KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 24


__ADS_3

Aku mencium punggung telapak tangan ayah saat bus sudah berhenti tepat di depan ku, ayah ku dan ayah Ervi mengantarkan aku dan Ervi untuk menyegat bus di jalan provinsi yang di lalui bus harap*n j*ya jurusan Trenggalek sampai ke Surabaya.


"Hati hati di jalan ya nduk, inget pesen ayah... Tetep di jaga ibadahnya, jangan aneh aneh yo nduk di kota orang. Kamu udah besar harus bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang buruk!" ucap ayah dengan nada serak, mungkin karena menahan tangis.


"Iya yah, ayah juga harus jaga diri baik baik ya yah. Aku bakalan sering sering pulang jengukin ayah, doain Tika di sana bisa dapet kerjaan yang lebih baik lagi biar Tika bisa ngajak ayah tinggal bareng di sana." ucap ku tersenyum agar ayah tak sedih melihat ku.


"Iya nduk, pasti." ucap ayah menganggukan kepala mantap.


"Ayo ayo ayo... Siapa yang naik lagi, cepet naik cepet naik!" teriak seorang laki laki yang berprofesi kondektur itu berdiri di tengah tengah pintu bus sembari membawa kepetan karcis.


"Tik, ayo!" ucap Ervi yang sudah menginjakan kaki naik ke dalam bus.


Aku menoleh menatap Ervi, lalu segera bersalaman dengan ayah.


"Aku berangkat dulu ya yah." ucap ku tergesa gesa takut tertinggal.

__ADS_1


"Iya nduk, hati hati..." teriak ayah sembari melambaikan tangan kanannya.


Aku mencari duduk di bagian pinggir, dapat ku lihat jelas melalui jendela bus jika ayah masih melambai lambaikan tangannya ke arah ku.


Aku tersenyum sembari melambai lambaikan tangan kanan ku juga untuk membalas ayah, meski sebenarnya hati ku pilu melihat ayah yangbsesekali mengusap air matanya.


Mungkin orang lain akan menganggap aku sebagai anak yang cengeng, berlebihan, bahkan terlihat lebay. Tapi mereka semua hanya melihat hidup ku hanya dari covernya saja, mereka tidak pernah merasakan apa yang aku alami selama ini. Itu lah sebabnya ada pepatah mengatakan "Yang tidak merasakan tidak akan faham, yang tidak mengalami tidak akan mengerti. Manusia tidak akan saling memahami, jika mereka tidak merasakan penderitaan yang sama.".


"Tik, kamu bawa bekel makanan opo nggak?" tanya Ervi tiba tiba, membuat aku tersadar dari lamunan ku.


Entah apa yang ada di fikiran otak teman ku yang satu ini, yang ia tanyakan hanya selalu soal makanan saja jika sedang berpergian.


"Pisang pisang goreng, ote ote, atau tahu isi juga gak bawa sama sekali? Terus opo gak laper kamu nanti." ucap Ervi lagi sembari menatap ku.


Aku menoleh menatap Ervi.

__ADS_1


"Emang ibumu bawain bekel kamu opo?" tanya ku penasaran.


"Yo ndak bawai bekel makanan sih, tapi iki lo di bawain roti gulong." ucap Ervi sembari membuka tas ransel yang ia pangku.


Sreeeekkk!!


"Nih!" ucap Ervi membuka kardus persegi panjang yang ada di dalam tasnya.


Mata ku seketika terbelalak, bagaimana tidak? Ibunya Ervi membekali putri semata wayangnya ini dengan satu gulung roti yang berukuran cukup besar menurut ku.


"Ngopo tp bengong?" tanya Ervi sembari menutup kembali kardus persegi panjang yang ia buka.


"La kamu iki bawa roti kok satu gelundung besar kaya gitu i lo, gak pake di iris lagi." ucap ku mengalihkan pandamgan ku menuju kaca jendela.


"Aku iki ndak pernah setengah setengah dalam berbuat, termasuk bawa roti iki!" ucap Ervi.

__ADS_1


"Dasar cah sempel!" guman ku pelan tapi masih bisa Ervi dnegarkan.


__ADS_2