KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 10


__ADS_3

Satu minggu lalu adalah hari kelulusan sekolah ku, aku di nyatakan lulus dari sekolah ini. Meski aku tau nanti ijazah ku tidak akan bisa ku ambil karena masih memiliki tunggakan, tapi setidaknya aku bisa mendapat surat kelulusan dari sekolah untuk melamar pekerjaan.


Hari ini aku bangun lebih awal, setelah menjalankan ibadah dua rakaat aku langsung bergegas untuk membeli lauk di pedagang berbagai macam lauk pauk yang jaraknya tak jauh dari rumah ku.


Rencana ku hari ini setelah mencuci baju ku dan baju milik ayah, menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Aku akan pergi ke kota untuk melamar pekerjaan di beberapa tempat, karena rumah ku memang termasuk pedesaan yang berjarak sekitar dua puluh lima kilo meter jika dari kota.


Di sini tidak banyak pabrik pabrik besar yang bernaung di kota ini, tidak seperti kota kota besar lainnya yang maju dan banyak pabrik pabrik besar maupun area perkantoran.


Sebenarnya aku ingin pergi ke luar kota, tapi karena ayah sedang sakit jadi aku tidak tega meninggalkan ayah sendiri di rumah. Ayah ku masih bisa berjalan dan melakukan aktifitasnya sendiri, hanya saja penyakit jantung yang ayah derita membuat aktifitasnya sering terhambat selain itu ayah juga memiliki riwayat sesak nafas jadi aku melarang ayah untuk bekerja.


"Ka, kamu mau ke mana nduk?" tanya ayah menatap ku sedang bersiap dan memasukan beberapa lembar map berwarna coklat muda itu ke dalam tas, memang rencananya aku akan melamar pekerjaan di beberapa tempat.


"Iya yah, Tika mau muter lagi cari kerjaan." ucap ku yang masih sibuk menata tas ku.


Tok Tok Tok Tok...


Tiba tiba terdengar pintu rumah ku terketuk.


"Siapa itu nduk?" ucap ayah yang baru saja menyeruput teh, ayah segera meletakan tehnya kembali di atas lepek berwarna putih.


"Biar Tika aja yah yang buka pintunya." ucap ku pada ayah, lalu melangkahkan kaki ku bergegas menuju pintu ruang tamu.


Ceklek!


"Hoe!!" ucap seorang gadis yang tak asing lagi di mata ku, bahkan setiap harinya kita selalu bertemu sejak dua tahun terakhir ini. Bukan hanya bertemu setiap hari, ia juga selalu membangunkan tidur ku di kala jam pelajaran sekolah di mulai.


Aku menatap pakaian Ervi, pagi ini ia mengenakan kemeja putih dengan sedikit renda di area bawah kerahnya, kemeja putih itu juga di masukan rok sepan berwarna hitam, ia juga mengenakan sepatu pantofel. Penampilan Ervi kali ini sudah seperti embak embak Sales Promotion Girl yang ada di area mall mall yang sering aku lihat jika sedang bermain ke kota.

__ADS_1


"Heh! Jangan bengong aja dong, masa kamu nggak nyuruh aku masuk?" ucap Ervi yang masih berdiri di depan pintu.


"Tik, suruh teman kamu masuk!" teriak ayah dari dalam rumah.


"Eh, iya iya. Maaf... Masuk ke dalam gih!" ucap ku pada Ervi, sekilas ku lihat Ervi membawa tas yang ia letakan di atas pijakan kaki depan motor maticnya.


"Kamu ngapain ke sini?" ucap ku sembari menjatuhkan tubuh ku pada sofa yang sedikit keras ini.


"Nggak suka nih di maenin ke rumah? Ngusir nih ceritanya?" ucap Ervi mengerutkan dahinya.


"Ka, kok gitu to ada temennya dateng gak malah di buatin minum malah di tanya duluan!" ucap ayah yang sudah ada di belakang ku.


Aku menoleh ke belakang, ternyata ayah sudah berdiri di belakang ku.


Sontak Ervi beranjak dari duduknya kemudian mencium punggung telapak tangan ayah.


"Iya yah, ini mau Tika buatin minum kok. Mau teh panas apa teh ri* aja Vi?" ucap ku menatap Ervi.


Ayah hanya tertawa kecil melihat tingkah teman satu bangku ku itu.


Bisa bisanya dia mengatakan tak usah repot repot tapi malah memilih.


Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil kan Ervi minuman teh cup.


"Mau ke mana nak Ervi kok udah dandan kaya Tika?" tanya ayah yang masih bisa ku dengar dari dapur.


"Ini pak, saya mau ngajak Tika ke Surabaya untuk ngelamar pekerjaan." jawab Ervi.

__ADS_1


"Loh, kenapa di Surabaya Vi?" tanya ayah lagi.


"Iya pak, di sini itu gaji juga sedikit cari pekerjaan juga sudah gak dapet dapet." jawab Ervi.


Tapi memang begitu lah, umr kota kami memang sangat sedikit. Bahkan hanya emapat puluh persen dari upah minimun regional area Surabaya, di sini juga sangat sulit untuk mencari pekerjaan dengan gaji umr.


"Oh, begitu yo... Tapi bener juga yo Vi, emang gaji di sini murah murah. Pabrik di sininae ada yang tiga puluh lima ribu kok satu hari, itu yang jaga stand jualan pinggir jalan pernah bapak tanya gajinya sekitar lima ratus sampek delapan ratus rupiah sebulan." ucap ayah.


"Nah, makanya itu pak saya mau ajak Tika ke Surabaya. Kan gak terlalu jauh bisa pulang setiap minggu atau dua minggu sekali naik bis cuman satu jam lewat tol." jawab Ervi.


Ayah mengangguk anggukan kepala membemarkan uacapan Ervi.


"Ini Vi, minun dulu." ucap ku meletakan dua gelas teh hangat dan empat cup teh ri* ke atas meja ruang tamu.


"Mator suwon.." jawab Ervi.


"Iyo Vi, silahkan di minum dulu gih. Ndang ngobrol ae sama Tika, ayah tak ke belakang." ucap ayah bangkit dari duduknya.


"Enggih pak." ucap Ervi dengan sopan.


Ku lihat ayah sudah masuk ke dapur, lalu aku menatap Ervi yang sedang menyeruput teh hangat.


"Kamu gila yo Vi mau ngajak aku ke sana?" ucap ku langsung tanpa basa basi, aku sudah biasa berkata ceplas ceplos pada teman sebangku ku ini.


"Ya endak gila to, kamu ini aneh. Kita lo susah cari kerjaan di kota sendiri, gaji juga rendah, mana bisa kita nabung. Kasian kan orang tua udah tua tapi kita kerja cuman bisa makan sehari hari tok tapi gak bisa nabung, terus kapan kita bisa nyenengin orang tua sedang orang tua kita semakin lama umurnya semakin menua tapi kita masih belum bisa ngasih apa apa!" jawab Ervi dengan santai.


Deg!!

__ADS_1


Kata kata Ervi langsung menusuk hati ku, memang benar ayah semakin tua tapi aku masih saja menyusahkan ayah, emak dan juga apoh.


Sejenak fikiran ku melayang memikirkan kenanagan kenangan masa kecil ku yang masih melekat dengan jelas, dulu ayah tidak pernah lelah mengayuh sepeda butut berwarna bieu miliknya itu pulang pergi sejauh empat puluh kilo meter dan tak pernah sedikitpun ayah mengeluh lelah.


__ADS_2