjalan kewajiban ku, aku segera menuju ke dapur untuk mencuci piring dan gelas maupun alat dapur lainnya yang kotor. Kemudian setelah itu aku langsung meraih panci rice cooker untuk mengambil beras dan mencucinya, tak lupa juga segera ku letakan kembali panci itu ke dalam rice cooker dan menekan tombol cook.
Hari ini sepertinya aku tidak akan beli lauk pauk di luar, aku ingin memasak sendiri untuk hari ini dan besok sebelum aku kembali berangkat ke Surabaya bersama dengan Ervi.
"Nduk, sudah bangun to?" ucap ayah yang baru saja pulang dari masjid, ayah biasa sholat berjama'ah karena ada masjid baru di depan rumah kami.
"Iya yah, habis ini mau ke pasar." ucap ku yang masih fokus menyapu lantai.
"Udah sembahyang belun? Kalo belum sembahyang dulu lo nduk!" tutur ayah.
__ADS_1
"Udah kok yah."
....
Sesampainya di pasar, aku segera memarkirkan motor matic ku yang berwarna hitam lalu segera masuk ke dalam area pasar dan berbelanja beberapa sayuran dan lauk ayam. Hari ini aku berencana untuk memasak usus oseng pedas untuk diri ku sendiri karena ayah tak makan jeroan, lalu untuk ayah akan aku buatkan ayam bakar dan sayur sop.
Setelah berputar putar mencari sayuran tiba tiba mata ku langsung terfokus menatap sate rempelo ati dan sate usus yang biasa tukang sayur depan rumah membawanya, satu plastik sate jeroan ini berisi dengan sepuluh tusuk sate yang di bandrol dengan harga lima ribu rupiah jadi aku membeli dua bungkus saja karena ayah ku tidak berani makan jerohan semenjak sakit sakitan.
"Tik!" ucap Ervi yang tiba tiba menepuk punggung ku dari belakang.
Aku langsung menoleh mendengar suara cempreng gadis ini, aku mengerutkan dahi karena merasa aneh ketika melihat Ervi ke pasar terlebih sepagi ini.
"Kok ngapain pie to? Nama ne di pasar ki yo belanja to." ucap Ervi.
Aku menatap ke dua tangan Ervi yang kosong, ia sama sekali tidak memegang kantung plastik belanjaan tapi bisa mengatakan jika ia sedang berbelanja.
__ADS_1
"Mana belanjaan kamu?" tanya ku.
"Aku ke sini lo cuman nganter ibu ku, tadi aku liat kamu parkirin motor di seberang kan? Tak panggil tapi kamu budeg jadi wajar kalo nggak denger." ucapnya.
Budeg?
"Ngawur ae kamu kalo ngomong!"
"Kamu ngapain belanja?" tanya Ervi menoleh ke arah ke dua tangan ku yang terdapat beberapa kantung plastik karena aku tak membawa tas belanja.
"Yo di buat masak to Vi, pertanyaan kamu iki di tanyain ke anak TK kalo belanja ke pasar buat apa jelas dia udah tau kalo di buat masak." ketus ku lalu membayar dua sate yang ku beli tadi.
"Yo wes, hari ini kamu mau ke mana?" tanya Ervi menatap ku penuh selidik.
"Kayak e mau ke tempat emak sama apoh ku Vi, buat ijin sekalian minta tolong mereka buat awasin ayah." ucap ku yang mulai serius.
__ADS_1
"Yo wes tak temenin yo, nanti tak ke rumah mu. Sekarang aku tak balik lagi ke parkiran, takut emak kesayang ku itu nyari aku!" ucap Ervi langsung pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban ku.
"Dasar cah gemblung!" guman ku pelan lalu ikut berjalan menuju parkiran untuk membelikan ayah jenang sum sum terlebih dahulu di sebelah tempat parkir.