
"Yah, aku berangkat ke tempat jualan emak dulu ya?" ucap ku sembari mencium punggung telapak tangan ayah.
"Ka, bukannya kamu hari senin sudah Ujian Nasional?" tanya ayah memegang pergelangan tangan kanan ku.
"Iya yah, emang kenapa?" ucap ku menganggukan kepala.
"Kalo ujian kenapa kamu masih bantu jualan emak mu?" tanya ayah menatap ku sendu.
"Enggak apa apa yah, Tika bisa ujian belajar nanti malem sepulang dari bantu jualan kok." ucap ku tersenyum.
"Kamu di suruh bayar yo nduk sekolah e?" tanya ayah menatap mata ku dalam.
Aku menggeleng cepat, tak ingin membuat ayah khawatir.
Enggak kok yah, malah udah dapet nomor kartu ujian kok." bohong ku.
"Alhamdulillah Ya Allah.. Semangat yo nduk belajare, biar bisa lancar ujian e." ucap ayah mengelus rambut ku lembut.
Aku mengangguk dan tersenyum.
Langkah kaki ku langsung menuju emper rumah, ku nyalakan motor matic vari* berwarna hitam tak lupa juga memakai helm abu abu milik ku.
Baru saja aku sampai di stand tempat emak jualan, tiba tiba aku melihat nenek dan kakek datang dengan bi Nani dan Luna sudah berada di dalam stand milik emak.
Ku parkir motor matic kesayangan ku ini di belakang stand, lalu melepas helm abu abu yang ku pakai.
"Assalamu'alaikum.." ucap ku sembari mencium punggung telapak tangan semua orang yang ada di stand.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam.." ucap mereka kompak.
"Ka, senin kamu juga Ujian Nasional sama kaya Luna kan?" tanya nenek pada ku.
Aku menganggukan kepala sembari melepas jaket.
"Udah dapet nomer kartu ujian belum? Kan kamu belum lunas to?" tanya nenek lagi.
"Belum." jawab ku jujur.
"Lhoh, gimana to? Ujian hari senin kok sekarang belum pegang kartunya? Nanti kamu nggak bisa ikut ujian lo." ucap bi Nani menatap ku.
Emak yang mendengar obrolan kami akhirnya menghampiri..
"Lho, senin ujian to Ka?" tanya emak.
"Enggih mak." jawab ku mengangguk.
Maklum, dulu emak tidak bersekolah. Hanya sekolah SD sampai kelas tiga saja, karena dulu mbah buyut ku bukan orang yang mampu.
"Udah mak, nggak apa apa. Gak usah di pikirin!" jawab ku santai.
"Sek sebentar, tak telponin ibuk mu. Biar di kirim uang buat bayar tunggakan sekolah mu!" jawab kakek ku mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi empat itu dari saku jaket hitamnya.
Aku mengerutkan dahi ku, padalnya selama ini aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengan ibu. Terakhir kalinya sewaktu umur ku masih empat belas tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, yang waktu itu ibu dan bi Nani datang ke sekolah ku membawakan aku banyak barang batang juga sebuah boneka.
"Gak usah kek, aku gak apa apa kok." ucap ku tak ingin berbicara pada wanita yang mereka sebut ibu ku.
__ADS_1
Bukan apa apa! Tapi jika ibu perduli, seharusnya ibu mengerti jika anaknya sedang kesusahan dalam menjalani hidup. Bahkan seribu rupiahpun ibu tidak pernah mengirimkan uang pada ku, bagimana mungkin bisa memberi ku uang jika kabar saja tak pernah di perdulikan.
"Ini, ibu mu pengen ngomong sama kamu." ucap kakek memberikan ponsel miliknya pada ku.
Aku meraih ponsel kakek, lalu mendekatkan ponsel itu pada telinga ku.
"Hallo, assalamu'alaikum." ucap ku sedikit grogi.
Sungguh, selama ini aku benar benar tak pernah berbicara dengannya meskipun hanya sekedar lewat telepon. Mungkin nenek sering menelpon ibu ataupun sebaliknya, terlibat dari riwayat panggilan telepon yang berjejer kontak nama ibu memenuhi layar ponsel kakek.
"Wa'alaikun salam, Ka. Gimana nduk? Ada apa kok kamu pengen ngomong sama ibu." tanya ibu kepada ku, tapi bisa di dengar semua orang karena kakek mengaktifkan pengeras suara .
"Itu lo Yul, anakmu butuh uang buat bayar tagihan sekolah. Dia pengen bilang mau minta uang ke kamu buat lunasin tunggakan sekolah e, biar bisa ikut ujian." ucap nenek menyela saat aku belum sempat menjawab.
Aku mengerutkan dahi ku, meminta??
Padahal aku tidak pernah meminta minta pada siapapun kecuali pada ayah, itupun juga saat ayah masih sehat. Pada emak saja aku tidak pernah meminta minta, bukan tidak berani hanya saja tidak mau merepotkan dan merasa sungkan karena sudah selalu menyusahkan.
"Opo? Gak salah denger toh aku? Kamu mau minta uang aku? Heh! Kamu itu udah hidup sama ayah mu, dulu tak ajak hidup sama aku gak mau sekarang mau minta uang? Lah kamu bisa mikir gak? Kamu itu yo, nek udah milih hidup sama ayah mu yo berati kamu anak ayah mu bukan anak ku lagi. Enak ae mau minta uang, satu sen pun aku gak akan ngasih uang kamu! Paham? Kecuali kalo kamu mau tinggal sama aku dan ninggalin ayah mu, itu baru jadi anak ku dan tak kasih uang. Minta itu uang sama ayah kamu yang katanya sanggup bisa besarin kamu! Inget yo.. Aku sama ayah mu itu wes pisah, sama ae aku sama ayah mu wes gak ada hubungan apa apa sama sekali. Karena kamu ikut tinggal sama ayah mu dan gak mau tinggal sama aku, berati kamu yo bukan anak ku lagi! Seharus e loh, nenek sama kakek mu itu udah gak perlu ngejenguk kamu lagi. Kamu i itu udah bukan cucu mereka lagi lo harus e, orang wes pisah kok mau minta uang buat sekolah! Makanya kanu itu punya otak jangan bodoh! Ayah mu itu lo miskin gak punya apa apa, cuman bisa ngajak kamu hidup susah tok tapi kamu masih mau bertahan hidup sama dia. Kamu terlalu bodoh, andai mau hidup sama aku pasti kamu bisa kaya Luna yang nantinya kuliah." ucap ibu dengan nada marah.
Deg!
Hati ku nyeri saat mendengar wanita ini memaki maki ayah, jika ibu tak suka pada ayah kenapa ibu dulu menikah dengan ayah dan harus melahirkan aku?
Aku juga tak ingin bu, ibu lahirkan lalu ibu tinggalkan. Aku juga ingin seperti teman teman ku yang setiap harinya di masakan dan di bawakan bekal oleh ibunya, dari kecil ayah sudah mengajari aku mencuci baju ku sendiri padahal anak seusia ku waktu itu masih di cucikan bajunya oleh ibu mereka.
"Aku gak minta apa apa kok ke sampean, gak pernah minta. Toh sampek sekarang aku udah umur delapan belas tahun juga gak pernah ada bantuan apapun dari ibu, jadi tolong jangan bilang macam nacam tentang ayah ku!" ucap ku.
__ADS_1
"Heh! Kamu di bilangin udah berani jawab ya? Kamu belain ayah mu yang gembel itu? Ha ha ha ha... Kamu sama ayah mu itu sama saja, mental mental hidup miskin!" ucap ibu dengan ucapan yang tak pernah aku duga sebelumnya.
Lebih baik aku tak tau soal ibu ku, dari pada aku harus mendengar kata kata yang menyakiti hati ku.