
Sesampainya aku di depan rumah, aku segera turun dari jok depan sedangkan Ervi segera mengubah posisinya untuk maju ke depan.
"Vi, mampir dulu gih! Aku buatin es es dulu biar agak seger tuh kerongkongan kamu." ucap ku menawari Ervi untuk turun dan masuk ke dalam rumah.
"Udah gak usah, ini mau langsung pulang aja udah sore. Lagian tenggorokan aku masih basah kena aliran manisnya es teh sepuluh ribu." sahut Ervi.
Seketika aku dan Ervi tertawa terbahak bahak mengingat ke bodohan kami yang masih melongo saat mendengar total dari makanan yang Ervi dan aku makan.
"Wis lah, aku tak pulang dulu. Sampein ke ayah kamu yo!" ucap Ervi sebelum menancap gas untuk pergi.
"Oke, hati hati Vi." teriak ku saat motor matic yang di kendarai teman baik ku itu mulai meninggalkan area pekarangan rumah ku.
Kemudian aku segera melangkah kan kaki ku untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikun yah..." ucap ku sesampainya di depan pintu sembari melangkah kan kaki ku masuk.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Brut. Udah pulang to nduk?" tanya ayah mengulurkan tangan kanannya, kemudian aku segera meraih tangan kanan ayah untuk mencium punggung telapak tangannya.
"Udah yah." jawab ku membungkuk melepaskan sepatu yang ku kenakan.
"La si Ervi ndak mampir dulu to?" tanya ayah menatap pintu, mungkin mencari keberadaan Ervi.
"Enggak yah, katanya keburu sore jadi dia cuman nitip salan buat ayah." ucap ku.
"Oalah, ya udah kalo gitu. Terus gimana hasil muter muter ke Surabayanya hari ini? Membuahkan hasil apa ndak?" tanya ayah mengambil posisi duduk di samping ku.
"Ndak ada hasil yo nduk? Yo uwis ndak opo opo nduk... Berati belum rejikine sampean lo Brut, wes ndak usah sedih." ucap ayah mengelus rambut ku lembut.
Entah mengapa hati ku menjadi nyeri.
Bahkan di usia ku yang sudah menginjak angka delapan belas tahun ini, ayah tidak pernah sekali sajapun mengasari ku dan ayah masih memperlakukan aku seperti putri kecil ayah dulu.
__ADS_1
Hanya saja semenjak aku Sekolah Menengah Atas, kesehatan ayah menurun drastis jadi aku melarang ayah untuk berjualan martabak lagi namun kadang kala ayah masih bekerja serabutan entah di suruh tetangga untuk mengecat rumah, membersihkan pekarangan, menjadi tukang bangunan, maupun bekerja di sawah orang. Namun itu juga kalau ayah sedang tidak sakit, aku selalu tak tega jika melihat ayah bekerja sebagai tukang bangunan maupun di sawah.
"Aku dab Ervi keterima kerja yah!" ucap ku langsung memeluk laki laki berkulit sawo matang yang duduk di samping ku ini.
"Ya Allah, Ya Rob... Alhamdulillah Ya Allah." ucap ayah penuh syukur atas pekerjaan yang aku dapatkan hari ini bersama Ervi.
Ku peluk ayah erat, berat rasanya hati ku jika harus pergi menjauh dari ayah. Tapi aku ingin bisa membuat ayah hanya diam dan duduk manis saja di rumah tanpa bekerja, lalu aku sebagai putri semata wayangnya yang akan mencukupi semua kebutuhan ayah.
"Tapi gimana sama ayah? Ervi gak tega ninggalin ayah kalo pas lagi sakit." ucap ku jujur menatap ayah sendu.
Ayah tersenyum menatap ku.
"Nduk, ayah bisa jaga diri ayah baik baik. Kamu jangan pikirin ayah terus nanti kamu malah gak bisa fokus sama pekerjaan kamu, maafin ayah yo nduk karena kamu bukan terlahir dari seorang ayah yang kaya makanya kamu gak bisa kuliah kaya teman teman kamu yang lain e. Malah kamu harus kerja cari uang buat masa depan kamu sendiri." ucap ayah.
Tanpa terasa air mata ku jatuh melelah mendengar ucapan ayah.
__ADS_1
"Enggak yah... Aku emang gak pengen kuliah, dan aku bahagia kok di lahirin punya ayah seperti ayah. Aku sayang banget sama ayah, ayah jangan bicara yang aneh aneh ya!" ucap ku mengeratkan pelukan ku pada tubuh kurus ayah.