
Air mata ku mulai mengembun, aku benar benar merasa hati ku sakit. Bukan sakit patah hati karena cinta pada seseorang, tapi hati ku patah oleh ibu ku sendiri. Dia bahkan tak menganggap aku sebagai putrinya, bukan kah sampai kapan pun tidak akan ada yang namanya mantan anak? Yang aku tau, memang ada mantan istri atau mantan suami. Tapi baru kali ini aku mendengar kata kata mantan anak karena ke dua orang tuanya sudah bercerai, dan kata kata itu keluar dari mulut wanita yang sudah melahirkan ku sendiri.
"Yul... Udah to Yul, jangan bilang kaya gitu. Semua itu cucu nenek sama kakek, jadi wajar kalo bapak sama ibu mu ini sambang ke rumah anak mu." ucap nenek ku yang duduk di samping ku.
"Udah lah buk, ndak usah lagi ibu nemuin Tika. Biarin dia mikir semuanya sendiri, dia udah milih ayahnya ya udah ibu nggak usah perduli lagi sama dia. Dia udah besar, gak perlu lagi ibu sama bapak pikirin dia!" sahut ibu dengan nada tak enak.
Emak yang mendengar suara ucapan wanita yang ada di seberang telepon ini pun segera menghampiri ku, lalu meraih ponsel yang sedang ku pegang.
"Loh, mak?" ucap ku sepontan saat emak meraih ponsel itu.
"Udah Yul, jangan pernah ngomong macam macam lagi ke Tika. Kalo kamu udah nggak anggep dia anak ya udah, dia itu anak yang gak pernah tau apa apa soal orang tuanya. Kamu gak suka sama dia? Kamu tau? Kalo dia tau akhirnya di lahirkan punya ibu yang gak mau perduli kaya kamu, dia juga gak akan mau Yul. Kamu bisa ngomong macem macem ngrendahin ayah e Tika, tapi itu dulu juga pilihan kamu sendiri. Bahkan kamu tau juga dari dulu ayah e Tika itu orang miskin dan mlarat tapi kamu tetep kekeh pengen nikah, anak masih bayi umur setaun baru bisa jalan juga udah kamu tinggal sampek sekarang umur delapan belas tahun. Dia itu nggak pernah tau apa apa soal ibune, ayah e juga gak pernah ngejelek jelekin kamu sekaipun kamu selingkuh di luar negeri sewaktu masih belum cerai sama ayah e Tika. Aku bener bener heran sama kamu, kok ada seorang ibu kaya kamu yang udah ngandung anak e 9 bulan lebih, ngelahirin taruhan e juga nyawa tapi malah tega ngomong ke anak seng kamu brojolin sendiri kalo dia bukan anak kamu lagi gara gara orang tuane udah cerai. Aku ini bukan ibunya, aku juga bukan orang yang ngelahirin Tika tapi aku sama ayah e Tika itu ngebesarin dia dari bayi sampek segede ini jelas gak terima kalo ada orang yang berani nyakitin dia teasuk kamu yang ibunya sendiri tapi punya mulut tajem e ngalah ngalihin belati. Ya Allah, Gusti.. Baru ini aku nemu orang yang nggak punya hati sama sekali!" ucap emak sembari mengelus dadanya sendiri dengan tangan kirinya, lalu segera memberikan benda berbentuk persegi panjang itu ke pada nenek.
Dapat terdengar jelas sura wanita yang sudah tau mau ku sebut itu terisak, tapi hati ku sama sekali tak sakit karena perkataan emak sudah membuat wanita itu menangis. Hati ku pilu saat wanita itu juga mengatakan menyesal sudah pernah melahirkan ku, aku juga tak mau di lahirkan oleh rahim mu bu. Sungguh!! Jika aku boleh meminta, aku akan meminta di lahirkan oleh ke dua orang tua yang utuh dan sangat amat menyayangi putra putrinya.
Bukan di lahirkan oleh wnaita seperti mu, yang menyesal memiliki anak seperti aku!
"Sudah mak, sudah. Ngapunten nggih mak." ucap nenek tak enak hati pada emak.
__ADS_1
"Mending sampean ajarin anak e sampean kalo ngomong sama anak yang gak tau apa apa itu gimana!" ucap emak mengelus rambut ku lembut.
Aku menoleh menatap wajah emak, ku lihat mata emak juga mengembun karena menahan tangis.
"Enggeh mak, ngapunten nggih. Pamet riyen mawon kulo mak."
(iya mak, maaf ya. Pamit dulu saja saya mak.)
Ucap nenek mengulurkan tangannya untuk berpamitan menyalami emak dan apoh ku, apoh adalah suami emak yang sudah berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih umurnya tapi masih di beri kesehatan untuk setia menemani emak berjualan.
Emak hanya mengangguk tanpa menjawab lagi, namun tangannya menyalami anggota keluarga nenek yang ikut datang ke sini.
"Ka.. Ke sini o nduk!" ucap apoh melambaikan tangannya ke arah ku, menyuruh ku untuk duduk di kursi panjang di samping emak dan apoh.
"Wes nggak usah di pikir yo ucapan e ibu mu, anggep ae dia wanita gila yang ngomong e ngawur!" ucap apoh mengelus rambut panjang ku dengan tangan hitamnya yang sudah keriput karena termakan usia.
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk, meski sakit hati ku tak akan sembuh dengan kata kata itu.
__ADS_1
"Uang di buat ujian mu kurang berapa to Ka? Bilang o to Ka sama emak dan apoh, mak e ini gak bisa baca tulis. Kalo kamu nggak bilang, mak e sama apoh mu juga gak akan tau kalo kamu lagi kesusahan bayar." ucap mak e.
Aku langsung menggelngkan kepala ku pelan.
Bagimana mungkin aku setega itu untuk meminta uang pada emak dan apoh yang sudah sepuh usianya tapi masih bekerja untuk sekedar bisa mengganjal perutnya dengan nasi sehari tiga kali, aku bukan anak yang setega itu melihat orang orang yang aku sayangi hidup susah.
Sekarang yang aku punya hanya ayah, emak, dan apoh. Mereka bertiga adalah hidup ku, saat ayah jatuh sakit semua makanan yang ku masukan je dalam perut ku dan perut ayah adalah pemberian nasi dari hasil kerja keras emak dan apoh yang rela hidup di jalanan tak pulang sepanjang waktu. Bahkan emak dan apoh tidur di bawah hanya beralaskan dengan tikar plastik, yang di buat tidur selalu menyisakan cap bintik bintik di bagian tubuh kita karena gambaran yang sedikit bolong bolong dari tikar plastik tersebut.
"Mak, Poh.. Maafin Tika ya mak, delapan belas tahun Tika udah nyusahin hidup emak apoh dan ayah." ucap ku menunduk, tak terasa air nata ku kini meluncur begitu saja.
"Huuuusstt... Kamu itu ngomong opo to Ka, udah kewajiban e mak e sama apoh buat besarin kamu. Jangan ngomong kaya gitu lagi yo, mak e hancur denger kamu ngomong kaya gini!" ucap emak dengan suara parau dan langsung memeluk tubuh ku erat, aku juga mendengar suara isakan dari emak.
"Tapi dia bilang nyesel udah lahirin aku, mak. Hiks hiks hiks.." ucap ku sembari terisak.
"Dia nyesel yo biarin, nggak usah kamu dengerin wong dia emang udah gila. Kamu itu lo anak ragil e emak sama apoh, bukan anak dia!" sahut apoh yang ikut mengelus rambut ku.
Terima kasih, Ya Allah... Engkau masih memberi ku orang orang baik di sekitar ku, tidak banyak tapi orang orang ini lah yang tidak pernah meninggalkan ku dalam keadaan apapun.
__ADS_1
Jangan ambil salah satu mereka dari hidup ku Ya Allah, aku tidak akan siap jika Engkau mengambil salah satu dari jiwa ku.
Mak e, Apoh, Ayah... AKU MENYAYANGI KALIAN!