
Setelah sampai di stand tempat ayah jualan, ayah akan melepaskan tali panjang yang mengikat ke dua kaki ku pada besi rangka bawah sadel tempat ayah duduk.
Ayah selalu rutin berangkat pada setengah satu siang setelah aku pulang sekolah, lalu sampai di tempat jualan sekitar jam dua siang.
Biasanya aku langsung mengambil mainan ku dan bermain di bawah pohon jambu besar yang ada tepat di belakamg stand martabak ayah, tanpa berfikir lagi apakah ayah lelah atau tidak karena setiap ku tanya apakah ayah lelah?
Dengan senyuman ayah selalu menjawab ku dengan kata kata yang sama setiap harinya... "Ayah tidak pernah lelah nduk, mengayuh sepedah kan sama kaya olahraga." siang dan malam jawaban ayah selalu sama setiap kali ku tanya saat ayah menghentikan kayuhan sepedahnya di pinggir jalan lalu duduk bersandar di bawah pohon untuk merenggangkan otat kakinya yang kaku dan lelah.
Setelah ayah selesai berjualan, entah itu ramai atau sepi, habis atau tidak dagangan yang ayah dasarkan tetap saja ayah akan segera menutup standnya jika sudah pukul sepuluh malam karena besok aku harus bersekolah. Ayah takut jika aku mengantuk saat di sekolah, tapi ayah juga tak tega jika harus meninggalkan aku yang masih berusia tujuh tahun pada waktu itu.
Selesai menutup stand, ayah segera mencuci wadah wadah yang tadi di buat untuk mengaduk jeladren untuk gorengan maupun mencuci wadah wadah kotor lainnya.
Setelah ayah selesai mencuci semua perlatan jualan yang kotor, ayah segera memasukan baju kotor ayah dan baju kotor ku ke dalam kantung plastik lalu memasukan ke dalam tas belanjaan besar tadi pagi untuk di bawa pulang di cuci di rumah. Kemudian ayah segera memakaikan aku jaket tebal agar tak kedingin akibat angin malam, kadang jika hujan ayah selalu memakaikan kresek di atas kepala ku agar rambut ku bisa tertutup kresek supaya tidak sakit terkena air hujan.
Setelah memakaikan kantung kresek di kepala ku, ayah segera mengambil satu sak penuh berwarna putih yang sudah tertalinrapat di taruh ke atas boncengan dengan posisi tertidur. Lalu mengalasi sak besar itu dengan kain sarung di atasnya untuk tempat duduk ku, kemudian mengikat tubuh kecil ku dengan selendang ke pingginggang ayah agar aku tidak jatuh saat kantuk ku di perjalanan.
__ADS_1
Sak besar yang ku duduki itu berisi sampah sampah ayah, seperti cangkang telur yang selsai ayah gunakan untuk membuat martabak telur, sisa sisa jualan gorengab ayah yang sudah tidak bisa di jual lagi ke esokan harinya, sampah kupasan kulit timun untuk acar, sampah plastik, sampah daun daun jambu yang sudah rontok dan masih banyak lagi sehingga menumpuk satu karung setiap harinya.
Pantat ku tidak pernah panas lagi ketika bersepeda di bonceng ayah di malam hari karena ada sampah empuk yang ku buat tempat duduk, tapi sak plastik itu akan ayah buang di suatu tempat pembuangan sampah besar yang selalu kami lewati di setiap berangkat maupun pulang jualan.
Oh iya, setiap harinya ayah dan aku selalu naik perahu untuk menyebrangi sungai brantas sebagai jalur alternatif penghubung daerah tempat tinggal ku dan daerah tempat berjualan ayah. Ada jembatan besar di daerah kota, tapi itu jauh jika harus lewat sana maka ayah harus mengayuh sepedahnya sangat jauh.
Naik perahu saja kami selalu sampai di runah hampir pukul dua belas malam setiap harinya.
Aku tak tega melihat ayah mengayuh sepada setiap hari, hidup kami yang miskin ini membuat ayah tidak mampu membeli sepeda motor pada waktu itu.
Sebenarnya di rumah bukan hanya aku dan ayah saja yang tinggal di sana, tapi juga ada nenek ku ibu dari ayah tapi dia tidak pernah suka dengan aku dan ayah karena bpk ayah atau kakek ku sudah meninggal sewaktu nenek ku hamil ayah ku kemudian setelah melahirkan ayah pergi keluar kota dan menikah lagi di sana. Pulang pulang ke rumah nenek sudah memiliki suami baru dan anak yang usianya sekarang hanya berjarak delapan tahun dari usia ku tapi kehidupan kami di rumah seperti individu yang ayah masak sendiri nenek masak sendiri, itu sebabnya ayah tak tega meninggalkan aku sendiri di rumah.
Ayah selalu tersenyum dan menjawab tentu aku memiliki ibu seperti teman teman ku yang lain.
Dan ketika aku bertanya di mana ibu ku? Ayah selalu menjawab ibu ku sedang kerja jauh sekali, jadi tidak bisa pulang.
__ADS_1
Tapi jika aku bertanya lagi pada ayah, kapan ibu akan pulang? Ayah hanya akan diam tak bisa langsung menjawab pertanyaan ku, sesekali mengusap rambut ku atau memeluk tubuh kecil anak berusia tujuh tahun ini sembari berkata "Nanti kalo kamu sudah besar, kamu akan tau ibu ke mana nak." ucap ayah dengan senyuman tapi matanya selalu berkaca kaca setiap kali ku tanyakan kapan ibu ku akan pulang.
Setelah aku Sekolah Dasar, seorang wanita tua dan laki laki yang ku taksir berumur enam puluhan itu selalu datang mengunjungi ku dan memberi ku uang kadang kala menjemput lalu mengajak ku menginap di rumahnya.
Ya, ayah bilang mereka adalah nenek dan kakek ku. Wanita tua itu adalah ibu dari ibu ku, sedang kan laki laki tua itu adalah bapak dari ibu ku tapi aku sendiri tak tau wajah ibu ku seperti apa.
Nenek dan kakek datang berkunjung di stand tempat jualan ayah. Lalu meminta izin untuk membawa ku menginap di rumahnya, ayah juga mengizinkan aku untuk pergi menginap satu sampai dua hari ketika libur sekolah.
Di rumah nenek ada anak perempuan seusia ku, satu tahun umurnya di atas ku. Dia adalah anak dari kakak kandung ibu, kami selalu bermain bersama ketika nenek datang menjemput ku untuk menginap di rumahnya.
Hingga suatu hari, nenek dan kakek menjemput ku lagi dan mengajak ku menginap di rumahnya saat hari sabtu karena besok adalah tanggal merah saatnya para siswa libur sekolah.
Sesampainya di rumah nenek, aku tercengang melihat tenda merah biru besar di depan rumah nenek seperti tenda tenda pernikahan yang sering ku lihat saat tetangga ku sedang menikah.
Belum juga aku mengubah posisi mematung ku melihat tenda itu, tiba tiba seorang wanita keluar dari rumah nenek dan langsung berlari untuk memeluk juga mencium ke dua pipi ku.
__ADS_1
Aku tak membalas pelukannya, ku tatap wajah wnaita yang sedang duduk berjongkok di depan ku itu menangis sembari mencium ke dua pipi ku bergantian.
Aku mengernyikan dahi, heran dengan wanita yang tiba tiba datang memeluk ku dan menangis padahal kami tidak saling kenal.