
Wanita muda yang ku taksir masih berumur sekitar dua puluh lima atau dua puluh tujuh taun itu ternyata ibu ku, nenek memberi tahu ku agar membalas pelukan ibu tapi aku hanya diam membisu. Sorot mata ku terus mantap wajahnya yang sayu karena menangis, tapi sepenggal katapun juga tak keluar dari mulut ku.
"Nak, ini ibu sayang." ucap wanita itu menangis tergugu.
Tak berselang lama, keluar dari dalam rumah nenek seorang laki laki umurnya sepantaran ayah ku mungkin karena ku lihat wajahnya tak terlalu tua sekali.
"Ayo masuk ke dalam dulu." ucap laki laki tersebut menggandeng tangan ibu.
Hari ini aku tidak menginap di rumah nenek, padahal kata nenek wanita itu adalah ibu ku. Apa iya ibu ku tak ingin tidur dengan ku meskipun hanya satu malam?
Aku hanya diam dan patuh saat kakek dan nenek akan mengantar ku kembali ke stand tempat jualan bapak, di rumah nenek sudah penuh orang seperti sedang buwuh bahas jawanya. Buwuh merupakan kegiatan mendatangi acara hajatan untuk memberikan bantuan berupa uang maupun barang atau buwuh bisa di sebut juga dengan kondangan, selain orang orang yang datang kondangan juga para tetangga yang membantu meladen.
Tapi nenek, kakek, wanita yang baru ku tahu ibu ku, dan kakak dari ibu juga mengatakan bahwa itu hanya acara aqiqah anaknya saja yang bernama Luna.
Sebelum pulang, nenek dan ibu membungkus banyak makanan untuk di bawakan aku pulang. Makanan itu seperti rendang daging sapi, ayam bumbu bali, mie goreng wortel, dan masih banyak jajan jajan bawah lainnya yang di masukan ke kantung kresek untuk ku bawa pulang.
Sesampainya di stand tempat ayah jualan, ayah mengerutkan dahinya saat melihat isi tas dan membuka kantung plastik banyak berisi banyak makanan.
"Di rumah nenek mu ada acara apa Ka?" tanya ayah pada ku.
"Gak tau yah, kata nenek acara aqiqah Luna. Tapi tadi aku ketemu ibu sama suami barunya yah." ucap ku sembari menaikan ke dua pundak ku sebagai isyarat jika aku tidak tau.
Mungkin orang akan menganggap aku bodoh, tapi di usia tujuh tahun ku masih terlalu kecil untuk ingin tau tentang masalah perceraian dan pernikahan.
Ayah diam tak menjawab lagi, ia tersenyum mengusap rambut ku lembut lalu menyuruh ku untuk bermain di belakang stand.
Ku lihat ayah kembali duduk di dalam stand dengan mata berkaca kaca, sesekali ke dua tangannya yang berwarna sawo matang karena terik matahari di siang hari itu mengusap wajahnya pelan.
Waktu itu aku selalu berfikir keras mengapa ayah sering menangis setiap aku menanyakan perihal ibu, tapi aku sudah tau jawabannya setelah melihat wanita yang nenek sebut ibu ku dan suami barunya.
__ADS_1
Meski aku tidak tau bagimana rasa sakit yang di alami ayah, setidaknya aku tau jika ibu memiliki suami baru berati ayah dan ibu ku sudah tidak bisa tinggal di atap yang sama lagi.
Hari hari berlalu, bulan berganti bulan, dan taun berganti taun.
Aku sudah tidak pernah bertemu dengan wanita yang bertemu dengan ku sekali itu, yang semua orang katakan jika dia adalah ibu ku. Tapi setiap nenek mengajak ku menginap di rumahnya memang ibu tidak ada di rumah, nenek hanya mengatakan ibu kembali bekerja sebagai tenaga kerja wanita ke luar negeri lagi bersama ayah tiri ku.
Ayah ku tidak pernah bertemu ibu ku sama sekali, bahkan sekedar berkomunikasi via telepon saja tidak pernah. Ibu juga tidak pernah mengirimi aku uang sama sekali, ayah juga tidak pernah tau lagi semua tentang ibu yang ayah tau hanya nenek kadang datang menjenguk ku dengan membawakan makanan dan memberi ku uang saku lima puluh ribu rupiah tapi terkadang juga memberi uang gambar mawar pecahan seratus ribu rupiah.
Tak terasa umur ku sudah menginjak empat belas tahun, sudah duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Nenek juga tau di mana tempat aku bersekolah, nenek dan kakek juga masih sama tetap mengunjungi ku setiap satu bulan sekali meskipun aku tidak tau wajah ibu ku lagi setelah pertemuan sekali pada saat umur ku 7 tahun.
Pada suatu hari, saat aku baru saja berganti seragam setelah pelajaran olahraga di lapangan. Tiba tiba salah saty satpam di tempat aku bersekolah datang ke kelas dan mencari ku, pak satpam mengatakan jika ibu ku datang ke sekolah untuk mencari ku.
Aku terdiam, ibu?
Bahkan hampir tujuh tahun sudah aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, mendengar suaranya via telepon saja bahkan juga tidak pernah.
Ah, mungkin adik dari nenek ku yang biasa ku panggil emak! Pikir ku.
Aku tersadar dari lamunan ku, kemudian segera kembali ke bangku untuk memasukan seragam olahragaku lalu melangkah pergi menuju pos satpam.
Ternyata dugaan ku salah, itu bukan emak ku. Tapi dua orang wanita, yang satu memang aku mengenalnya. Dia anak pertama dari nenek, kata nenek mbaknya ibu ku.
Tapi yang satu lagi siapa?
Dua wanita ini mendekat menghampiri ku, seorang wanita yang tidak aku kenal langsung memeluk tubuh ku erat.
Aku tidak tau wanita siapa wanita ini? Entah yang dulu memeluk ku di saat masih berumur 7 tahun atau berbeda aku tidak tau, karena sudah terlalu lama aku tidak pernah bertemu lagi dengannya hingga aku benar benar tidak bisa mengingat lagi wajah ibu.
"Nak, ini ibu nak!" ucap wanita yang sedang memeluk ku sembari mengusap punggung ku lembut.
__ADS_1
Kemudian melepas pelukan ku, tangannya memegang wajah ku dan matanya menatap mata ku.
Di dalam sana terdapat sorot tatapan iba saat menatap wajah ku, mungkin karena wajah ku yang dekil tak sebersih teman teman lain yang hidupnya terurus oleh ke dua orang tuanya. Berbeda dengan aku yang setiap hari setelah pulang sekolah harus langsung berangkat di bonceng ayah naik sepeda bututnya untuk berangkat berjualan meskipun di saat siang matahari sangat terik, selain ayah tak tega meninggalkan aku sendirian di rumah juga karena aku ingin membantu ayah berjualan gorengan jadi ayah tak perlu serepot dulu mengurus martabak dan gorengan sendirian seperti waktu aku kecil.
"Maafin ibu yo nduk... Gara gara ibu sama ayah kamu pisah, kamu jadi korbannya." ucap ibu dengan tatapan nanar dan masih berkaca kaca.
Aku hanya mengangguk pelan, hati ku tak karuan. Bukan karena rasa rindu yang terobati, tapi berbagai pertanyaan berkecamuk di sana.
Mengapa ibu meninggalkan aku?
Mengapa ibu meninggalkan ayah?
Mengapa ibu sekali saja tidak pernah ingin tidur bersama ku?
Mengapa ibu sama sekali tidak pernah menanyakan kabar ku selama ini meskipun hanya melalui telepon?
Apa ibu tidak sayang pada ku?
Jika memang ibu sibuk bekerja, mengapa saat pulang ibu tidak mengajak ku menginap di rumah nenek dan tidur bersama di sana?
Bahkan ibu juga tidak pernah memasak satu kalipun untuk ku!
Bu, apa ibu tau? Jika aku ingin seperti teman teman ku yang membawa bekal makanan setiap harinya ke sekolah, ibu mereka selalu bangun pagi untuk menyiapkan bekal makanan untuk anak dan suaminya tak seperti ibu ku yang tak pernah tau aku sudah makan atau belum.
Ibu bahkan tidak tau kan? Bahkan aku tidak pernah sarapan di rumah karena ayah terlalu repot dengan belanjaan untuk bisa berjualan, agar ayah tetap bisa menghidupi aku.
Bahkan ibu tau? Ayah selain tugasnya bekerja mencari nafkah, ia juga pandai memasak, bahkan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya ibu lakukan yaitu mencuci pakaian ku dari aku bayi.
Terima kasih bu... Aku memang gagal memiliki ibu, tapi ayah ku tidak pernah gagal berperan ganda menjadi seorang ayah sekaligus seorang ibu untuk ku!
__ADS_1
Semua pertnyaan itu muncul satu persatu di hati ku, tapi aku tidak bisa mengungkapkan karena terlalu asing.