
Aku dan Ervi di ajak masuk oleh salah seorang satpam yang ada di pos satpam tadi, langkah kaki kami melewati pintu masuk dengan bangunan yang full kaca. Tampak megah jika sudah masuk ke dalam area bangunan dengan gedung yang bertingkat tinggi ini, tempat duduk para karyawannya juga sangat rapi dan terlihat bagus.
"Vi, aku belum cuci tangan." ucap ku pelan tepat di sebelah telinga kiri Ervi.
"Udah diem aja, tar abis ini kita ke kamar mandi atau minta tisu kan bisa. Inget, jaga image biar di terima!" sahut Ervi.
"Hemm..." guman ku lirih tapi masih bisa terdengar oleh Ervi.
Image apanya? Apa iya seorang office girl harus memiliki citra yang baik? Sudah seperti pegawai kantor saja harus menjaga image! Toh yang ku tahu jika cleaning servis itu yang di perlukan orang orang yang memiliki semangat tinggi, suka kebersihan, cekatan, dan juga disiplin.
Tok Tok Tok Tok!
Pak satpam yang mengantar kami mengetuk sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang HRD' tepat di atas pintu ruangan tersebut.
"Iya, silahkan masuk." ucap seorang laki laki dari dalam ruangan.
Ceklek.
"Permisi pak, ini ada dua orang perempuan mau melamar pekerjaan sebagai office girl. Tadi pak Bara bilang ke pada saya untuk membawa langsung anak yang ingin daftar menemui pak Bara langsung, karena pak Bara ingin mendapatkan cleaning servis cepat pak untuk di taruh di bagian area ruangan dia sama area lainnya." jelas pak satpam yang berdiri di depan ku dan Ervi, di bagian dadanya terdapat name tag atas nama Imam Santoso.
"Pak Bara langsung ya tadi yang ngomong ke kamu?" tanya seorang laki laki yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Betul pak." ucap pak satpam ini mengangguk mantap.
__ADS_1
"Oh, ya udah kalo gitu biar saya telfon dulu ke sekretaris pak Bara. Takutnya lagi sibuk, nanti malah orangnya ke ganggu." jelas laki laki yang menghadap ke arah kami, sepertinya ia adalah seorang HRD. Bukan aku sok tahu, tapi ruangan yang sedang kami masuki memang bertuliskan ruang HRD.
"Oh, siap pak." ucap pak satpam.
"Duduk dulu gih kalian." ucap HRD itu senbari menatap kami bertiga.
"Baik pak, ayo duduk dulu mbak." ucap pak satpam.
Ervi kemudian menarik tangan ku untuk duduk di kursi yang ada di depan HRD tersebut.
"Hallo, bu Dinda. Mohon maaf ini ada yang melamar pekerjaan di bagian cleaning service tapi tadi kata pak Imam si Bos nyuruh buat langsung nemuin mau di interview sama pak bos, langsung soalnya cari buat bagian khusus bersihin ruangan pak Bos." jelas laki laki yang duduk di hadapan ku dan Ervi.
"Oh begitu ya pak, ya sudah tunggu sebentar biar saya tanyakan sekarang ya pak." ucap wanita yang di panggil bu Dinda itu.
Dreeettt, dreeeettt, dreeeett, dreeeeett...
Setelah beberapa detik, ponsel laki laki yang memiliki jabatan HRD ini bergetar kembali.
"Hallo bu Dinda." ucapnya.
"Oh, baik bu baik. Saya akan segera menyuruh pak Imam untuk mengantarkan mereka ke ruangan pak Bos langsung!" ucap HRD ini lagi.
Tut!
__ADS_1
Sambungan telepon sudah di matikan, bapak HRD meletakan ponselnya di atas meja yang ada di hadapan ku.
"Pak Imam, tolong antarkan mbak mbak ini ke ruangan pak Boss ya pak Imam. Pak Bara sudah bilang bisa interview langsung sekarang juga mumpung masih ada waktu, karena sebentar lagi ada rapat pak."
"Oh, iya pak. Siap pak!"
"Ayo mbak, mari silahkan saya antar mbak mbaknya ini ke ruangan pak Bara." ucap satpam yang bernama pak Imam ini.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak." ucap pak Imam pada HRD laki laki itu.
"Oke pak Imam, siap."
Aku dan Ervi menganggukan kepala pelan sebelum keluar dari ruangan ini.
Aku dan Ervi mengikuti langkah pak Imam dari belakang.
"Pak Bara itu siapa ya pak?" tanya ku penasaran.
Mendengar pertanyaan dari aku, pak Imam memperlambat langkah dan mensejajarkan langkah kakinya dengan aku dan Ervi.
"Pak Bara itu anak dari pemilik kantor ini mbak, sekaligus CEO di sini. Jadi semuanya pekerjaan di sini itu yang bertanggung jawab pak Bara, pak bos ini gantiin ayahnya yang udah pensiun lima tahun lalu mbak." jelas pak Imam.
"Oh, gitu ya pak."
__ADS_1
"Iya mbak.