KECANTOL CEO DUDA

KECANTOL CEO DUDA
Chapter 23


__ADS_3

Tak terasa hari ini sudah hari minggu, aku baru saja membuka mata lalu meraih benda pipih berbentuk persegi panjang yang tergeletak di atas kasur untuk melihat jam.


Ku ketuk layar dua kali agar layar ponsel ku menyala dan terlihatbdengan jelas angka besar kosong empat titik lima belas pada layar yang menyala itu, jam empat lebih seperempat pas berati sudah waktunya sholat subuh kurang tiga menit lagi. Aku segera bangun dari posisi tidur ku, melipat selimut tebal kesayangan ku berwarna maroon yang setiap hari ku gunakan lalu setelah itu segera melangkahkan kaki ku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


...


"Nduk, hari ini kamu nggak usah masak." ucap ayah saat aku hendak mengeluarkan motor matic berwarna hitam satu satunya motor yang kami miliki.


Aku memgerutkan daginsembari menoleh menatap ayah.


"Kenapa yah?" tanya ku.


"Kamu habis ini juga udah berangkat to Nduk, kalo kamu masak malah nanti ndak ada yang makan." ucap ayah dengan senyum yang terlihat jelas seperti terpaksa.

__ADS_1


Seeeeerr!!


Hati ku berdesir melihat senyum ayah yang tak seceria biasanya, hati ku tiba tiba menjadi sangat berat untuk meninggalkan ayah sendirian di sini.


Aku berjalan mendekat ke arah ayah dengan mata yang sudah berkaca kaca, tapi aku berusaha menahan air mata ini agar tak meluncur.


"Yah... Kalo ayah kesepian di rumah sendirian, Tika gak jadi berangkat yah. Nanti Tika bisa cari kerja di deket deket sini aja, biar ayah gak sendirian di rumah." ucap ku dengan nada serak karena menahan tangis sembari menatap laki laki berkulit sawo matang dengan rambut yang sudah mulai memutih karena termakan usia.


Entah mengapa tiba tiba fikiran ku terbayang pada masa masa kecil ku, saat ayah harus mengayuh sepeda butut berwarna biru yang sudah berkarat di beberapa bagian besinya sejauh empat puluh kilo meter setiap harinya. Ayah rela menempuh kayuhan sepedah tuanya sejauh itu hanya karena tak tega meninggalkan aku di rumah sendirian, tapi sekarang justru aku yang akan meninggalkan ayah sendirian di rumah saat kondisi ayah sering sakit sakitan.


Tes!


Air mata ku meluncur begitu saja mengaliri pipi ku, membuat ku langsung menundukan kepala agar ayah tak melihat tangis ku.

__ADS_1


"Heii... Kenapa malah nangis to nduk?" ucap ayah mengangkat dagu ku pelan.


Aku menggelengkan kepala, namun mulut ku tak mampu menjawab.


"Ayah i ndak apa apa nduk, kamu mbok jangan mikirin yamg enggak enggak. Ayahmu ini masih bisa kerja, kamu ndak usah mikirin nanti kirim kirim uang buat ayah. Uang hasil kerjamu itu harus kamu simpen yo nduk, suatu saat keperluan kamu akan banyak tapi sayangnya ayahmu ini cuman orang tua yang gagal gak bisa ngasih anak e hidup yang enak dan terjamin. Maafin ayah yo nduk, ndak bisa kaya orang tua temen temenmu yang bisa nyekolahin anak e sampek tinggi tinggi." ucap ayah dengan suara parau.


Aku langsung memeluk ayah sembari menggelengkan kepala pelan, berkali kali ku yakinkan pada hati ku jika aku adalah anak paling beruntung di dunia ini yang memiliki ayah hebat seperti ayah ku yang mampu membesarkan anaknya sendiri tanpa menikah lagi karena ingin fokus mencintai putrinya.


"Tika gak pengen kuliah kaya temen temen, Tika bersyukur banget punya orang tua kaya ayah. Ayah jangan ngomong gitu lagi ya yah, Tika pasti inget pesen ayah buat nabung dan bisa kasih ayah kehidupan yang lebih baik dari sekarang ini biar ayah bahagia terus di masa tua ayah." ucap ku sembari memeluk ayah erat.


"Aamiin... Iya nduk, iya. Ayah doain kamu terus, semoga putri ayah ini selalu di beri kesehatan, rejeki lancar dan kesuksesan di kemudian hari." ucap ayah mengelus rambut ku.


"Aamiin..."

__ADS_1


__ADS_2