
Ayah datang menghampiri aku dan Ervi yang sedang duduk di kursi, ayah meletakan sepiring gorengan yang mungkin ayah beli dari warung sebelah rumah ku.
"Di makan dulu nduk Ervi, maaf yo nduk ndak bisa ngasih jamuan apa apa. Kalau mau sarapan dulu ayo ke dapur, tadi Tika beli lauk kok." ucap ayah sembari tersenyum.
"Enggak apa apa pak, sampun mboten usah repot repot. Kulo sampun sarapan di rumah pak, ini juga mau berangkat kok." ucap Ervi pada ayah.
"Wes janjian dari semalem to kalian?" tanya ayah.
"Enggak kok pak saya yang inisatip tiba tiba dateng, he he.." ucap Ervi nyengir.
"Oalah, ya udah. Ndang di lanjut ngobrol e."
"Yah... Gimana? Apa aku boleh cari kerja di luar kota? Nanti Tika akan sering sering pulang kok, biar tau kondisi ayah terus." ucap ku menatap ayah sendu.
Ayah mengangguk, kemudian tersenyum.
"Ya tentu boleh to Brut, kamu ini gak usah khawatirin ayah. Ayah lo bisa kerja serabutan di sawah, kamu kerja o yang serius. Kalo niat kerja di luar kota yo harus hati hati, bisa jaga diri baik baik. ucap ayah.
"Iya yah, makasih ya yah." ucap ku.
"Iya Brut, sama sama. Ini mau naik motor atau naik bus?" tanya apa setelah aku mengambil tas ku dari kamar.
"Naik bis aja ya Tik? Nanti sepeda motornya kita titipin di parkiran pasar itu." ucap Ervi, akupun mengangguk.
"Kami berangkat dulu ya yah?" ucap ku menjabat tangan ayah untuk bersalaman dan mencium punggung telapak tangannya.
"Iya, hati hati yo Tik. Kamu juga harus hati hati lo nduk Ervi." ucap ayah.
"Enggih pak, siap." jawab Ervi tersenyum sembari mencium tangan ayah.
Aku meraih helm ku yang tergeletak di meja kecil samping kursi ruang tamu, lalu segera memakai helm abu abu yamg biasa ku gunakan.
Clic!
__ADS_1
Suara pengait helm ku terkunci.
Ervi juga sudah menangkring di jok motornya, tak lupa helm bogo berwarna hitam orenge bergambar lebah itu sudah terpasang di kepalanya.
"Sini, biar aku boceng." ucap ku pada Ervi.
"Lah, kenapa?" tanya Ervi menoleh ke arah ku.
"Kamu lagi pake rok sepan, aku takut nanti kaki mu terpelengkang gak bisa jaga keseimbangan. Kan aku pake celana." ucap ku.
Tubuh Ervi sangat kurus, aku takut dia tidak bisa menjaga keseimbangan karena rok sepannya sangat ketat.
"Hemm... Ya udah nih." ucap Ervi beralih turun.
"Yah, kami berangkat dulu ya?" ucap ku sedikit berteriak pada ayah yang sedang berdiri di teras rumah sembari melambaikan tangan.
"Iya Brut, hati hati.." ucap ayah membalas lambaian tangan ku.
"Bismillah..." guman ku sebelum menarik gas yang ada di genggaman tangan kanan ku.
Untuk menyegat bis ke arah Surabaya kami hanya tinggal menyeberang saja ke barat jalan, karena jika tidak menyeberang hanya berdiri di samping timur yang lewat hanya bus jurusan Surabaya Trenggalek.
"Ayo Vi, pegang tangan ku. Satu, dua tiga, nyebrang!" ucap ku menggandeng erat tangan Ervi.
"Oke, Yok!!" ucap Ervi sedikit berteriak sembari melangkahkan kakinya sedikit berlari saat aku berkata angka tiga.
Maklum saja jika jalan ini ramai dan sangat padat, karena di sini pertigaan area pasar. Sedangkan jalan besar yang kami seberangi ini adalah jalanan provinsi, itu artinya jalur kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, bus, truk, tronton, maupun Fuso lewat sini semua. Sedang yang arah pertingaan tempat kami parkir adalah area pasar, jadi banyak orang berlalu lalang untuk berbelanja di pinggir jalan yang kadang membuat jalanan sedikit macet.
Baru saja kami menyebrang, tiba tiba dari arah selatan ada sebuah bus ekonomi harap*n jay* yang sudah pasti jurusan Surabaya itu berhenti tepat di depan kami, semua orang yang sudah menunggu lama segera berbondong bondong untuk naik ke dalam bus begitu juga dengan aku dan Ervi yang langsung ikut naik.
"Vi, nanti kita naik apa kelilingnya cari kerjaan?" tanya ku menoleh pada Ervi yang sedang duduk di kursi bus sebelah ku.
"Ya kita jalan kaki aja Tik, anggep aja itung itung olahrga pagi. Toh ini masih jam tujuh kok dan bus ini lewat tol, pasti sampai sana sekitar jam delapan masih belum panas juga kan." jawab Ervi dengan senyumnya yang meringis.
__ADS_1
Aku menganggukan kepala paham.
"Kamu kenapa nggak lanjut kuliah aja Tik?" tanya Ervi tiba tiba saat aku ingin memejamkan mata untuk tidur sejenak sebelum bus ini sampai di kota orang yang akan kami kunjungi.
Mendengar pertanyaan konyol Ervi, aku langsung menoleh ke arahnya.
"Dih, aku nanya baik baik juga malah ngeliatin judes amat." sahut Ervi.
"Ya abis kamu itu udah gila ya pake nanya segala." sahut ku kesal.
Sebab Ervi memang sudah tau semua kondisi ku dan keluarga ku, selama dua tahun satu bangku bersama dari jam tujuh pagi sampai setengah empat sore membuat gadis yang duduk di samping kursi bus ini benar benar sudah paham betul karena hari hari kami di isi dengan saling bercerita satu sama lain.
"Bukan gitu maksud aku, maksud aku tuh gini... Kenapa kamu gak minta biaya ibu kamu buat kuliah? Gimanapun kamu kan tetep anak kandungnya, toh ibu kamu itu orang yang mampu dan kaya pasti mudah banget biayain sekolah anaknya. Atau kalo gak gitu kamu ikut ibu kamu dulu ke luar negeri, dua atau tiga taun dulu kek biar ada modal dulu baru pulang di rumah kan udah ada modal." ucap Ervi yang terdengar serius.
Mendengar pertanyaan Ervi, aku diam sejenak sembari menatap langit langit bus yang terdapat ac. Sejuk!
"Huuuufftt... Doi bilang aku udah gak ada hubungan apa apa lagi sama dia, dia bilang kalo dia sama ayah udah cerai itu artinya sama aja aku udah bukan anaknya lagi." ucap ku sembari masih fokus menatap langit langit bus.
"Hah? Serius kamu? Ibu kamu ngomong kaya gitu?" ucap Ervi langsung menoleh menatap ku heran.
Aku mengangguk mantap membenarkan pertanyaan Ervi.
"Bahkan doi juga pernah bilang tuh, kalo dia nyesel udah ngelahirin aku." ucap ku tersenyum untuk menutupi rasa sedih ku.
"Serius??" tanya Ervi lagi seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Kapan sih aku pernah bohong ke kamu?" ucap ku menoleh ke arah wajahnya yang masih dalam ekspresi heran.
Ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Bener bener ibu kamu itu udah gak ada otak ya? Gila gila... Kaget loh aku dengernya kalo sampek tega ngomong kaya gitu, sabar yo Bro!!" ucap Ervi mengelus lembut lengan kanan ku.
"Ah, lebay!" sahut ku cepat.
__ADS_1
"Assem!! Aku bener bener lagi prihatin nih sama nasib kamu." jawab Ervi yang langsung menabok paha ku.
Aku hanya tertawa melihat tingkah teman baik ku ini.