KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 12


__ADS_3

"Tik, Tika... Tik, Tikaa... Ayo bangun!" ucap Ervi yang menepuk pundak ku secara terus menerus.


"Aaaaaaarrggghhh..."


Aku merentangkan ke dua tangan ku dengan santai menggeliat tanpa memperdulikan jika aku dan Ervi sedang berada di dalam bus.


"Apaan sih Vi?" ucap ku menoleh ke arah Ervi yang sedang menatap ku.


"Apaan piye toh? Kita itu udah sampek, la kamu mau kembali lagi ke Kediri opo kok gak mau bangun ki?" ucap Ervi dengan nada sinis.


Aku langsung terperanjat menoleh ke arah kaca jendela, benar saja ternyata aku dan Ervi sudah sampai di terminal Bungurasih.


Aku berdiri mengikuti gerakan Ervi dengan menggendong tasnya lagi di punggungnya, ku toleh sekeliling isi bus ini ternyata sudah sepi tak seperti awal keberangkatan tadi yang penuh dengan kerumunan orang bahkan ada beberapa orang yang sampai berdiri karena tak mendapatkan tempat duduk.


"Udah sepi ya?" guman ku pelan tapi masih bisa di dengar oleh Ervi.


"Yo sepi lah, orang kamu itu gila sepanjang perjalanan malah ngorok terus gak perduli tempat! Gak di sekolah, gak di bus sama aja gak tau sikon." cerocos Ervi sembari menuruni tangga bus.


"Iyo iyo maaf to Vi, orang aku ki yo gak pengen tidur lo. Tapi ngantuk sendiri kena ac, yo gimana lagi kalo ndak boleh tidur ki." sahut ku asal.


"Yo emang dari dulu itu setiap kamu tidur kan emang selalu alesan ngantuk terus!" ketus Ervi sembari terus berjalan di samping ku.


"Yo mana ada orang tidur gak ngantuk i? Jelas jelas orang tidur yo karena ngantul lah, kamu ini aneh." ucap ku berjalan mengikuti Ervi.


Hening... Tak ada sahutan lagi dari Ervi, ia justru meletakan tangan kirinya di atas mata. Mungkin silau karena sinar matahari yang mulai bersinar, entah lah pagi ini suasana begitu cerah tampak lebih panas dari hari biasanya.


Ku lihat jam yang terikat di pergelangan tangan kiri ku sudah menunjukan pukul 9 kurang dua puluh satu menit, atau jam delapan lebih tiga puluh sembilan menit.

__ADS_1


Aku mengerutkan dahi ku, padahal kita tadi berangkat sekitar pukul tujuh pagi. Ervi juga mengatakan jika bus lewat tol cukup memakan waktu satu jam, tapi ini? sampai satu setengah jam lebih.


"Ayo jalan agak cepetan, panas nih!" ucap Ervi.


Aku hanya mencibirkan bibir ku tanpa menjawab ucapan dari Ervi.


Kami berjalan di area trotoar, sepanjang jalan juga banyak pejalan kaki yang berlalu lanang. Mungkin memang tujuan mereka akan ke terminal, sedangkan aku dan Ervi menuju tempat yang belum tau entah ke mana langkah kaki ini berhenti.


"Nyeberang sekarang yok!" ucap Ervi memberi aba aba untuk menyebrang sembari menggenggam tangan kanan ku erat.


Aku menyebrang mendengarkan intruksi Ervi, langkah kaki ku juga mengikuti langkah kakinya yang berjalan cepat.


"Kita mau ke mana tujuan yang pertama?" tanya ku menoleh ke arah Ervi.


"Kamu bawa berapa lamaran kerja?" ucap Ervi ganti bertanya pada ku.


"Yang udah di map ada empat, tapi yang belum ku kasih map ada tiga lamaran yang udah lengkap." jawab ku.


"Vi, kamu nggak haus emang?" ucap ku saat berada di depan sebuah super market.


"Haus to Tik, ya udah beli air dingin dulu ae." ucap Ervi menggandeng tangan ku menuju pintu masuk super market.


Aku sudah seperti anak ayam yang harus mengikuti induk ku kemanapun induk ku pergi.


Setelah masuk dan membeli dua botol air dingin, aku dan Ervi melanjutkan langkah kaki menuju sebuah pabrik pabarik untuk meletakan lamaran.


'Di Cari pekerja wanita bagian produksi, umur max 25 tahun, pendidikan minimal Sekolah Menengah Atas.'

__ADS_1


Isi dari papan yang tergantung di gerbang warna merah yang ada di sebelah kiri ku.


"Vi, ini Vi. Baca!" ucap ku menepuk pundak Ervi.


"Mana?" ucap Ervi menoleh ke samping kiri.


Aku langsung menunjuk papan kardus itu yang menggantung pada pagar besi berwarna merah.


"Ayo tanya ke satpam!" ucap Ervi menarik tangan kanan ku.


Aku mengangguk patuh mengikuti langkah teman ku ini.


"Permisi pak, apa lowongan pekerjaan yang ada di papan itu masih?" ucap Ervi pada salah satu satpam yang sedang berjaga di pos satpam pabrik itu.


"Oh, iya mbak. Kalau mau melamar silahkan taruh saja lamarannya di sini!" ucap seorang satpam yang sedang berdiri di depan kami sembari menunduk ke satu meja di sampingnya.


Ku lihat di atas meja itu terdapat tumpukan map coklat yang sudah menggunung, ku rasa tentu tumpukan map itu lebih dari dua ratus map lamaran pekerjaan.


Aku menelan ludah ku kelu, ternyata susahnya cari pekerjaan bukan hanya di kota ku tapi di kota besar seperti tempat yang aku dan Ervi datangi ini juga banyak sekali orang orang yang belum mendapatkan pekerjaan.


Ervi tersenyum, lalu menyenggol lengan ku untuk memberi kode.


"Cepet taruh lamarannya!" bisik Ervi pada telinga kanan ku.


"Oh, iya iya." ucap ku bergegas melepas ransel ku lalu mengambil map yang ada di resleting besar.


"Ini pak, maaf pak apa gak bisa langsung interview ya?" ucap ku bertanya pada satpam yang menerima map coklat milik ku dan Ervi.

__ADS_1


"Maaf mbak, enggak bisa. Ini semua juga masih nunggu di sortir dulu kok, nanti kalo masuk dalam kualifikasi pabrik kami akan HRD hubungi." jawab pak satpam itu dengan sopan.


"Oh, ya sudah pak. Terima kasih!" ucap Ervi menganggukan kepala, kemudian segera menarik ku menjauh.


__ADS_2