KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 18


__ADS_3

Mampus! Sepertinya aku memang cari mati dengan laki laki yang sedang duduk santai di kursi empuknya ini.


"Ma maaf pak." ucap ku dengan gugup.


"Kenapa kamu ini sangat ceroboh sekali?" ucapnya sembari beranjak dari duduknya, lalu pergi menuju ke belakang.


Entah pak Bara pergi ke kamar mandi ataupun hanya ke wastafel aku juga tidak tau, yang ku tau hanya terdengar suara gemericik air.


"Kamu kenapa sih Tik? Cari mati aja?" ucap Ervi berbisik pelan pada telinga kiri ku.


"Aku bukan cari mati Vi, aku tadi cuman reflek seneng dan cuman pengen ucapin terima kasih aja kok tapi aku lupa kalo tangan kanan aku masih ada minyaknya." ungkap ku jujur.


"Kamu gimana toh padahal tadi udah tak suruh peperin tangan ke tem..." ucap Ervi terpotong saat melihat pak Bara sudah muncul dari balik temboh menuju ke mejanya kembali sembari membawa tisu basah di tangan kirinya.


Ervi membetulkan posisi duduknya seperti semula, tak ingin mencari gara gara lagi dengan CEO sinting ini.


Laki laki ini langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuk yang ada di depan ku dan Ervi, kemudian membuka bungkus tisu basah lalu mengambilnya satu lembar dan ia gunakan untuk mengelap tangan kanannya.


Ke dua mata ku fokus menatap ke arah tangan pak Bara, tapi aku sendiri juga risih jika tangan kanan ku harus berlama lama dengan lumuran minyak ini.


Ingin sekali rasanya aku meninta izin untuk ke kamar mandi atau wastafel yang pak Bara pakai mencuci tangannya baru saja, tapi nyali ku tak cukup besar untuk mengungkapkan hal itu.


"Ngapain kamu ngeliat tisu basah saya terus?" tanya laki laki yang ada di depan ku ini membuat ku gelagapan.

__ADS_1


"Hah? Oh, enggak pak." ucap ku kikuk.


"Mau?" ucapnya dengan nada seperti tak ingin menawari.


Sepontan aku langsung mengangguk mantap, aku benar benar ingin tisu itu.


"Tuh ambil satu!" ucap pak Bara.


Seketika senyum kikuk ku tadi berubah menjadi senyum sumringah.


"Beneran pak?" tanya ku.


"Hemm..." guman laki laki yang bernama pak Bara itu.


"Kapan kalian bisa mulai masuk bekerja di sini?" tanya pak Bara.


Aku menoleh menatap ke arah Ervi, tak ingin lagi salah mengambil tindakan yang bisa membuat ku kehilangan kesempatan yang sudah berada di tangan ku.


Ervi menoleh ke arah ku, ia mengode ku dengan mengangkat ke dua alisanya tapi aku takut untuk memberi usul. Akhirnya aku hanya membalas kode Ervi dengan mengangkat ke dua bahu ku sebagai pertanda jika aku tidak tau alias tidak bisa menjawab.


"Maaf pak, hari ini kan jum'at. Bagaimana jika saya dan teman saya ini mulai bekerja hari senin?" ucap Ervi dengan nada sesopan mungkin.


Laki laki ini justru merespon dengan kerutan di keningnya.

__ADS_1


"Kenapa hari senin? Kalau besok apa tidak bisa? Hari ini kalian bisa pulang untuk mengambil pakaian, sebelum pulang kalian bisa mencari kos dulu bukan? lalu nanti malam berangkat lagi ke kos yang sudah kalian cari, besok sudah bisa kerja." jawab CEO ini.


Aku langsung menyipitkan ke dua mata ku.


"Maaf pak, tapi itu terlalu singkat. Saya setuju dengan usulan Ervi, hari ini sebelum pulang kami akan mencari kos dulu untuk di tempati pada hari minggu. Sedangkan besok kami akan packing semua keperluan, lalu saya besok juga bisa ke rumah bibi untuk meminta izin dan menitipan ayah. Minggu kami akan berangkat, senin masuk kerja." usul ku dengan berani.


Aku sudah tidak ingin lagi berbasa basi, sudah satu jam lebih aku dan Ervi berada di ruangan CEO somplak ini tapi tidak kunjung putus dengan pertanyaan pertanyaan yang menurut ku tidak pemting.


"Baik lah, hari senin setelah kamu ikut brifing pagi bersama temen temen cleaning service yang lain, kamu ijin ke ketua kamu dulu untuk datang ke ruangan saya. Paham?" ucap laki laki yang ada di depan ku ini sembari menunjuk ke arah ku menggunakan bolpoin hitam yang ada di tangan kanannya.


"Baik pak." ucap ku mengangguk, tak ingin memperpanjang lagi pertanyaan.


"Baik lah, sesi interview kita hari ini cukup sekian. Kalian sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah masing masing, jaga diri kalian baik baik, jangan meminum es maupun gorengan untuk menghindari sakit karena batuk pilek bisa membuat virus sakit satu kantor dan saya tidak mau itu terjadi karena bisa membuat karyawan lain cuti dengan alasan sakit batuk pilek, jangan lupa hati hati saat perjalanan pulang dan jangan lupa istirahat penuh untuk besok sebelum kalian datang kembali ke sini." ucap laki laki ini panjang lebar seperti seorang guru Sekolah Dasar yang memberitahu muridnya agar tak minum marimas.


"Baik pak." ucap ku dan Ervi serentak.


"Jangan lupa hari senin datang sepuluh menit sebelum jam setengah delapan pagi agar tidak telat." imbuhnya lagi.


"Baik pak." ucap ku dan Ervi lagi lagi serempak.


"Silahkan pulang." jawabnya.


"Baik pak, kalau begitu kami permisi dulu." ucap Ervi beranjak dari duduknya lalu menjabat tangan laki laki yang ada di depan ku ini, kemudian aku mengikuti gerakan sama persis dengan yangbErvi lakukan.

__ADS_1


__ADS_2