
Langkah kaki pak security yang kami ikuti sejak tadi berhenti tepat di depan sebuah ruangan, di atas pintu itu terdapat tulisan 'Ruang CEO'.
"Bismillah... Semoga akubdan Ervi sama sama keterima kerja di tempat yang sama Ya Allah." guman ku pelan sembari meremas lengan Ervi yang sedang membawa dua map milik ku dan miliknya sendiri, aku menggunakan tangan kiri ku yang tidak kotor karena minyak pisang gorengan tadi ku makan menggunakan tangan kanan.
Ervi langsung menoleh menatap ku dengan mata memyipit, bersiap ingin memarahi ku tapi tidak jadi karena ia sadar jika sekarang kami sedang sesi tegang memanjatkan do'a agar sama sama di terima bekerja.
Tok Tok Tok Tok...
Pak Imam mengetuk pintu ruangan anak pemilik dari kantor ini yang bernama pak Bara, ya itu lah yang di katakan oleh pak Imam tadi selaku security di kantor ini.
"Masuk!" ucap seorang laki laki dengan suara yang sedikit serak serak basah.
Ceklek!
Pak Imam menarik gagang pintu besar ruangan yang besar ini.
"Permisi pak Bara, maaf pak... Saya ke sini karena di suruh oleh pak Beni HRD, sesuai pesan bapak tadi untuk menyuruh pelamar menemui bapak langsung untuk sesi interview." ucap pak Imam pada laki laki yang memakai jas berwarna biru navy itu.
Sedangkan aku dan Ervi masih mematung di depan pintu karena belun di persilahkan untuk masuk.
"Hemm... Suruh masuk aja pak, terima kasih ya pak Imam." ucap laki laki itu.
"Baik pak, kalau begitu saya kembali bertugas di pos satpam ya pak?" ucap pak Imam.
"Oh iya pak Imam, silahkan! Terima kasih pak."
"Sama sama pak, permisi pak." ucap pak Imam.
Laki laki itu hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Pak Imam kemudian melangkah kan kakinya menuju pintu tempat aku dan Ervi masih berdiri mematung sembari mengamati juga mendengarkan percakapan antara seorang bawahan ke pada atasannya.
"Ayo mbak, silahkan masuk langsung. Saya mau kembali bekerja di pos satpam." ucap pak Imam mempersilahkan aku dan Ervi masuk.
"Terima kasih pak." ucap ku dan Ervi serentak bersamaan.
"Bismillah, semoga kita keterima Ya Rob..." guman Ervi sembari melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang mewah ini.
Hal pertama yang membuat ku salah fokus yaitu pada cat dan desain ruangan ini, dengan cat berwarna hitam perpaduan coklat tua gelap namun terlihat cocok dengan interior lampu lampu berwarna silver dan berwarna gold, tak lupa mata ku menyapu area furniture berwarna senada yang membuat ruangan ini terlihat keren dan mewah.
"Wah... Gila." guman ku sangat pelan, aku benar benar takjub dengan ruangan yang di desain sebegitu mewah ini.
Aku biasa melihat desain ruangan ruangan mewah seperti ini saat melihat drama korea di aplikasi Telegr*m, tapi kini aku melihatnya secara langsung.
"Permisi pak, kami ke sini mau melamar pekerjaan sebagai office girl." ucap Ervi membuka percakapan.
"Berdua?" tanya laki laki yang ku lihat sangat tampan rupawan.
"Iya pak, kami berdua sama sama ingin melamar sebagai cleaning service." ucap Ervi.
Aku hanya diam saja tak mengeluarkan satu katapun, aku hanya tak punya nyali dan takut jika salah berbicara akan membuat ku tak lolos sesi interview yang akan aku lakukan.
"Oh, iya iya. Silahkan duduk!" ucap laki laki yang bernama Bara tersebut.
"Baik pak." ucap Ervi lalu duduk di kursi sebelah kanan, sedangkan aku ikut duduk di kursi sebelah kiri.
"Ini pak, surat lamaran pekerjaan kami." ucap Ervi menyodorkan dua map berwarna coklat muda itu ke atas meja.
"Iya, taruh situ saja!" ucapnya dengan angkuh.
__ADS_1
"Baik pak." jawab Ervi.
Jangan tanya lagi apa yang aku lakukan? Tentu saja aku hanya diam menunduk sembari menggenggam erat tangan kanan ku yang kotor karena terkena minyak gorengan yang Ervi bawa dari rumah ku tadi pagi.
"Temen kamu ini bisu?" ucap laki laki yang duduk di depan ku dan Ervi.
Aku langsung mendongak setelah mendengar kata kata teman kamu ini bisu, enak saja mengatai aku bisu. Belum menjadi karyawannya saja sudah mengejek orang lain seperti itu, apa lagi menjadi bawahannya tentu akan menjadi buly bulyannya.
Aku langsung memasang ekspresi tak suka, dahi ku berkerut, mata ku juga menyipit seperti seekor elang yang sedang bersiap mencengkram mangsanya, tak lupa bibir ku secara otomatis akan mengangkat bibir atas ku sebelah.
'Dasar CEO gila!' batin ku kesal.
"Oh, enggak kok pak. Teman saya ini normal kok pak, bisa bicara dan tidak bisu." ucap Ervi yang langsung menyenggol sikut kanan ku menggunakan sikut kanannya.
Aku menoleh ke arah Ervi, namun Ervi mengerlingkan satu matanya untuk mengode ku agar angkat bicara.
"Saya nggak bisu kok pak." sahut ku dengan malas.
"Bagus deh kalo gitu, soalnya saya gak terima karyawan yang kesulitan untuk bicara karena bisa menghambat pelancaran komunikasi." jawabnya dengan songong.
"Iya pak." Ervi mengangguk.
Laki laki yang ku perkirakan berumur sekitar dua puluh delapan tahun itu kemudian meraih dua map yang Ervi letakan di atas meja tadi, lalu mulai membuka tali map.
Entah itu map milik ku atau milik Ervi aku tak begitu paham, karena aku tak hanya membawa satu map tapi ada beberapa map yang sudah ku kumpulkan di pabrik pabrik lainnya sebelum melihat pak Imam menempelkan kertas lowongan pekerjaan di gerbang.
"Kalian fresh graduate Sekolah Menengah Atas ya?" ucapnya sembari membaca isi kertas lamaran pekerjaan.
"Iya pak, betul." jawab Ervi.
__ADS_1
Apa hal hal setidak penting itu perlu di tanyakan? padahal sudah jelas tertulis bahwa aku dan Ervi adalah lulusan tahun ini, bahkan ijazah kami saja belum keluar sehingga kami harus melamar menggunakan Surat Keterangan Lulus dari sekolahan.