
"Gimana mbak? lancar atau nggak tadi interview ne?" tanya pak Imam saat aku sampai di pos satpam untuk meminta tolong di bukakan gerbang untuk keluar.
"Alhamdulillah, lancar pak." ucap ku sembari meringis menampakan dua gigi gingsul atas di samping kanan dan kiri.
"Alhamdulillah, tapi keterima semuanya toh ini?" tanya pak Imam sembari membuka gerbang berwarna hitam ini menggunakan remot di tangan kanannya.
"Yo i pak Imam, kita senin udah mulai masuk kerja kok. Bisa jadi besti nih kita!" sahut Ervi dengan senang.
"Ha ha ha ha... Siap siap, kita besti lo yo.. Jangan bes taii!" sahut pak Imam dengan tawa.
"Bes tai tai, emang tai terbaik mam?" ledek salah satu pak satpam yang duduk di kursi dalam pos satpam itu sembari menatap kami.
"Ah kamu i ngawor ae Moo Tomo!" ucap pak Imam.
Aku dan Ervi hanya tertawa mendengar lawakan dari dua satpam kantor ini, beruntung sekali aku bertemu satpam satpam baik di sini.
Dari beberapa tempat pabrik pabrik yang aku dan Ervi datangi tadi, banyak satpam yang ketus saat aku dan Ervi bertanya lowongan kerja pada merek. Tidak semuanya, tapi banyak yang sangat tidak ramah seperti dompet yang ku isi uang ini tak bisa ramah sehingga membuat uang ku ingin kabur dari dalamnya.
"Kami pulang dulu ya pak, sampai ketemu hari senin. Hi hi.." ucap ku sembari cengengesan.
"Oke, siap diajeng. Hati hati di jalan!" ucap pak Imam saat kami melangkah keluar dari gerbang hitam yang sudah canggih menggunakan remot itu
"Siap kakanda prabu Imam." jawab Ervi tak kalah konyol.
"Ha ha ha ha..." tawa rencah dari dua orang satpam yang sedang berjaga itu.
Aku dan Ervi melanglah kan kaki ke area terdekat untuk mencari kos kosan yang tak terlalu mahal, uang ku dan Ervi tak terlalu banyak jadi sementara hanya mampu untuk menyewa kos yang murah itupun juga kami akan menyewa kos satu kamar untuk berdua.
Bukan bulan selanjutnya tak ingin kos satu kamar berdua lagi dengan Ervi, tapi aku maupun Ervi adalah anak yang sama sama menghargai privasi sesanma teman karena setiap orang tentu lebih nyaman jika memiliki privasi, bukan?
"Gimana Tik? Kita yang mana nih? dua lima puluh ribu murah banget sih tapi gak ada kasur e loh, masa kita tidur gak pake alas kasur cuman pake alas tikar?" tanya Ervi menoleh ke arah ku.
Sedang harga untuk kos yang menengah seharga tiga ratus lima puluh sudah berisi kasur dan lemari tapi kamar mandi luar, sedangkan yang ada kamar mandi di dalam kamar kos seharga lima ratus ribu rupiah. Tentu lumayan mahal bagi kami yang tidak memiliki uang, sedangkan untuk biaya hidup di sini juga butuh uang untuk makan satu bulan ke depan. Beruntungnya aku masih memiliki tabungan sedikit dari hasil membantu emak dan apoh berjualan martabak setiap harinya saat bersekolah, jadi aku tidak perku bingung dan tak perlu repot repot meminta bantuan atau pinjaman ke anggota keluarga yang lain.
"Jangan alas tikar Vi, nanti kalo kita sakit malah gak bisa kerja." ucap ku.
__ADS_1
"Ya udah kita ambil kamar mandi di luar aja gimana tik? kan lumayan tik, seratus lima puluh itu bisa kita pake beli beras sama telor buat sebulan to?" ucap Ervi memberi usal.
"Iya bener lah Vi, yang penting ada kasurnya gak kosongan kaya yang tadi." ucap ku.
"Oke, deal ambil yang ini ae yo?" tanya Ervi lagi memastikan.
"Iyo iyo Vi." jawab ku sembari mengeluarkan uang lima puluh untuk memberi DP pada ibu pemilik kos, ibu kos itu meminta DP seratus ribu jadi aku dan Ervi patungan lima puluh ribuan.
Setelah membandingkan harga dari tiga kos yang kami kunjungi, aku dan Ervi akhirnya memutuskan memilih kos yang kamar mandinya di luar dengan harga tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Ya, harga itu memang lebih murah seratus lima puluh ribu rupiah di banding dengan yang ada kamar mandi di dalam tapi setidaknya masih ada fasilitas kasur yang memadai untuk tidur.
Setelah selesai dengan urusan tempat kos, aku dan Ervi segera berjalan lagi untuk kembali menuju terminal Bungurasih.
Saat kami jalan, matahari terasa sangat terik di atas kepala kami. Ku lihat jam di pergelangan tangan kiri ku menunjukan pukul dua belas lebih dua puluh empat menit, sama saja hampir setengah satu jadi sangat wajar jika panas matahari saat ini begitu menyengat.
"Beh... Panas e pol!" ucap Ervi sembari menaruh telapak tangan kanannya ke atas kepala agar tak silau.
"Yo panas lah wong sekarang setengah satu udah waktune dhuhur." ucap ku asal dari pada tidak menjawab ucapan konyol Ervi.
Sudah tau siang masih saja mengeluh panas, kecuali jika di pagi atau sore hari terasa panas baru ada yang aneh.
Aku mengangguk mantap tanpa menjawab dengan ucapan.
Tentu saja perut ku merasa lapar, berjalan berkilo kilo meter dengan berjalan kaki juga membutuhkan tenaga banyak yang membuat isi perut ku sekarang ini kosong keroncongan.
"Makan soto dulu yok, di sana!" ajak Ervi sembari menunjuk deretan penjual makanan yang tertata rapi di sebuah ruko ruko ruko terminal.
Ku lihat palang bernomor tiga belas itu masih sepi belun ada bus yang terparkir akan berangkat dari terminal menuju jurusan trenggalek, sedangkan rumah kami di area Kediri jadi tentu saja aku dan Ervi menggunakan bus dari palang nomor tiga belas itu.
"Ya udah yok!" ucap ku sembari melangkah kan kaki maju menuju salah satu warung soto yang Ervi tunjuk tadi.
"Buk, soto ayam dua." ucap Ervi setelah duduk di kursi depan ku sembari mengangkat tangab kanannya.
"Oke mbak, minumnya apa?" ucap ibu penjual soto sedikit berteriak karena terhalang etalase.
"Es opo kamu Vi?" tanya ku menatap ke arah Ervi yang duduk di depan ku.
__ADS_1
"Es teh ae biar hemat." bisik Ervi.
Aku mengangguk patuh.
"Es teh dua buk." ucap ku sedikit berteriak.
"Oke siap."
Setelah selesai makan, aku dan Ervi berjalan bersama menuju meja ibu penjual soto untuk membayar dua mangkuk soto dan dua gelas es teh yang sudah kami minum.
"Berapa bu?" tanya ku sembari menatap wanita yang ku perkirakan usianya sekitar empat puluh tahunan ini.
"Sembilan puluh ribu mbak." jawab ibu penjual soto yang ada di depan kami.
"Hah??" ucap ku dan Ervi serempak karena kaget mendengar harganya.
"Iya mbak, dua mangkuk soto ayam sama dua gelas es teh manis kan?" tanya ibu itu memastikan kembali pesanan kami.
"Iya bu." jawab Ervi cepat.
"Bener kok mbak, soto ayam dua mangkuk tujuh puluh ribu sama dua gelas es teh manisnya dua puluh ribu." jelas ibu soto ini.
Aku menelan ludah sudah.
Bagaimana tidak menelan ludah susah? Bakso di kediri satu mangkuk saja hanya seharga lima ribu rupiah, sedangkan soto ayam satu mangkuk juga hanya di bandrol dengan harga tujuh ribu rupiah saja kecuali soto daging itu baru satu mangkok sepuluh ribu rupiah.
Kalau segelas es teh manis? Jangan tanya lagi apakah harganya juga berbeda jauh?
Tentu saja, di area Kediri masih dengan harga dua ribu sampai tiga ribu rupiah sedang harga di sini membuat dada ku sesak. Mungkin karena area terminal juga, jadi aku tidak tau pasti harganya.
Tanpa berfikir panjang lagi, aku mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu rupiah dari dalam dompet ku lalu ku senggol lengan Ervi agar menggabungkan uangnya dengan uang ku. Ku lihat Ervi juga mengeluarkan uang pecahan lima puluhan, lalu memberikannya pada ibu penjual soto.
"Mampus mampus, apes banget toh kita hari ini?" ucap Ervi setelah langkah kami keluar dari warung soto tersebut.
Aku hanya tertawa sembari meratapi kebodohan kami yang tidak membeli makanan di luar, malah membeli di area terminal.
__ADS_1